Kadarsah

Meteorologi dan Sains Atmosfer

Archive for the ‘Natural Hazard’ Category

Awan Gempa Mitos atau Ilmiah

Posted by kadarsah pada Maret 2, 2009

Awan gempa sampai saat ini masih menjadi perdebatan yang sangat sengit. Tetapi alangkah lebih baiknya untuk terus mengamati fenomena-fenomena tersebut dan mengumpulkan sebanyak mungkin sehingga fenomenanya bisa dijelaskan secara ilmiah, memang hal tersebut perlu waktu tetapi ilmu pengetahun emmang memerlukan waktu.

Berikut merupakan kemungkinan-kemungkinan yang masih harus diteliti lebih lanjut tentang awan gempa.

Ciri-ciri:

  • Munculnya secara tiba-tiba.
  • Muncul dari suatu titik tertentu yang posisinya tetap.
  • Bentuknya tidak biasa jika dibandingkan dengan awan hasil proses kondensasi(sirus, stratus, dan cumulus).

Peristiwa yang kemungkinan disebut awan gempa:

  • China muncul awan gempa pada 25 Oktober tahun 1622 terjadi gempa besar berkekuatan 7 SR di Guyuan, Provinsi Ningxia, China barat.
  • Pada 1978, yaitu sehari sebelum gempa Kanto di Jepang, Walikota Kyoto Kagida melihat awan aneh yang kemudian disebut awan Kagida dan dia memperkirakan sumber gempa di titik paling tengah awan gempa, tetapi setelah beberapa tahun ( 1985) dia menduga sumber gempa berada di titik awal mula terjadinya pembentukan awan.
  • 17 Januari 1994 muncul awan seperti asap roket di sekitar Northride, Amerika Serikat (AS). Sehari kemudian terjadi gempa.
  • 13 Februari 1994 muncul awan berbentuk gelombang di Northride, AS, dan 20 Maret 1994 terjadi gempa besar.
  • 31 Agustus 1994 awan berbentuk bulu ayam di Northern, California, AS. Sehari kemudian, yakni pada 1 September 1994 terjadi gempa di daerah setempat.
  • Awan gempa di Jepang tahun 1995, yang kemudian terjadi gempa bumi.
  • Awan seperti sinar terjadi di kawasan Joshua Tree, AS pada 22 Juli 1996, dan 23 hari kemudian terjadi gempa.
  • 20 Desember 2003 di langit sekitar Bam, Iran, muncul awan memanjang,empat hari kemudian terjadi gempa berkekuatan 6,8 SR.
  • 12 Juli 2006 sebagian masyarakat di Yogyakarta melihat awan putih memanjang di langit di atas kota. Lima hari kemudian Pangandaran, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, diguncang gempa dan tsunami. Banyak korban manusia akibat bencana itu.
  • Tiga hari sebelum gempa besar mengguncang wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Kabupaten Klaten (Jawa Tengah) 27 Mei 2006, masyarakat sekitarnya melihat gejala alam yang aneh berupa awan yang berbentuk aneh.

Umumnya, awan-awan aneh tersebut selalu muncul sebelum terjadi gempa berkekuatan di atas 5,5 SR dengan rentang waktu 1-100 hari.

Proses terbentuknya ada beberapa kemungkinan:

  • Anomali perubahan medan magnet,saat aktivitas di dalam kerak bumi meningkat akibat kenaikan temperatur, muatan listrik terpolarisasi, sehingga meningkatkan konduktivitas listrik dan medan magnet, yang kemudian menyebabkan terjadi perubahan medan magnet bumi.Perubahan ini yang menarik awan ke arah bumi.
  • Gesekan di sumber gempa (episentrum) yang menghasilkan rekahan di dalam bumi serta menimbulkan panas dan panas yang mendidihkan air tanah sehingga menguap. Akibat temperatur dan tekanan sangat tinggi, uap air tersebut keluar melalui celah-celah rekahan ke permukaan bumi jika kondisinya memungkinkan uap air itu akan bertemu dengan udara dingin dan terbentuklah awan.

Posted in Awan, Meteorologi, Natural Hazard | 3 Comments »

Pengaruh Badai Khalmaedi Bagi Perairan Indonesia

Posted by kadarsah pada Juli 16, 2008

Badai Khalmaedi, seperti yang di beritakan oleh berbagai media (Rabu,16 Juli 2008 ) terdeteksi di selatan Taiwan. Kemunculan badai tersebut tidak akan berpengaruh bagi perairan di Indonesia. Badai yang terjadi dilaut bisa mendorong terjadinya gelombang yang tinggi dan menyebabkan hambatan bagi transportasi laut.

Badai memiliki siklus hidup dari yang beberapa menit sampai beberapa hari bahkan minggu, untuk Badai Khalmaedi memerlukan waktu 2 hari untuk mencapai daratan Taiwan. Siklus hidup badai ini akan berakhir pada tanggal 21 Juli 2008 atau memiliki siklus hidup selama enam hari ( sejak kemunculan tanggal 16 Juli 2008 di selatan Taiwan).

Akibat jalur yang dilalui oleh badai ini tidak melalui Indonesia maka perairan Indonesia aman dari pengaruh Badai Khalmaedi, tetapi untuk pelayaran yang melintasi selatan Taiwan akan mengalami hambatan yang sangat kuat mengingat tinggi gelombang bisa mencapai 8 meter. Hal ini bisa dibandingkan dengan informasi yang di rilis BMG, bahwa tinggi gelombang di Laut Jawa sekitar 3,5 meter, sedangkan di selatan Jawa atau di Samudera Hindia, tinggi gelombang mencapai empat meter.

Posted in Natural Hazard | Leave a Comment »

Skenario Iklim Untuk Penyebaran Asap Kebakaran Hutan

Posted by kadarsah pada Mei 28, 2008

Penyebaran asap kebakaran di Indonesia merupakan masalah yang sangat serius untuk di kaji dan sekaligus dicari solusi yang tepat untuk mengantisipasinya. Hal ini disebabkan kerugian yang diderita akibat asap kebakaran hutan. Solusi yang ditawarkan salah satunya adalah melakukan pemodelan penyebaran asap kebakaran hutan dengan melakukan skenario iklim . Skenario iklim yang dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai aspek fisis yang mempengaruhi penyebaran asap kebakaran hutan khususnya dari segi meteorologi dan sains atmosfer. Hasilnya berupa landasan ilmiah yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan atau kebijakan .

Landasan ilmiah yang diperlukan berasal dari model iklim yang digunakan. Hal lain yang perlu disadari mengapa model iklim diperlukan adalah bahwa kita tidak dapat melakukan eksperimen dengan alam. Berbegai fenomena alam yang bersifat ekstrim seperti gejala El Nino dan kebakaran hutan dapat disimulasikan dalam sebuah model tanpa merusak alam itu sendiri. Terkadang kita membutuhkan pengetahuan yang komprehensif apa yang dapat terjadi apabila sebuah skenario gejala ekstrim terjadi. Hal tersebut tidak mungkin kita lakukan dialam terbuka tanpa membawa konsekuensi yang membahayakan, tetapi dapat dilakukan dengan melakukan simulasi dalam sebuah model iklim.

Kelebihan utama model adalah dapat memberikan solusi secara komprehensif dan memberikan visual yang lebih baik untuk hubungan beberapa parameter yang ada. Kekurangan dari model biasanya terletak dari resolusi temporal dan spasial. Kemampuan model mensimulasikan fenomena iklim dan cuaca akan meningkat pada fenomena berskala spasial dan temporal yang sesuai dengan kemampuan model.

Semakin tingginya kompleksitas model iklim sebenarnya memberikan bahaya tersendiri pada interpretasi hasil karena kompleksitas berarti semakin banyak faktor turunan kesalahan dari asumsi teori yang dipakai. Pemakaian model yang kompleks lebih kepada penggunaan sebagai modeling yaitu pemakaian model sebagai alat untuk mengerti proses komprehensif di belakang dari parameter yang diinginkan. Diperlukan proses panjang agar dapat diambil umpan balik dari proses tersebut untuk memperbaiki model yang dipakai. Sehingga lebih sering hasil model hanya dipakai untuk verifikasi data lapangan daripada dipakai untuk prediksi proses proses kompleks. Pemakaian model untuk prediksi lebih banyak untuk model atmosfir.

Pemakaian model untuk verifikasi ini sering dipakai sebagai media kontrol untuk eksperimen berbagai skenario ilmiah. Pemakaian model untuk jenis ini jelas berbahaya karena hasil yang didapat sering mengabaikan proses kompleks yang terjadi di alam dan seringkali menyederhanakannya dengan melihat perbedaan antara hasil model kontrol dan model skenario belaka. Walau demikian model adalah satu satunya alat eksperimen yang paling murah dan aman bagi lingkungan dan mudah dilakukan.

Gambar dibawah merupakan skenario model yang diterapkan untuk simulasi asap kebakaran hutan yang di bagi masing-masing:

  • Skenario model untuk kondisi normal disimulasikan dari Juli-Desember 1996 (PM10 1996 )
  • Skenario model untuk kondisi EL Ninol disimulasikan dari Juli-Desember 1997 (PM10 1997 )
  • Skenario model untuk kondisi La Nina disimulasikan dari Juli-Desember 1998 (PM10 1998 )

Tujuan pembagian skenario model ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pengaruh meteorologi terhadap penyebaran asap kebakaran hutan . Acuan standar adalah tahun 1997( dengan data emisi kebakaran yang sama) , ketiga simulasi dikondisikan sama dengan perbedaan terletak hanya pada kondisi meteorologis (pada tahun masing-masing). Untuk lebih memperjelas penyebaran asap kebakaran hutan pada tiap ketinggian maka hasilnya di bagi menjadi empat ketinggian dalam milibar (1000 mb,850 mb,750 mb dan 500mb). Terlihat bahwa konsentrasi dan luas penyebaran asap menurun sesuai dengan ketinggian atau menurunnya tekanan. Terlihat pula bahwa luas penyebaran asap kebakaran hutan maksimum terjadi pada bulan September 1997.

Skenario Model untuk penyebaran asap kebakaran hutan 1996-1998

Skenario model lain adalah dengan melakukan input data lahan gambut yang berbeda seperti gambar di bawah. Skenario model yang digunakan dibagi menjadi:

  • Skenario model untuk kondisi EL Nino disimulasikan dari Juli-Desember 1997 ( disebut EXP_REF) dengan data input kondisi meteorologi ECMWF tahun 1997, menggunakan estimasi medium data emisi PM10 dari kebakaran permukaan lahan dan gambut.
  • Skenario model untuk kondisi El Nino disimulasikan dari Juli-Desember 1997 , kondisi lainnya sama dengan EXP_REF kecuali tidak memasukan kebakaran gambut sebagai input model ( disebut EXP_NOPEAT)
  • Skenario model untuk kondisi normal disimulasikan dari Juli-Desember 1996 (disebut EXP_MET96), kondisi lainnya sama dengan EXP_REF kecuali data input kondisi meteorologi ECMWF tahun 1996

Skenario model  iklim untuk kebakarah hutan

Dari gambar diatas terlihat bahwa pengaruh gambut sangat penting terhadap konsentrasi asap kebakaran hutan, hal ini terbukti jika input kebakaran lahan gambut dihilangkan maka konsentrasi asap kebakaran hutan ( atau PM10) berkurang drastis, sedangkan kondisi meteorologi tahun 1997 merupakan kondisi yang cocok untuk memperluas penyebaran asap kebakaran hutan dibanding kondisi meteorologi tahun 1996. Dan seperti kita ketahui bahwa kondisi meteorologi tahun 1997 merupakan tahun El Nino sedangkan tahun 1996 merupakan tahun normal.

Selain itu. simulasi yang dilakukan dapat menggunakan forecast mode atau climate mode. Perbedaan utama keduanya adalah bahwa forecast mode tidak sensitif bagi proses fisik sehingga sangat sesuai untuk mempelajari transfor kimia. Sedangkan climate mode sangat sensitif bagi proses fisik sehingga sangat sesuai untuk mempelajari fluks laut-atmosfer.

Skenario model lain adalah mengetahui pengaruh fluks laut-atmosfer bagi penyebaran asap kenakaran hutan. Maka dibuat skenario model dalam dua cara wet deposition dan dry deposition. Skenario model tersebut adalah:

  • Skenario kopel model untuk kondisi normal ( 1996 ),El Nino ( 1997 ), La Nina ( 1998 ) pada kondisi wet deposition dengan memasukan fluks laut-atmosfer ditunjukan oleh Gambar a
  • Skenario kopel model untuk kondisi normal (1996 ),El Nino ( 1997 ), La Nina ( 1998 ) pada kondisi wet deposition tanpa memasukan fluks laut-atmosfe ditunjukan oleh Gambar b
  • Skenario kopel model untuk kondisi normal ( 1996 ),El Nino ( 1997 ), La Nina ( 1998 ) pada kondisi dry deposition dengan memasukan fluks laut-atmosfe ditunjukan oleh Gambar c
  • Skenario kopel model untuk kondisi normal ( 1996 ),El Nino ( 1997 ), La Nina ( 1998 ) pada kondisi dry deposition tanpa memasukan fluks laut-atmosfe ditunjukan oleh Gambar d

Skenario model untuk fluks laut-atmosfer

Dari dua gambar diatas terlihat forecast mode lebih tebal dibanding climate mode. Hal ini disebabkan forecast model mengenyampingkan proses fisik dan hanya melakukan proses kimia, sedangkan studi fluks laut-udara memiliki fokus pada perbedaan fisik. Perbedaan juga membesar di wet deposition dibanding dry deposition. Perbedaan lainnya adalah wet deposition berlangsung lebih jauh dari sumbernya dan terutama terjadi di laut. Sedangkan dry deposition berlangsung di dekat sumber dan terjadi di daratan. Hal ini menunjukan sifat alami fluks laut-air yang lebih berpengaruh di lautan. Perbedaan lainnya, pada kopel simulasi asap di jalarkan lebih jauh melintasi laut, hal ini menunjukan bahwa pada kopel simulasi terjadi pengurangan presipitasi di laut di mana terjadi penyingkiran wet deposition darit asap melintas lautan.

Ketika peristiwa tersebut berlangsung selama musim kemarau, antara Juli-November hal ini tidak disebabkan oleh presipitasi tetapi oleh kurangnya kelembaban atau liquid water content diatas laut yang menambahwet deposition dilaut. Dalam kopel simulasi dengan fluks, asap menjalar jauh di laut dibanding yang non fluks. Simulasi kopel dengan fluks laut-udara menghasilkan curah hujan lebih baik dibanding nonkopel. PM10 mengalami underestimaste jika di laut dibanding dengan observasi.Dengan simulasi kopel model, asap tersebar lebih jauh melintasi laut. Perbedaan signifikan terlihat di permukaan dengan fluks dan lebih baik tersebar di laut pada saat wet deposition.

Untuk lebih jelas antara perbandingan hasil skenario model dapat dilihat dari gambar dibawah:

skenario model

Keterangan Gambar,semuanya menggunakan data emisi yang sama yaitu september 1997 sebagi kontrol run dengan kolom kiri (tahun 1996), tengah (1997) dan kanan (1998):

  1. Climate mode,wet deposition ,fluks
  2. Climate mode,wet deposition,non fluks
  3. Forecast mode
  4. Climate mode, dry position,fluks
  5. Climate mode,dry position,non fluks

Posted in Model Meteorologi, Natural Hazard | 3 Comments »

Bencana Meteorologi

Posted by kadarsah pada April 14, 2008

Bencana meteorologi merupakan bencana yang diakibatkan oleh parameter-parameter (curah hujan,kelembaban,temperatur,angin) meteorologi. Contoh bencana meteorologi adalah:

  • Kekeringan
  • Banjir
  • Badai :Badai angin,badai petir,badai es,badai salju
  • Kebakaran hutan
  • El Nino
  • La Nina
  • Longsor
  • Tornado
  • Angin puyuh,topan,angin puting beliung
  • Gelombang dingin
  • Gelombang panas
  • Angin fohn :Angin gending,angin brubu,angin bohorok,angin kumbang

Bencana tersebut dimasukan kedalam bencana meteorologi karena bencana diatas disebabkan atau dipengaruhi oleh faktor-faktor meteorologi. Yang menjadi kontraversi adalah kebakaran hutan. Kebakaran hutan yang terjadi umumnya disebabkan oleh aktivitas manusia yang sengaja membakar hutan untuk pembukaan lahan.

Dalam kajian ini, kebakaran hutan yang dimasukan ke dalam bencana meteorologi adalah kebakaran hutan yang disebabkan oleh faktor alam. Kebakaran hutan ini dapat terjadi ketika kekeringan yang sangat kuat, angin yang bertiup kencang, kelembaban rendah dan dengan adanya gesekan antara dedaunan dan semak belukar yang sangat kuat menyebabkan terjadilah kebakaran hutan.

Bencana meteorologi diatas dapat menyebabkan kerugian berupa harta,benda dan jiwa manusia. Hal yang dapat kita lakukan adalah memprediksi peristiwa bencana meteorologi tersebut dan berusaha untuk mengurangi potensi terjadinya bencana tersebut sebatas yang bisa dilakukan. Mengurangi potensi bencana meteorologi, contohnya dapat dilakukan terhadap bencana banjir, misalnya membuat sistem drainase yang baik dan pengelolaan tata lingkungan yang baik. Prediksi bencana meteorologi dilakukan untuk mempersiapkan kondisi manusia dalam menghadapinya, sehingga ketika terjadi bencana telah siap untuk menghadapinya.

Gelombang panas merupakan salah satu bencana meteorologi yang sering terjadi di daerah lintang tinggi. Bencana ini berupa hembusan angin dengan temperatur yang sangat tinggi, hal yang berkebalikan terjadi saat terjadi gelombang dingin. Dua kondisi tersebut dapat menimbulkan korban jiwa dan menimbulkan kerugian material lainnya.

Posted in Meteorologi, Natural Hazard, Sains atmosfer | Leave a Comment »

Indonesia Menepis Tuduhan

Posted by kadarsah pada Oktober 23, 2007

Jakarta, Kompas – Indonesia menepis cap sebagai negara emitor karbon ketiga di dunia yang dilontarkan sebuah lembaga nonpemerintah Wetland International. Kelemahan-kelemahan cara penghitungan yang mendasari pendapat tersebut dibongkar Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jumat (28/9).

Dalam jumpa pers yang dibuka Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Said D Jenie dihadirkan ahli meteorologi dari Unit Teknik Modifikasi Cuaca Edvin Aldrian, Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam Jana T Anggadiredja, serta Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Mezak A Ratag.

Pernyataan bahwa Indonesia adalah emitor CO2 ketiga terbesar setelah Amerika Serikat dan China dilontarkan tahun 2006 di Nairobi, Kenya. Pernyataan Wetland International itu, urai Edvin, lemah dengan lima alasan.

Pertama, publikasi tahun 2006 oleh Wetland International berdasarkan perhitungan Page, yaitu hanya pada kebakaran lahan gambut tahun 1997—ketika itu terjadi El-Nino (yang berdampak kekeringan di Indonesia). Pada tahun-tahun selanjutnya, tahun 1998 hingga sekarang, belum ada penelitian yang komplet.

“Padahal, ada korelasi 90 persen antara titik api dan El Nino,” tegas Edvin. “Indonesia adalah korban variasi tahunan iklim regional,” tambahnya.

Alasan kedua, jika dibandingkan dengan laporan tentang kebakaran tahun 1997 yang dilakukan Duncan, Levine, Heil, Langmann, dan (Edvin) Aldrian, angka hasil penelitian Page—yang digunakan Wetland—lebih tinggi. “Angka maksimum penelitian Wetland 13 kali lipat angka minimum sehingga rata-ratanya terlalu banyak biasnya,” ujarnya.

Yang ketiga, lanjut Edvin yang ditegaskan lagi oleh Mezak, estimasi ini hanya memasukkan faktor kebakaran hutan tanpa memasukkan daya serap karbon oleh hutan saat tidak terjadi kebakaran. Asumsi yang diambil juga mengandaikan seluruh hasil pembakaran berupa CO>sub<2>res<>res<.

Mezak menambahkan, dari data satelit Pusat Satelit Antariksa Eropa (ESA), kondisi kebakaran terparah Indonesia tahun 1997 dan 2006 ternyata tidak lebih parah dari kebakaran di Brasilia dan Benua Afrika.

Sementara alasan kelima, tambah Mezak, dari pengamatan konsentrasi CO>sub<2>res<>res< di stasiun meteorologi di Koto Tabang, Bukit Tinggi—stasiun standar resmi Organisasi Meteorologi Dunia (WMO)—konsentrasinya lebih rendah dari Mauna Loa, Hawaii. Kondisi yang sama terjadi pada penelitian empat tahun terakhir—tahun 2006 terjadi kebakaran hutan yang hebat.

“Yang pasti, jika dibandingkan dengan Amerika tidak bisa karena Indonesia tidak dihitung faktor penyerapan CO>sub<2>res<>res<-nya, sedangkan Amerika itu dihitung,” ujar Mezak.

Jana menambahkan, penyerapan karbon selain oleh hutan juga lautan. Persoalannya, penyerapan karbon oleh lautan tidak masuk dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC).

Inventarisasi

Sementara itu, Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) selaku National Focal- Point masalah perubahan iklim di Indonesia akan membentuk institusi untuk menangani inventarisasi data gas rumah kaca (GRK). Demikian dikatakan Dadang Hilman, Kepala Bidang Perubahan Iklim KLH, pada acara yang digelar BPPT tersebut.

Menurut dia, pembentukan lembaga ini penting karena selama ini perhitungan emisi GRK, terutama CO>sub<2>res<>res<, baru dilakukan di sektor kehutanan, belum di sektor lain. “Perhitungannya masih terpisah-terpisah,” ujarnya.

Mengetahui rencana itu, Idwan Suhardi, Deputi Pemberdayaan dan Pemasyarakatan Iptek Kementerian Negara Riset dan Teknologi, mengharapkan KLH hendaknya melibatkan institusi riset yang memiliki fasilitas pemantauan memadai.

Saat ini pemantauan atmosfer dan lapisan udara atas di Indonesia dilakukan BPPT, BMG, serta Lapan (Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional) untuk berbagai parameter. Pembentukan institusi dimulai tahun ini dengan pertemuan informal antarinstansi terkait. Inventori CO2 diharapkan selesai dua tahun. (YUN/ISW)

Sumber:http://www.kompas.com/kompas-cetak/0709/29/humaniora/3882545.htm

Posted in Berita, Global Climate Change, Meteorologi, Natural Hazard, Sains atmosfer | Leave a Comment »

Indonesia emiter karbon ketiga?

Posted by kadarsah pada Oktober 23, 2007

Oleh Dr. Edvin Aldrian
(Peneliti Madya Meteorologi UPTHB – BPPT dan Dosen Pasca Meteorologi Laut Universitas Indonesia)

peneliti UPTHB – BPP Teknologi, phone 316 8828, email: edvin[at]webmail.bppt.go.id

Laporan penelitian LSM Wetland International dan Delft Hydraulics pada awal November 2006 menempatkan Indonesia sebagai negara penghasil emisi CO2 ketiga dunia setelah Amerika Serikat dan China. Stigma buruk tersebut dirujuk oleh LSM lainnya dengan tanpa adanya kajian dan tanggapan yang memadai. Bahkan dalam rangka mensukseskan peran sebagai tuan rumah konferensi perubahan iklim (COP13) bulan Desember di Bali, Presiden SBY telah mengumpulkan 8 gubernur yang langganan kebakaran hutan agar waspada dan merencanakan membentuk Forestry Eight (Kompas, 1 September 2007).

Sebelum menunjukkan kepanikan kita akan berita yang mendiskreditkan tersebut, ada baiknya kita menyimak dan mengkaji estimasi yang dikeluarkan oleh Wetland International (WI). Menurut WI, akibat kebakaran hutan tahun 1997, 1998 dan 2002 yang menghabiskan lahan hutan antara 1.5 dan 2.2 juta hektar, telah diemisikan CO2 sebesar 3000 hingga 9400 Mton (setara 818 hingga 2563 Mton karbon, dengan asumsi seluruh karbon adalah bagian dari CO2 hasil pembakaran). Nilai emisi tersebut setara antara 13 hingga 40% emisi dunia. Pada bagian lain laporan WI disebutkan bahwa nilai emisi karbon Indonesia dari kawasan gambut adalah 600 Mton akibat oksidasi karena pengeringan lahan dan 1400 Mton CO2 (setara 381 Mton karbon) akibat kebakaran lahan. Dari manakah asumsi angka tersebut?

Perhitungan emisi karbon akibat kebakaran hutan dilakukan dengan mengacu pada beberapa asumsi dasar yaitu jenis lahan, daya bakar lahan, kedalaman lahan bakar (terutama bagi lahan gambut), faktor emisi dan kalibrasi sebaran bakar. Beberapa peneliti mencoba menghitung nilai emisi dari kebakaran hutan tahun 1997 yang merupakan terparah sepanjang sejarah. Page dkk (2002) memperkirakan antara 810 hingga 2563 Mton karbon, sementara Duncan (2003) melaporkan 700 Mton karbon, Levine (1999) mengestimasi 245 Mton karbon dan Heil, Langmann dan Aldrian (2007) melaporkan 1098 Mton karbon. Walhasil angka yang dikeluarkan WI berasal dari estimasi Page dkk (2002) yang memiliki tingkat ketidak percayaan tinggi (rentang nilai yang lebar). Estimasi tinggi dari Page dkk tersebut juga diragukan oleh peneliti diatas lainnya.

Hingga saat ini hanya estimasi dari kebakaran hutan tahun 1997 yang selalu dirujuk dan belum ada publikasi komprehensif untuk kebakaran tahun sesudahnya. Akan tetapi estimasi emisi karbon antara tahun 1998 hingga sekarang dapat dilakukan dengan mengacu pada asumsi yang sama dengan variasi dari jumlah titik api (hotspot) dan satuan jenis lahan (apakah lahan gambut atau bukan). Laporan titik api hasil pemantauan dari satelit NOAA 14 dan 18 dapat diperoleh untuk melakukan kalkulasi emisi tersebut. Hasil estimasi emisi karbon Indonesia akibat kebakaran hutan sepuluh tahun terakhir terlihat pada Tabel 1. Terlihat bahwa nilai emisi tertinggi mencapai 13 kali lipat dari nilai terendah.

Hal yang menarik untuk diperhatikan adalah bahwa variasi titik api bulanan sangat dipengaruhi oleh variasi iklim. Hasil korelasi jumlah titik api paruh kedua tahunan (antara Juli hingga Desember) di pulau Sumatera dan Kalimantan dengan indeks iklim di samudra Pasifik (indeks fenomena El Nino) menunjukkan tingkat korelasi sangat tinggi yaitu diatas 90% (perhatikan Gambar 1). Hal ini membuktikan kuatnya peran iklim dalam mendorong kasus kebakaran, meski disadari bahwa sebagian besar pelaku kebakaran adalah akibat aktivitas manusia. Sehingga dapat dipastikan Indonesia sebagai korban variasi tahunan iklim regional yang nyata.

jul-dec-hotspot.jpg

Gambar 1. Variasi tahunan titik api pulau Kalimantan dan Sumatera dihubungkan dengan indeks El Nino (anomali NINO3 SST)

Data untuk Gambar 1

datagambarsatu.jpg

Hasil estimasi emisi karbon serta hubungan kebakaran hutan tahunan dan iklim membawa beberapa implikasi berikut. Besar kecilnya angka titik api kebakaran hutan tahunan menunjukkan rentannya posisi Indonesia terhadap situasi iklim regional. Hal serupa juga dialami oleh Yunani pada musim panas tahun ini atau Amerika Serikat serta Spanyol yang mengalami kebakaran hutan pada saat musim yang sangat panas dan kering. Dalam posisi ini Indonesia dapat mengajukan dana adaptasi akibat perubahan iklim dan bukan sebagai “hanya” penghasil emisi. Nilai yang dipublikasi oleh WI sebagai dasar Indonesia rangking tiga besar dunia memakai porsi lahan gambut dari seluruh lahan terbakar yaitu sekitar 1400 Mton CO2 (setara dengan 381 Mton karbon). Nilai ini sendiri apabila dibandingkan dengan fluktuasi nilai emisi tahunan dari seluruh lahan terbakar (Tabel 1) menunjukkan angka yang terlalu tinggi terutama pada tahun-tahun non El Nino yaitu 1998, 1999, 2000, 2001, 2003, 2005 dan 2007 (proyeksi). Pada tahun-tahun tersebut dapat dipastikan bahwa emisi karbon Indonesia tidak menempati rangking tiga dunia.

Table 1. Estimasi emisi karbon akibat kebakaran hutan sejak 1997. Perhitungan 2007 memakai data hingga bulan September.

emisi-karbon1.jpg

Dengan demikian nilai tengah yang mereka pakai untuk menobatkan Indonesia di posisi ketiga kurang sesuai, apalagi mengingat rasio emisi tahunan tertinggi dan terendah yang sangat tajam (13 kali lipat). Hal lain yang perlu diingat adalah estimasi ini semua hanya memasukkan faktor kebakaran hutan tanpa memasukkan nilai daya serap hutan disaat tidak terjadi kebakaran. Dalam perhitungan emisi karbon global beberapa negara sudah memasukkan unsur daya serap hutan mereka, sedangkan untuk hutan Indonesia hal ini belum dilakukan karena belum ada kesepahaman metoda. Kesalahan terakhir adalah asumsi bahwa seluruh hasil pembakaran berbentuk CO2 bukan senyawa karbon lainnya. Nyatalah, bahwa kita harus selalu waspada akan berbagai upaya yang mencoba mendiskreditkan posisi Indonesia dalam post Kyoto Protokol, perdagangan emisi global dan upaya pemerintah untuk mengurangi dampak kebakaran hutan. Apalagi Indonesia sedang dalam proses ratifikasi UU ASEAN Transboundary Haze. Posisi estimasi emisi karbon ini perlu diangkat dalam negosiasi karbon global serta memposisikan kepentingan rehabilitasi dan pelestarian lahan gambut yang kita miliki.

Posted in Global Climate Change, Klimatologi, Meteorologi, Model Meteorologi, Natural Hazard, Sains atmosfer | 1 Comment »

Kondisi Ozon di Indonesia Masih Normal dan Aman

Posted by kadarsah pada September 16, 2007

Dr. Ninong, ”Lebih Baik Dibandingkan Tahun Lalu”BANDUNG, (PR).-
Kondisi ozon di Indonesia dinilai masih dalam batas normal dan aman. Meski begitu, masyarakat perlu mewaspadai penggunaan bahan perusak ozon (terutama CFC). Sebab penggunaan bahan perusak ozon yang tidak terkendali memungkinkan terjadinya lubang ozon di Indonesia.

Peneliti Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Bandung, Dr. Ninong Komala mengatakan, saat ini konsentrasi ozon di Indonesia berkisar antara 240-270 dobson unit (DU). Sementara di Bandung berkisar antara 255-258 DU. ”Kondisi ini masih relatif aman, karena batas minimal konsentrasi ozon yakni 150 DU,” kata Ninong, Minggu (16/9).

Kendati demikian, rata-rata konsentrasi ozon ini sangat fluktuatif. Kondisi terparah terjadi tahun 2006 karena banyaknya kasus kebakaran hutan. ”Sekarang sedikit lebih baik dibandingkan tahun lalu,” tambahnya.

Dikatakan Ninong, ozon terdapat di dua lapisan yakni statosfer dan troposfer yang fungsinya cenderung kontradiktif. Saat ini, kecenderungannya, lapisan yang ada di statosfer menurun sehingga sinar ultra violet pun semakin banyak mengenai kulit manusia. Sementara, lapisan ozon yang ada di troposfer cenderung meningkat seiring dengan peningkatan polusi udara.

Sejumlah kejadian alam, diakui Ninong dapat menyebabkan menipisnya lapisan ozon. Namun, gas yang dibawa peristiwa alam ini tidak akan sampai menembus lapisan statosfer (ozon) karena sifatnya yang mampu bereaksi dengan air. Sementara, CFC yang merupakan buatan manusia cenderung bersifat stabil dan tidak mampu bereraksi dengan air di udara, sehingga dapat menipiskan lapisan ozon.

Katarak meningkat

Menurut Ninong, 10 persen penipisan ozon akan memicu peningkatan radiasi ultraviolet sebesar 20 persen. ”Jadi kewaspadaan itu penting sebab bisa jadi bukan lapisan ozon di wilayah Indonesia yang tipis, tetapi efeknya mencapai ke negara kita,” katanya. Ia menjelaskan, sejumlah gejala yang menandakan lapisan ozon semakin menipis, antara lain semakin meningkatnya kasus katarak, serta kanker kulit.

Diakui Ninong, CFC serta beberapa bahan sejenis memang menguntungkan manusia. Namun, tidak aman bagi lapisan ozon. Secara internasional, saat ini tengah diuji bahan alternatif yang mempunyai daya rusak lebih rendah dibandingkan CFC.

Menipisnya lapisan ozon dan peristiwa pemanasan global, kata Ninong merupakan dua hal yang sangat berkaitan. Namun begitu, menipisnya lapisan ozon hanya salah satu penyebab kecil pemanasan global. Artinya, kondisi kota yang semakin panas belum tentu disebabkan oleh menipisnya lapisan ozon, melainkan banyaknya polusi udara oleh gas CO2. ”Penyebab utama pemanasan global itu gas CO2, uap air, gas metana, baru lapisan ozon yang tipis,” ujarnya. Oleh karena itu, kondisi kota yang semakin panas belum bisa diindikasikan sebagai salah satu gejala menipisnya lapisan ozon.

Dalam rangka peringatan hari ozon tahun 2007 ini, Lapan pun mengampanyekan kepedulian terhadap lapisan ozon melalui Lomba Poster untuk pelajar SMA. Tiga karya yang dinilai sebagai pemenang akan dikirimkan ke UNEP (organisasi lingkungan dunia) sebagai bentuk peran serta Indonesia mengampanyekan peduli lapisan ozon. (A-155)***

Sumber:http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/092007/17/0205.htm

Posted in Berita, Meteorologi, Natural Hazard, Sains atmosfer, Umum | 2 Comments »

Kenapa Gempa 7,9 SR Tidak Memunculkan Tsunami Dahsyat?

Posted by kadarsah pada September 15, 2007

2007-09-15 09:40:00
Gagah Wijoseno – detikcom
Jakarta – Alarm peringatan tsunami berbunyi saat gempa berkekuatan 7,9 SR mengguncang pesisir barat Pulau Sumatera. Ancaman itu begitu nyata karena pusat gempa berada di laut dengan kedalaman hanya 10 km.

Warga Bengkulu dan Padang panik. Mereka pun berlarian menjauhi pantai mencari tempat yang lebih tinggi.

Namun setelah beberapa lama, peringatan tsunami dicabut. Gelombang pasang yang tercatat di pesisir Padang hanya setinggi 90 cm.

Pertanyaan pun timbul, kenapa gempa berkekuatan lebih kecil 6,5 SR dapat menimbulkan tsunami di Pantai Pangandaran, Jawa Barat, pada 17 Juli 2006. Sedangkan kali ini tidak?

Rasa syukur pun terucap. Tapi fenomena ini butuh penjelasan agar di kemudian hari peringatan tsunami mempunyai presisi yang lebih tinggi.

Peneliti Irwan Meilano yang sehari-hari beraktivitas di Pusat Penelitian Seimologi, Vulkanologi, dan Mitigasi Bencana Universitas Nagoya, Jepang, mencoba untuk menjelaskan fenomena ini. Irwan mengungkapkan ada 2 syarat yang luput, sehingga tsunami di pantai Padang dan Bengkulu tidak sedahsyat di Aceh atau Pangandaran.

Irwan menjelaskan gelombang tsunami terbentuk sebagai akibat pengkatan vertikal dari kerak bumi sebagai akibat dari penyesaran naik (thrust faulting) dari gempa. Pada gempa Bengkulu 2007, tsunami yang dihasilkan tidaklah setinggi gempa Pangandaran 2006, yang memiliki magnitud lebih kecil. Hal ini disebabkan karena bidang sumber dari gempa Bengkulu berjarak relatif jauh dari lokasi transisi lempeng (trench).

“Sehingga gerak penyesaran naik pada transisil lempeng tidaklah besar,” ujarnya dalam rilis yang diterima detikcom, Sabtu (15/9/2007).

Lebih lanjut, Irwan mengatakan sumber gempa (jarak 100 km dari transisi lempeng) kedalaman laut sangatlah dangkal, yaitu kurang dari 1500 m. Hal ini diperlihatkan dengan adanya barisan kepulauan di utara sumber gempa (Kepulauan Mentawai) dan Pulau Enggano di selatan.

“Pada laut yang dangkal, walaupun terdapat pengangkatan vertikal, tetapi karena volume air yang terangkat sedikit, maka tidak efektif dalam menghasilkan tsunami yang tinggi,” bebernya.

Dalam kaidah ilmu gempa bumi (seismologi), menurut Irwan, gempa tsunami (tsunami earthquake) sering disebut juga dengan gempa perlahan (slow earthquake). Hal ini disebabkan karena ciri khas dari gempa tsunami, yaitu proses robeknya bidang gempa sangatlah perlahan apabila dibandingkan dengan gempa pada umumnya.

Kecepatan robeknya bidang gempa untuk gempa Bengkulu 2007 yaitu 2.5-3 km/detik, dengan lamanya proses gempa yaitu 90 detik. Sedangkan gempa Pangandaran yaitu 0.5-1.5 km/detik. Gempa Nias tahun 2005 lebih cepat lagi yaitu 2.7-3.3 km/detik, sedangkan gempa Aceh yaitu 1.8-3.2 km/detik.

“Sehingga gempa di perairan Bengkulu tidak dapat dikategorikan sebagai slow earthquake,” terang Irwan.

Persayaratan gempa yang dapat menghasilkan tsunami adalah: 1. Mekanisme penyasaran naik (vertikal); 2. Memiliki magnitud lebih dari 7 SR; 3. Kecepatan robeknya gempa yang perlahan; dan 4. Berada dalam kedalaman yang dangkal (berlokasi dengan transisi lempeng.

“Pada gempa Bengkulu tanggal 12 september 2007 lalu, syarat ke 3 dan ke 4 tidak terpenuhi. Sehingag walaupun menghasilkan gelombang tsunami, ketinggian gelombang tersebut jauh lebih rendah dari gempa pangandaran 2006,” pungkas Irwan. (gah/gah)

(news from cache) – Reload from Original

http://jkt1.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/09/tgl/15/time/094007/idnews/830377/idkanal/10

Posted in Natural Hazard | Leave a Comment »

USGS Juga Catat Gempa Bengkulu 7,9 SR

Posted by kadarsah pada September 12, 2007

12/09/2007 19:04 WIB
Salomo Sihombing – detikcom
Jakarta – Gempa di sebesar 7,9 Skala Richter (SR) yang terjadi di Bengkulu, Rabu (12/9/2007) sore, juga tercatat oleh Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS). Kekuatan gempa terdeteksi sama.

USGS sempat mencatat kekuatan gempa yang terjadi pukul 18.10 WIB itu sebesar 8,0 SR. Namun setelah beberapa menit, bersarannya direvisi menjadi 7,9 SR sama dengan catatan Badan Meteorologi dan Geofisika.

Seperti dilansir situs resmi USGS, intensitas getaran gempa termasuk golongan V atau sedang. Kemungkinan krusakan yang bisa ditimbulkan pun dimasukkan pada kategori ringan. (lom/asy)
http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/09/tgl/12/time/190409/idnews/829215/idkanal/10

Posted in Natural Hazard | Leave a Comment »

Rentan Tsunami Tapi Receiver Sepanjang Pantai Minim

Posted by kadarsah pada September 5, 2007

2007-09-05 21:06:00

Jakarta – Indonesia adalah negara yang terletak di ring of fire. Artinya, Indonesia rentan bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami.

Meski rawan tsunami, namun receiver dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) yang memberitahukan peringatan tsunami di sepanjang bibir pantai masih minim. Jumlah receiver yang terpasang masih kurang dari 10.

“Padahal masyarakat di pantai sangat menunggu-nunggu info itu,” ujar Kepala BMG Sri Woro di sela-sela seminar internasional dan workshop bertajuk “Science based community preparedness and beyond” di Hotel Bumi Karsa Bidakara, Jl Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (5/9/2007).

Terkait pemasangan receiver, menurut Woro, haruslah menjadi peran aktif pemerintah daerah. Sebuah receiver harganya sekitar Rp 40-50 juta, namun manfaat bagi warga sekitar sangatlah besar.

“Kita sudah sosialisasi juga, tapi sepertinya pemda tidak terlalu tertarik. Padahal untuk antisipasi kalau ada tsunami harus sering latihan. Selain itu juga harus mencari tempat mengungsi, biar masyarakat tidak bingung mau ngungsi ke mana kalau ada tsunami,” imbuh Woro.

Dia mengatakan, tsunami yang merusak wilayah Indonesia adalah tsunami lokal. Tsunami tersebut memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk sampai di daerah pantai. Berbeda dengan tsunami di Hawaii, AS, yang butuh waktu 3 jam.

“Tidak semua pemda santai-santai kok. Ada juga yang peduli seperti Pemda Gorontalo dan Semarang,” pungkasnya. (nvt/mly)

http://jkt1.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/09/tgl/05/time/210625/idnews/826178/idkanal/10

Posted in Natural Hazard | Leave a Comment »