Kadarsah

Meteorologi dan Sains Atmosfer

Archive for the ‘Sains atmosfer’ Category

Tentang Sains Atmosfer

Madden-Julian Oscillation

Posted by kadarsah pada Mei 9, 2008


  • Roland Madden dan Paul Julian (1971) menemukan osilasi 30-60 hari,ketika menganalisis anomali angin zonal di Pasifik Tropis, data yang digunakan :data tekanan 10 tahun P.Canton (2.8 LS Pasifik), dan data angin di lapisan atas singapore.
  • Osilasi ini dihasilkan dari sirkulasi sell skala besar di ekuatorial yang bergerak ke timur dari laut Hindia ke Pasifik Tengah. Anomali angin zonal dan kecepatan potensial di troposfer atas yang sering menyebar untuk melakukan siklus mengitari bumi. Proses tersebut ditandai dengan perubahan tekanan permukaan dan momentum relatif angular atmosfer.MJO merupakan variasi intraseasonal (kurang dari setahun )yang terkenal di daerah tropis.
  • Osilasi ini merupakan faktor penting saat fase aktif dan fase lemah monsun India dan Australia, sehingga menyebabkan gelombang laut, arus, dan interaksi laut-udara.
  • Pergerakan awan ke arah timur diasosiasikan dengan osilasi MJO
  • Analisis spektral digunakan oleh Yanai dan Maruyama, 1966 untuk menemukan gelombang gravitasi Rossby di stratrosfer ekuatorial, Wallace dan Kousky menggunakan untuk mengidentifikasi gelombang kelvin stratosferik.
  • Osilasi MJO dapat juga dianalisis dari data rawinsonde,sehingga terlihat koherensi antara tekanan permukaan,angin zonal dan temperatur tiap pada berbagai level dalam rentang 41-53 hari.
  • Angin meridional berperan dalam MJO.
  • Awal dan aktivitas monsun Asia-Australia dipengaruhi sangat kuat oleh pergerakan MJO ke timur (Yasunari 1979; Lau and Chan 1986)
  • Kopel dengan lautan tropis dengan angin baratan mengakibatkan MJO secara signifikan dapat memodifikasi SST,surface heat fluks. (Kawamura 1991; Zhang 1996; Jones and Weare 1996; Flatau et al. 1997; Jones et al. 1998; Hendon and Glick 1997)
  • MJO mempengaruhi struktur termohalin di laut pasifik ekuatorial (Kessler.1996), dan sekaligus mentrigger peristiwa ENSO (Lau and Chan 1986; Weickmann 1991)
  • Dalam hal prediksi cuaca, saat amplitudo MJO membesar tingkat prediksi membesar dan juga berlaku sebaliknya, selain itu prediksi jangka menengah berhasil baik jika eror di daerah ektratropis (tropical intraseasonal osilasi) minimal
  • Contohnya hasil NCEP, dapat memprediksi 10 hari kedepan,dengan syarat error mode frekuensi rendah tropical dan ektratroopical mengecil dan presistensi amplitudo MJO membesar.
  • Dengan menggunakan analisis EAR (Equatorial Atmosphere Radar) secara vertikal ( zonal-vertikal, data angin) dapat menunjukan adanya pergerakan ke timur dipermukaan dan ke barat di lapisan atas dan inilah yang disebut dengan siklus MJO serta hal tersebut sesuai dengan teori skema perpotongan MJO sepanjang ekuator.
  • MJO juga memiliki siklus 40-50 hari
  • MJO mempengaruhi seluruh lapisan trofis,terlihat jelas di Pasifik Barat dan Hindia.
  • Unsur yang dilibatkan dalam menganalisi MJO dapat berupa :angin,SST,perawanan,hujan, dan OLR.
  • Fenomena MJO, terlihat jelas pada variasi OLR ( sensor inframerah satelit), sebab CH tropis adalah konvektif,dengan puncak awan konvektif sangat dingin sehingga memancarkan sedikit radiasi gelombang panjang.
  • Pergerakan awan konvektif dari barat ke timur sepanjang Pasifik Tropis ditandai konvergensi di lapisan bawah (troposfer )dan divergensi di lapisan atas(stratosfer).
  • MJO merupakan sirkulasi skala besar di ekuator dan berpusat di Samudera Hindia dan bergerak ketimur antara 10 LU dan 10 LS.
  • Mekanisme MJO:

  1. CSIK (Conditional Instability of the Second Kind)
  2. Evaporation-wind feedback

  • CSIK memiliki dua mekanisme:

  1. Penjalaran gelombang kelvin ke arah timur yang ditandai dengan pemanasan awan kumulus
  2. Interaksi dengan osilasi stabil pada keadaan dasar yang stabil

  • Aktivitas konveksi dapat mempengaruhi siklus MJO
  • Faktor orografik bisa menghambat pergerakan MJO
  • Siklus MJO ( Matthews A.J,2000) ditunjukan berupa gugus-gugus awan tumbuh di Samudera Hindia lalu bergerak ke arah timur dan membentuk suatu siklus dengan rentang 30-60 hari dan dengan cakupan daerah 10N-10S, seperti yang ditunjukan Gambar 1.

Identifikasi Osilasi MJO Dengan Menggunakan OLR

Gambar diatas menunjukan siklus MJO dengan interval selama 3 harian atau 22.5 derajat.Gambar diatas menggunakan OLR sebagai salah satu cara untuk menggambarkan perjalanan siklus MJO. Siklus MJO pada fase 0 atau t=0,konveksi tumbuh dan berkembang di Samudera Hindia dan terjadi supresi (mengalami kekeringan)di Samudera Pasifik. Kedua peristiwa ini bergerak ke timur sampai fase 180 dengan lokasi yang berkebalikan (konveksi di Samudera Pasifik dan supresi di Samudera Hindia).Kondisi ini terus bergerak ke timur dan kembali ke fase 0 ( Konveksi di Samudera Hindia dan supresi di Samudera Pasifik). Penjalaran ini memerlukan waktu 30-60 hari dengan efek basah dan kering pada daerah-daerah yang di lewatinya.

Mengidentifikasi Osilasi MJO Dengan Menggunakan Parameter SLP

·

Sama dengan Gambar 1 hanya dengan menggunakan SLP.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Posted in Meteorologi, MJO, Sains atmosfer | 11 Comments »

Hari Meteorologi Sedunia Sebuah Catatan Menyambut Bencana

Posted by kadarsah pada April 14, 2008

Oleh Paulus Agus Winarso

Baca entri selengkapnya »

Posted in Meteorologi, Sains atmosfer, Umum | Leave a Comment »

Bencana Meteorologi

Posted by kadarsah pada April 14, 2008

Bencana meteorologi merupakan bencana yang diakibatkan oleh parameter-parameter (curah hujan,kelembaban,temperatur,angin) meteorologi. Contoh bencana meteorologi adalah:

  • Kekeringan
  • Banjir
  • Badai :Badai angin,badai petir,badai es,badai salju
  • Kebakaran hutan
  • El Nino
  • La Nina
  • Longsor
  • Tornado
  • Angin puyuh,topan,angin puting beliung
  • Gelombang dingin
  • Gelombang panas
  • Angin fohn :Angin gending,angin brubu,angin bohorok,angin kumbang

Bencana tersebut dimasukan kedalam bencana meteorologi karena bencana diatas disebabkan atau dipengaruhi oleh faktor-faktor meteorologi. Yang menjadi kontraversi adalah kebakaran hutan. Kebakaran hutan yang terjadi umumnya disebabkan oleh aktivitas manusia yang sengaja membakar hutan untuk pembukaan lahan.

Dalam kajian ini, kebakaran hutan yang dimasukan ke dalam bencana meteorologi adalah kebakaran hutan yang disebabkan oleh faktor alam. Kebakaran hutan ini dapat terjadi ketika kekeringan yang sangat kuat, angin yang bertiup kencang, kelembaban rendah dan dengan adanya gesekan antara dedaunan dan semak belukar yang sangat kuat menyebabkan terjadilah kebakaran hutan.

Bencana meteorologi diatas dapat menyebabkan kerugian berupa harta,benda dan jiwa manusia. Hal yang dapat kita lakukan adalah memprediksi peristiwa bencana meteorologi tersebut dan berusaha untuk mengurangi potensi terjadinya bencana tersebut sebatas yang bisa dilakukan. Mengurangi potensi bencana meteorologi, contohnya dapat dilakukan terhadap bencana banjir, misalnya membuat sistem drainase yang baik dan pengelolaan tata lingkungan yang baik. Prediksi bencana meteorologi dilakukan untuk mempersiapkan kondisi manusia dalam menghadapinya, sehingga ketika terjadi bencana telah siap untuk menghadapinya.

Gelombang panas merupakan salah satu bencana meteorologi yang sering terjadi di daerah lintang tinggi. Bencana ini berupa hembusan angin dengan temperatur yang sangat tinggi, hal yang berkebalikan terjadi saat terjadi gelombang dingin. Dua kondisi tersebut dapat menimbulkan korban jiwa dan menimbulkan kerugian material lainnya.

Posted in Meteorologi, Natural Hazard, Sains atmosfer | Leave a Comment »

Cuaca Ekstrim

Posted by kadarsah pada April 9, 2008

Cuaca: merupakan keadaan atau fenomena fisik atmosfer di suatu tempat,pada waktu tertentu dan berskala jangka pendek.

Sehingga cuaca ekstrim merupakan keadaan atau fenomena fisik atmosfer di suatu tempat,pada waktu tertentu dan berskala jangka pendek dan bersifat ekstrim.

Beberapa peristiwa yang termasuk cuaca ekstrim:

Angin ribut/angin puyuh/puting beliung dan dikatakan termasuk cuaca ekstrim jika memiliki kecepatan > 34 knot.

Hujan lebat yang memiliki curah hujan dalam 1 hari > 50 mm.

Tinggi gelombang laut yang mencapai > 2 m

Badai tropis yang terjadi didaerah trofis dan menimbulkan kerusakan.

Tornado

Badai: Gangguan pada atmosfer suatu planet dan mempengaruhi permukaan serta menunjukkan cuaca buruk. Badai terjadi ketika pusat tekanan rendah terbentuk yang dikelilingi oleh suatu sistem bertekanan tinggi. Gaya yang terjadi memiliki sifat berlawanan dan dapat menciptakan angin serta membentuk awan badai. Badai memiliki kategori ( berdasarkan peristiwa dominan yang menyertainya):

1. Badai angin:Badai yang disertai oleh angin kencang.

2. Badai petir : Badai yang disertai oleh petir dan kilat

3. Badai es: Badai yang disertai oleh es.

4. Badai Salju : Badai yang disertai oleh salju.

5. Badai pasir : Badai yang disertai oleh pasir.

Angin Monsun: Angin monsun yang terjadi dan menyebabkan curah hujan yang sangat lebat. Hal ini menyebabkan salah satu daerah di India, perbukitan Cherrapunji menjadi daerah terbasah di dunia dengan curah hujan 12-25 m/tahun.

Kekeringan: suatu kondisi dimana diamana terjadi kesenjangan antara ketersediaan air dan air yang dibutuhkan.

Referensi:

Film Extreme Weather, Discovery Channel.

http://lwf.ncdc.noaa.gov/oa/climate/severeweather/extremes.html

http://www.extremescience.com/weatherport.htm

http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_extreme_weather_events

http://lwf.ncdc.noaa.gov/oa/climate/severeweather/rainfall.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Extreme_weather

Posted in Sains atmosfer | Komentar Dinonaktifkan pada Cuaca Ekstrim

Indonesia Menepis Tuduhan

Posted by kadarsah pada Oktober 23, 2007

Jakarta, Kompas – Indonesia menepis cap sebagai negara emitor karbon ketiga di dunia yang dilontarkan sebuah lembaga nonpemerintah Wetland International. Kelemahan-kelemahan cara penghitungan yang mendasari pendapat tersebut dibongkar Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jumat (28/9).

Dalam jumpa pers yang dibuka Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Said D Jenie dihadirkan ahli meteorologi dari Unit Teknik Modifikasi Cuaca Edvin Aldrian, Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam Jana T Anggadiredja, serta Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Mezak A Ratag.

Pernyataan bahwa Indonesia adalah emitor CO2 ketiga terbesar setelah Amerika Serikat dan China dilontarkan tahun 2006 di Nairobi, Kenya. Pernyataan Wetland International itu, urai Edvin, lemah dengan lima alasan.

Pertama, publikasi tahun 2006 oleh Wetland International berdasarkan perhitungan Page, yaitu hanya pada kebakaran lahan gambut tahun 1997—ketika itu terjadi El-Nino (yang berdampak kekeringan di Indonesia). Pada tahun-tahun selanjutnya, tahun 1998 hingga sekarang, belum ada penelitian yang komplet.

“Padahal, ada korelasi 90 persen antara titik api dan El Nino,” tegas Edvin. “Indonesia adalah korban variasi tahunan iklim regional,” tambahnya.

Alasan kedua, jika dibandingkan dengan laporan tentang kebakaran tahun 1997 yang dilakukan Duncan, Levine, Heil, Langmann, dan (Edvin) Aldrian, angka hasil penelitian Page—yang digunakan Wetland—lebih tinggi. “Angka maksimum penelitian Wetland 13 kali lipat angka minimum sehingga rata-ratanya terlalu banyak biasnya,” ujarnya.

Yang ketiga, lanjut Edvin yang ditegaskan lagi oleh Mezak, estimasi ini hanya memasukkan faktor kebakaran hutan tanpa memasukkan daya serap karbon oleh hutan saat tidak terjadi kebakaran. Asumsi yang diambil juga mengandaikan seluruh hasil pembakaran berupa CO>sub<2>res<>res<.

Mezak menambahkan, dari data satelit Pusat Satelit Antariksa Eropa (ESA), kondisi kebakaran terparah Indonesia tahun 1997 dan 2006 ternyata tidak lebih parah dari kebakaran di Brasilia dan Benua Afrika.

Sementara alasan kelima, tambah Mezak, dari pengamatan konsentrasi CO>sub<2>res<>res< di stasiun meteorologi di Koto Tabang, Bukit Tinggi—stasiun standar resmi Organisasi Meteorologi Dunia (WMO)—konsentrasinya lebih rendah dari Mauna Loa, Hawaii. Kondisi yang sama terjadi pada penelitian empat tahun terakhir—tahun 2006 terjadi kebakaran hutan yang hebat.

“Yang pasti, jika dibandingkan dengan Amerika tidak bisa karena Indonesia tidak dihitung faktor penyerapan CO>sub<2>res<>res<-nya, sedangkan Amerika itu dihitung,” ujar Mezak.

Jana menambahkan, penyerapan karbon selain oleh hutan juga lautan. Persoalannya, penyerapan karbon oleh lautan tidak masuk dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC).

Inventarisasi

Sementara itu, Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) selaku National Focal- Point masalah perubahan iklim di Indonesia akan membentuk institusi untuk menangani inventarisasi data gas rumah kaca (GRK). Demikian dikatakan Dadang Hilman, Kepala Bidang Perubahan Iklim KLH, pada acara yang digelar BPPT tersebut.

Menurut dia, pembentukan lembaga ini penting karena selama ini perhitungan emisi GRK, terutama CO>sub<2>res<>res<, baru dilakukan di sektor kehutanan, belum di sektor lain. “Perhitungannya masih terpisah-terpisah,” ujarnya.

Mengetahui rencana itu, Idwan Suhardi, Deputi Pemberdayaan dan Pemasyarakatan Iptek Kementerian Negara Riset dan Teknologi, mengharapkan KLH hendaknya melibatkan institusi riset yang memiliki fasilitas pemantauan memadai.

Saat ini pemantauan atmosfer dan lapisan udara atas di Indonesia dilakukan BPPT, BMG, serta Lapan (Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional) untuk berbagai parameter. Pembentukan institusi dimulai tahun ini dengan pertemuan informal antarinstansi terkait. Inventori CO2 diharapkan selesai dua tahun. (YUN/ISW)

Sumber:http://www.kompas.com/kompas-cetak/0709/29/humaniora/3882545.htm

Posted in Berita, Global Climate Change, Meteorologi, Natural Hazard, Sains atmosfer | Leave a Comment »

Indonesia emiter karbon ketiga?

Posted by kadarsah pada Oktober 23, 2007

Oleh Dr. Edvin Aldrian
(Peneliti Madya Meteorologi UPTHB – BPPT dan Dosen Pasca Meteorologi Laut Universitas Indonesia)

peneliti UPTHB – BPP Teknologi, phone 316 8828, email: edvin[at]webmail.bppt.go.id

Laporan penelitian LSM Wetland International dan Delft Hydraulics pada awal November 2006 menempatkan Indonesia sebagai negara penghasil emisi CO2 ketiga dunia setelah Amerika Serikat dan China. Stigma buruk tersebut dirujuk oleh LSM lainnya dengan tanpa adanya kajian dan tanggapan yang memadai. Bahkan dalam rangka mensukseskan peran sebagai tuan rumah konferensi perubahan iklim (COP13) bulan Desember di Bali, Presiden SBY telah mengumpulkan 8 gubernur yang langganan kebakaran hutan agar waspada dan merencanakan membentuk Forestry Eight (Kompas, 1 September 2007).

Sebelum menunjukkan kepanikan kita akan berita yang mendiskreditkan tersebut, ada baiknya kita menyimak dan mengkaji estimasi yang dikeluarkan oleh Wetland International (WI). Menurut WI, akibat kebakaran hutan tahun 1997, 1998 dan 2002 yang menghabiskan lahan hutan antara 1.5 dan 2.2 juta hektar, telah diemisikan CO2 sebesar 3000 hingga 9400 Mton (setara 818 hingga 2563 Mton karbon, dengan asumsi seluruh karbon adalah bagian dari CO2 hasil pembakaran). Nilai emisi tersebut setara antara 13 hingga 40% emisi dunia. Pada bagian lain laporan WI disebutkan bahwa nilai emisi karbon Indonesia dari kawasan gambut adalah 600 Mton akibat oksidasi karena pengeringan lahan dan 1400 Mton CO2 (setara 381 Mton karbon) akibat kebakaran lahan. Dari manakah asumsi angka tersebut?

Perhitungan emisi karbon akibat kebakaran hutan dilakukan dengan mengacu pada beberapa asumsi dasar yaitu jenis lahan, daya bakar lahan, kedalaman lahan bakar (terutama bagi lahan gambut), faktor emisi dan kalibrasi sebaran bakar. Beberapa peneliti mencoba menghitung nilai emisi dari kebakaran hutan tahun 1997 yang merupakan terparah sepanjang sejarah. Page dkk (2002) memperkirakan antara 810 hingga 2563 Mton karbon, sementara Duncan (2003) melaporkan 700 Mton karbon, Levine (1999) mengestimasi 245 Mton karbon dan Heil, Langmann dan Aldrian (2007) melaporkan 1098 Mton karbon. Walhasil angka yang dikeluarkan WI berasal dari estimasi Page dkk (2002) yang memiliki tingkat ketidak percayaan tinggi (rentang nilai yang lebar). Estimasi tinggi dari Page dkk tersebut juga diragukan oleh peneliti diatas lainnya.

Hingga saat ini hanya estimasi dari kebakaran hutan tahun 1997 yang selalu dirujuk dan belum ada publikasi komprehensif untuk kebakaran tahun sesudahnya. Akan tetapi estimasi emisi karbon antara tahun 1998 hingga sekarang dapat dilakukan dengan mengacu pada asumsi yang sama dengan variasi dari jumlah titik api (hotspot) dan satuan jenis lahan (apakah lahan gambut atau bukan). Laporan titik api hasil pemantauan dari satelit NOAA 14 dan 18 dapat diperoleh untuk melakukan kalkulasi emisi tersebut. Hasil estimasi emisi karbon Indonesia akibat kebakaran hutan sepuluh tahun terakhir terlihat pada Tabel 1. Terlihat bahwa nilai emisi tertinggi mencapai 13 kali lipat dari nilai terendah.

Hal yang menarik untuk diperhatikan adalah bahwa variasi titik api bulanan sangat dipengaruhi oleh variasi iklim. Hasil korelasi jumlah titik api paruh kedua tahunan (antara Juli hingga Desember) di pulau Sumatera dan Kalimantan dengan indeks iklim di samudra Pasifik (indeks fenomena El Nino) menunjukkan tingkat korelasi sangat tinggi yaitu diatas 90% (perhatikan Gambar 1). Hal ini membuktikan kuatnya peran iklim dalam mendorong kasus kebakaran, meski disadari bahwa sebagian besar pelaku kebakaran adalah akibat aktivitas manusia. Sehingga dapat dipastikan Indonesia sebagai korban variasi tahunan iklim regional yang nyata.

jul-dec-hotspot.jpg

Gambar 1. Variasi tahunan titik api pulau Kalimantan dan Sumatera dihubungkan dengan indeks El Nino (anomali NINO3 SST)

Data untuk Gambar 1

datagambarsatu.jpg

Hasil estimasi emisi karbon serta hubungan kebakaran hutan tahunan dan iklim membawa beberapa implikasi berikut. Besar kecilnya angka titik api kebakaran hutan tahunan menunjukkan rentannya posisi Indonesia terhadap situasi iklim regional. Hal serupa juga dialami oleh Yunani pada musim panas tahun ini atau Amerika Serikat serta Spanyol yang mengalami kebakaran hutan pada saat musim yang sangat panas dan kering. Dalam posisi ini Indonesia dapat mengajukan dana adaptasi akibat perubahan iklim dan bukan sebagai “hanya” penghasil emisi. Nilai yang dipublikasi oleh WI sebagai dasar Indonesia rangking tiga besar dunia memakai porsi lahan gambut dari seluruh lahan terbakar yaitu sekitar 1400 Mton CO2 (setara dengan 381 Mton karbon). Nilai ini sendiri apabila dibandingkan dengan fluktuasi nilai emisi tahunan dari seluruh lahan terbakar (Tabel 1) menunjukkan angka yang terlalu tinggi terutama pada tahun-tahun non El Nino yaitu 1998, 1999, 2000, 2001, 2003, 2005 dan 2007 (proyeksi). Pada tahun-tahun tersebut dapat dipastikan bahwa emisi karbon Indonesia tidak menempati rangking tiga dunia.

Table 1. Estimasi emisi karbon akibat kebakaran hutan sejak 1997. Perhitungan 2007 memakai data hingga bulan September.

emisi-karbon1.jpg

Dengan demikian nilai tengah yang mereka pakai untuk menobatkan Indonesia di posisi ketiga kurang sesuai, apalagi mengingat rasio emisi tahunan tertinggi dan terendah yang sangat tajam (13 kali lipat). Hal lain yang perlu diingat adalah estimasi ini semua hanya memasukkan faktor kebakaran hutan tanpa memasukkan nilai daya serap hutan disaat tidak terjadi kebakaran. Dalam perhitungan emisi karbon global beberapa negara sudah memasukkan unsur daya serap hutan mereka, sedangkan untuk hutan Indonesia hal ini belum dilakukan karena belum ada kesepahaman metoda. Kesalahan terakhir adalah asumsi bahwa seluruh hasil pembakaran berbentuk CO2 bukan senyawa karbon lainnya. Nyatalah, bahwa kita harus selalu waspada akan berbagai upaya yang mencoba mendiskreditkan posisi Indonesia dalam post Kyoto Protokol, perdagangan emisi global dan upaya pemerintah untuk mengurangi dampak kebakaran hutan. Apalagi Indonesia sedang dalam proses ratifikasi UU ASEAN Transboundary Haze. Posisi estimasi emisi karbon ini perlu diangkat dalam negosiasi karbon global serta memposisikan kepentingan rehabilitasi dan pelestarian lahan gambut yang kita miliki.

Posted in Global Climate Change, Klimatologi, Meteorologi, Model Meteorologi, Natural Hazard, Sains atmosfer | 1 Comment »

Kondisi Ozon di Indonesia Masih Normal dan Aman

Posted by kadarsah pada September 16, 2007

Dr. Ninong, ”Lebih Baik Dibandingkan Tahun Lalu”BANDUNG, (PR).-
Kondisi ozon di Indonesia dinilai masih dalam batas normal dan aman. Meski begitu, masyarakat perlu mewaspadai penggunaan bahan perusak ozon (terutama CFC). Sebab penggunaan bahan perusak ozon yang tidak terkendali memungkinkan terjadinya lubang ozon di Indonesia.

Peneliti Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Bandung, Dr. Ninong Komala mengatakan, saat ini konsentrasi ozon di Indonesia berkisar antara 240-270 dobson unit (DU). Sementara di Bandung berkisar antara 255-258 DU. ”Kondisi ini masih relatif aman, karena batas minimal konsentrasi ozon yakni 150 DU,” kata Ninong, Minggu (16/9).

Kendati demikian, rata-rata konsentrasi ozon ini sangat fluktuatif. Kondisi terparah terjadi tahun 2006 karena banyaknya kasus kebakaran hutan. ”Sekarang sedikit lebih baik dibandingkan tahun lalu,” tambahnya.

Dikatakan Ninong, ozon terdapat di dua lapisan yakni statosfer dan troposfer yang fungsinya cenderung kontradiktif. Saat ini, kecenderungannya, lapisan yang ada di statosfer menurun sehingga sinar ultra violet pun semakin banyak mengenai kulit manusia. Sementara, lapisan ozon yang ada di troposfer cenderung meningkat seiring dengan peningkatan polusi udara.

Sejumlah kejadian alam, diakui Ninong dapat menyebabkan menipisnya lapisan ozon. Namun, gas yang dibawa peristiwa alam ini tidak akan sampai menembus lapisan statosfer (ozon) karena sifatnya yang mampu bereaksi dengan air. Sementara, CFC yang merupakan buatan manusia cenderung bersifat stabil dan tidak mampu bereraksi dengan air di udara, sehingga dapat menipiskan lapisan ozon.

Katarak meningkat

Menurut Ninong, 10 persen penipisan ozon akan memicu peningkatan radiasi ultraviolet sebesar 20 persen. ”Jadi kewaspadaan itu penting sebab bisa jadi bukan lapisan ozon di wilayah Indonesia yang tipis, tetapi efeknya mencapai ke negara kita,” katanya. Ia menjelaskan, sejumlah gejala yang menandakan lapisan ozon semakin menipis, antara lain semakin meningkatnya kasus katarak, serta kanker kulit.

Diakui Ninong, CFC serta beberapa bahan sejenis memang menguntungkan manusia. Namun, tidak aman bagi lapisan ozon. Secara internasional, saat ini tengah diuji bahan alternatif yang mempunyai daya rusak lebih rendah dibandingkan CFC.

Menipisnya lapisan ozon dan peristiwa pemanasan global, kata Ninong merupakan dua hal yang sangat berkaitan. Namun begitu, menipisnya lapisan ozon hanya salah satu penyebab kecil pemanasan global. Artinya, kondisi kota yang semakin panas belum tentu disebabkan oleh menipisnya lapisan ozon, melainkan banyaknya polusi udara oleh gas CO2. ”Penyebab utama pemanasan global itu gas CO2, uap air, gas metana, baru lapisan ozon yang tipis,” ujarnya. Oleh karena itu, kondisi kota yang semakin panas belum bisa diindikasikan sebagai salah satu gejala menipisnya lapisan ozon.

Dalam rangka peringatan hari ozon tahun 2007 ini, Lapan pun mengampanyekan kepedulian terhadap lapisan ozon melalui Lomba Poster untuk pelajar SMA. Tiga karya yang dinilai sebagai pemenang akan dikirimkan ke UNEP (organisasi lingkungan dunia) sebagai bentuk peran serta Indonesia mengampanyekan peduli lapisan ozon. (A-155)***

Sumber:http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/092007/17/0205.htm

Posted in Berita, Meteorologi, Natural Hazard, Sains atmosfer, Umum | 2 Comments »

Simulasi Asap Kebakaran Hutan 1996-1998

Posted by kadarsah pada Agustus 31, 2007

Berikut merupakan hasil simulasi asap kebakaran hutan yang di bagi masing-masing:

  • Simulasi asap kebakaran hutan selama Juli-Desember 1996
  • Simulasi asap kebakaran hutan selama Juli-Desember 1997
  • Simulasi asap kebakaran hutan selama Juli-Desember 1998

Alasan pemilihan ketiga tahun adalah untuk mewakili kondisi normal (1996), El Nino ( 1997) dan La Nina (1998).

Tujuan simulasi ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pengaruh parameter meteorologi bagai penyebaran asap kebakaran hutan. Acuan standar adalah tahun 1997, ketiga simulasi dikondisikan sama dengan perbedaan terletak hanya pada kondisi meteorologis.

1000m.png

Gambar.1 Rata-rata bulanan penyebaran asap kebakaran hutan pada level 1000 mb

850m.png

Gambar.2 Rata-rata bulanan penyebaran asap kebakaran hutan pada level 850 mb

750m.png

Gambar.3 Rata-rata bulanan penyebaran asap kebakaran hutan pada level 750 mb

500m.png

Gambar.4 Rata-rata bulanan penyebaran asap kebakaran hutan pada level 500 mb

Dari keempat gambar terlihat bahwa semakin tinggi tingkat penyebaran asap semakin lemah, selama ketiga simulasi, penyebaran yang paling kuat terjadi saat El Nino dan maksimum saat bulan September.

Posted in Meteorologi, Model Meteorologi, Sains atmosfer | 17 Comments »

Garis Wallace, Weber dan Lydekker

Posted by kadarsah pada Juli 2, 2007

Garis Wallace adalah sebuah sempadan hipotetis yang memisahkan wilayah geografi hewan Asia dan Australasia. Bagian barat dari garis ini berhubungan dengan spesies Asia; di timur kebanyakan berhubungan dengan spesies Australia. Garis ini dinamakan atas Alfred Russel Wallace, yang menyadari perbedaan yang jelas pada saat dia berkunjung ke Hindia Timur pada abad ke-19. Garis ini melalui Kepulauan Melayu, antara Borneo dan Sulawesi; dan antara Bali (di barat) dan Lombok (di timur). Adanya garis ini juga tercatat oleh Antonio Pigafetta tentang perbedaan biologis antara Filipina dan Kepulauan Maluku, tercatat dalam perjalanan Ferdinand Magellan pada 1521. Garis ini lalu diperbaiki dan digeser ke Timur (daratan pulau Sulawesi) oleh Weber. Batas penyebaran flora dan fauna Asia lalu ditentukan secara berbeda-beda, berdasarkan tipe-tipe flora dan fauna. Garis ini lalu dinamakan “Wallace-Weber”. ( id.wikipedia).

Gambar-gambar berikut di ambil dari: http://www.starfish.ch/tauchen/Indonesien.html

wallaceline.gif

Gambar Paparan Sunda:

wallacea-migration.gif

Gambar troughflow Indonesia:

throughflow.gif

Posted in Sains atmosfer | 76 Comments »

Pengukuran Data Meteorologi di Indonesia

Posted by kadarsah pada Juli 1, 2007

Pengukuran-pengukuran ini dilakukan oleh BMG, dan sebagian besar tulisan ini berasal dari situs BMG.

Ozon Permukaan

Ozon di lapisan troposfer merupakan salah satu gas rumah kaca yang potensial berubah karena kegiatan manusia. Ozon dihasilkan melalui reaksi radiasi matahari pada gas-gas seperti nitrogen oksida (NO 2 ) dan gas hidro karbon. Semenjak kegiatan manusia yang menghasilkan gas rumah kaca meningkat, maka pengukuran ozon permukaan ini sangat penting untuk dilakukan agar dapat diketahui tingkat konsentrasi unsur di atmosfer.

Pengukuran ozon permukaan dilakukan dengan mempergunakan alat yang dinamakan Ozone Analyzer. Di Stasiun GAW Bukit Kototabang pengukuran ozon ini dimulai sejak September 1996 dengan mempergunakan alat buatan Tenco Inst.

Nilai ambang batas untuk lapisan ozon permukaan adalah 100 ppb (0.1 ppm).

SO2 dan NO2

Peramatan SO 2 dan NO 2 dilakukan dengan mempergunakan alat yang dinamakan Passive Gas Sampler. Di Stasiun GAW alat ini mulai dipasang pada bulan Nopember 1995 dengan periode peramatan dilakukan mingguan.

Konsentrasi SO 2 dan NO 2 yang teramati di Jakarta dan Stasiun GAW Bukit Kototabang menunjukkan perbedaan yang relatif cukup besar. Rata-rata konsentrasi SO2 selama lima tahun terakhir ( 1995-1999) di Jakarta adalah 8.5 ppbv sedangkan di Stasiun GAW sebesar 3.7 ppbv. Besarnya kandungan unsur SO 2 di udara Jakarta menunjukkan bahwa udara di wilayah Jakarta telah terpolusi. Walaupun nilai konsentrasi SO 2 di Jakarta berada pada level di bawah nilai ambang batas yang berlaku, kondisi ini perlu mendapatkan perhatian mengingat adanya kecenderungan peningkatan konsentrasi SO 2 di Jakarta. Rata-rata konsentrasi NO 2 di Jakarta di Jakarta sebesar 45 ppbv sedangkan di Stasiun GAW Bukit Kototabang adalah 6.4 ppbv.

Nilai Ambang Batas untuk SO 2 adalah 0.01 ppm dan Nilai Ambang Batas untuk NO 2 adalah 0.05 ppm

SPM

Suspended Particulate Matter (SPM) merupakan partikel debu yang mengambang di udara. Pemantauan SPM yang dilakukan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) meliputi 37 (tigapuluh tujuh) stasiun tersebar di seluruh Indonesia. Dari 37 stasiun tersebut terdiri dari 1 (satu) stasiun yang merupakan jaringan stasiun global disebut dengan Global Atmosphere Wacth (GAW Station) berlokasi di Bukit Kototabang – Sumatera Barat, 31 (tiga puluh stasiun) merupakan jaringan stasiun regional disebut dengan Background Air Pollution Monitoring Network (BAPMoN-Stasions), 5 (lima) stasiun merupakan jaringan stasiun lokal/perkotaan yang terletak di wilayah DKI Jakarta, yaitu Glodok, Bandengan, Ancol, Taman Monumen Nasional (Monas) dan BMG Pusat.

Pemantauan terhadap Suspended Particulate Matter (SPM) cenderung mengalami kenaikan, namun demikian konsentrasinya masih di bawah ambang batas nasional (230 µgram/m 3 udara 24 jam), kecuali untuk beberapa kota besar dan kota-kota yang terkena gangguan asap akibat kebakaran hutan.

Kualitas Air Hujan

Pengukuran Kualitas Air Hujan bertujuan untuk mengetahui tingkat konsentrasi unsur-unsur kimia yang terlarut dalam air hujan, termasuk derajad keasamannya (pH). Sejak tahun 1976 sampai tahun 1980-an, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) telah melakukan pengukuran kualitas air hujan di Indonesia, dengan memasang 5 (lima) alat sampling di Indonesia yaitu di Jakarta, Manado, Medan, Cisarua-Bogor, dan Palembang. Program ini bagian dari “Background Air Pollution Monitoring Network” (BAPMoN) yang merupakan salah satu program World Meteorological Organization (WMO). Sejak tahun 1993, alat dan lokasi sampling bertambah 22 (duapuluh dua) buah, sehingga saat ini BMG mempunyai 27 (duapuluh tujuh) stasiun pemantauan kualitas air hujan tersebar diseluruh Indonesia.

Batas nilai rata-rata pH air hujan adalah 5.6, merupakan nilai yang dianggap normal atau hujan alami seperti yang telah disepakati secara internasional oleh badan dunia WMO. Apabila pH air hujan lebih rendah dari 5.6 maka hujan bersifat asam, atau sering disebut dengan hujan asam dan apabila pH air hujan lebih besar 5.6 maka hujan bersifat basa. Dampak hujan yang bersifat asam dapat mengikis bangunan/gedung atau bersifat korosif terhadap bahan bangunan, merusak kehidupan biota di danau-danau, dan aliran sungai.

Pengambilan sampel (sampling), dilakukan sekali seminggu, selanjutnya sampel tersebut dikirim ke Laboratorium Kualitas Udara Badan Meteorologi dan Geofisika, di Jakarta, untuk dianalisis lebih lanjut. Parameter yang dihasilkan meliputi tingkat keasaman (pH), dayahantar listrik (conductivity), konsentrasi kation meliputi Magnesium (Mg), Kalsium (Ca), Amonium (NH 4 ), Natrium (Na) dan Kalium (K), serta konsentrasi Anion meliputi Sulphat (SO 4 ), Nitrat (NO 3 ), dan Klorida (Cl).

Tahun 1997, dikenal sebagai tahun El-Nino yang berdampak musim kemarau panjang dan kering di Indonesia. Prosentase hujan yang jatuh di Indonesia selama tahun 1997 hanya 55 % (limapuluh lima perseratus) dari normalnya. Penurunan cukup tajam pada bulan Juni sampai dengan bulan Nopember. Kekeringan yang cukup intensif tersebut telah menyebabkan meluasnya kebakaran hutan dibeberapa wilayah, khususnya di Sumatera, Kalimantan dan Irian Jaya. Kondisi iklim yang kering ditambah dengan kebakaran hutan yang hebat menyebabkan meningkatnya kadar polutan baik gas maupun debu di atmosfer. Sebagai akibatnya, kualitas air hujan menurun. Hal ini disebabkan oleh banyaknya polutan gas maupun debu yang terlarut dalam air hujan tersebut.

Penurunan kualitas air hujan tersebut tercermin dari menurunnya nilai rata-rata pH jika dibandingkan dengan nilai rata-rata pada tahun 1996. Pada tahun 1996 nilai rata-rata pH di Indonesia 5.46, sedangkan pada tahun 1997 nilai rata-rata pH 4.97, suatu penurunan yang cukup berarti.

Selama tahun 1997, daerah-daerah dengan nilai rata-rata pH dibawah 5.6 meliputi Medan, Pakanbaru, Jambi, Bengkulu, Palembang, Jakarta, Cisarua-Bogor, Bandung, Mataram, Pontianak, Palangkaraya, Banjarbaru, Winangun-Manado, Sam Ratulangi-Manado, Makasar, Palu dan Jayapura. Nilai rata-rata pH terendah terjadi di Winangun-Manado sebesar 4.55, dan Palangkaraya sebesar 4.61. Pada tahun 1996 nilai pH rata-rata pH air hujan di bawah 5.6 hanya terjadi di Winangun-Manado sebesar 4.98.

Berikut jenis sampel dan metoda yang digunakan oleh BMG dan beberapa badan meteorologi lainnya.

analisis-meteorologi.gif

Posted in Sains atmosfer | 6 Comments »