Kadarsah

Meteorologi dan Sains Atmosfer

Archive for the ‘Global Climate Change’ Category

Satelit Pengukur Kandungan CO2

Posted by kadarsah pada Februari 19, 2009

Pada saat ini, Ilmuwan dapat mengukur dengan akurat jumlah karbon dioksida di atmosfer, tapi proses yang mengatur konsentrasinya
di atmosfer masih menjadi misteri. Ilmuwan mengalami hambatan dalam
mengetahui sumber dan kemana CO2 di atmosfer.

Orbital Carbon Observatory (OCO), satelit baru badan antariksa Amerika, NASA, telah diluncurkan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Satelit yang diluncurkan 23 Februari itu menggunakan roket Taurus XL dariVendenberg Air Force Base di California yang memiliki kemmapuan dalam mengukur magnitude dan distribusi sumber CO2 dan tempatnya mengendap.

Misi utama OCO adalah membuat estimasi setepat mungkin sehingga dapat digunakan untuk mencari sumber dan tempat penyimpanan.
CO2. Informasi ini sangat penting dalam memperbaiki
prediksi kenaikan CO2 atmosfer yang selama ini digunakan dalam pemodelan iklim untuk mengetahui tingkat kenaikan temperatur bumi.

Satelit CCO dapat mencatat CO2 harian dan itu dilakukan sebanyak 100 ribu perhitungan dari seluruh dunia setiap hari.
Sehingga pemahaman tentang CO2 berasal serta tempat pengendapannya dapat diketahui. Selain itu satelit ini juga mengukur distribusi CO2, membawa informasi contoh dari seluruh dunia dari orbitnya di antariksa, tetapi satelit ini tidak langsung mengukur emisi CO2 dari setiap sumber ( knalpot,cerobong asap,kebakaran hutan dlln)

oco_high

Tetapi data yang dikumpulkan diolah oleh komputer dan ditampilkan melalui model yang akan menyimpulkan di mana dan kapan sebuah
sumber mengeluarkan karbon dioksida ke atmosfer.
Proses pengukuran dilakukan dalam skal kecil, hal ini dilakukan agar ilmuwan dapat membedakan pergerakan CO2 dari sumber
alami dengan gas yang berasal dari aktivitas bahan bakar fosil secara
akurat.
Pengukuran satelit ini relatif akurat sebab menggunakan tiga spektrometer beresolusi tinggi canggih OCO yang mampu menyebar
cahaya matahari yang direfleksikan permukaan bumi menjadi
beragam warna, dan dengan menganalisis warna tersebut kita dapat mengetahui kondisi CO2 di atmosfer.

Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Orbiting_Carbon_Observatory
http://oco.jpl.nasa.gov/
http://www.nasa.gov/mission_pages/oco/main/index.html

Iklan

Posted in Global Climate Change, Klimatologi | 1 Comment »

Skenario Post-SRES, SRES, IS92, SA90,Non-SRES

Posted by kadarsah pada September 5, 2008

Skenario Post-SRES

Merupakan skenario  iklim berdasarkan skenario emisi yang di publikasikan setelah IPCC selesai melaporkan SRES ( Special Report on Emission Scenarios), setelah tahun 2000.

Special Report on Emissions Scenarios (SRES)

Skenario SRES merupakan skenario emisi yang dikembangkan oleh Nakicenovic dan Swart (2000).

The Special Report on Emissions Scenarios di singkat SRES merupakan laporan yang dikeluarkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change  atau IPCC untuk laporan yang ketiga atau di sebut Third Assessment Report (TAR) di tahun 2001,  untuk skenario emisi masa depan digunakan untuk menjalankan model sirkulasi global untuk mengembangkan skenario perubahan iklim, hal itu untuk menggantikan  skenario IS92 yang dikeluarkan pada IPCC Second Assessment Report tahun 1995. Skenario SRES masih digunakan untuk Fourth Assessment Report (AR4)  yang dikeluarkan tahun 2007

Skenario Emisi SRES

IPCC mempublikasikan skenario iklim tahun 2000 dan digunakan dalam the Third Assessment Report (Special Report on Emissions Scenarios – SRES), skenario ini memasukan perkembangan di masa depan di lingkungan global dengan referensi khusus pada produksi gas rumah kaca dan aerosol.

Tiap storyline menampilkan perbedaan demografi,sosial,ekonomi,teknologi dan pembangunan lingkungan yang berbeda dalam cara pertambahan yang tidak dapat berubah.

Empat puluh skenario dikembangkan oleh enam tim modeling. Semua model valid, dengan tidak adanya penekanan kemungkinan terjadinya. Ke enam kelompok skenario dibentuk dari empat scenario family yaitu:A2,B1,B2 dan tiga grup dalam  scenario family A1 yang memiliki alternatif karakteristik pengembangan teknologi energi (A1F1: penggunaan energi fosil yang intensiif),A1T( penggunaan energi yang sebagian besar menggunakan energi non-fosil),A1B( penggunaan energi secara seimbang antara energi non-fosil dan energi fosil).

Empat storyline dikombinasikan dengan dua set kecendrungan divergensi: satu set bervariasi antara pengaruh ekonomi kuat dan pengaruh lingkungan kuat, seperangkat set lainnya antara bertambahnya globalisasi dan regionalisasi.

Skenario famili berisi skenario tunggal. Enam skenario famili didiskusikan di the IPCC’s Third Assessment Report (TAR) dan Fourth Assessment Report (AR4) adalah  A1FI, A1B, A1T, A2, B1, and B2.  Skenario utama  A1,B1,B2,A2 dari : Nakićenović, N. and R. Swart, Eds., 2000: Special Report on Emissions Scenarios. Cambridge University Press, Cambridge, 599 pp.

A1 keadaan dunia yang:

  • Pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat
  • Populasi global mencapai puncaknya pada pertengahan abad ( sekitar 9 milyar) dan menurun setelahnya
  • Pengenalan teknologi baru dan lebih efisien dengan sangat cepat
  • Negara-negara mengalami proses konvergensi melalui capacity building dan dengan bertambahnya interaksi  budaya dan sosial
  • Terjadi pengurangan berbagai perbedaan yang subtansif  terutama dalam pendapatan per kapita regional
  • S scenario family A1 yang memiliki alternatif karakteristik pengembangan teknologi energi (A1F1: penggunaan energi fosil yang intensiif),A1T( penggunaan energi yang sebagian besar menggunakan energi non-fosil),A1B( penggunaan energi secara seimbang antara energi non-fosil dan energi fosil).

A2  keadaan dunia yang :

  • Dunia yang sangat heterogen
  • Masalah utama yang dihadapi di tiap region adalah kepercayaan pada diri sendiri dan  pemeliharaan identitas lokal
  • Dunia yang independen dan negara-negara yang memiliki kepercayan diri sendiri.
  • Terus terjadi pertambahan populasi
  • Pengembangan ekonomi berorientasi secara regional
  • Perubahan teknologi terjasi secara lebih lambat dan lebih terfragmentasi disertai  peningkatan pendapatan per kapita

B1 keadaan dunia yang :

  • Dunia yang konvergen dengan populasi global yang  mencapai puncaknya ( 9 milyar pada tahun 2050) di pertengahan abad dan menurun setelahnya  sama yang terjadi di skenario A1, tetapi dengan perubahan kecepatan dalam struktur ekonomi sesuai dengan layanan dan informasi ekonomi
  • Pengurangan dalam intensitas material.
  • Pengenalan teknologi yang bersih dan efisien
  • Penekanan pada solusi global untuk ekonomi,sosial, dan ketahanan lingkungan,termasuk peningkatan kekayaan, tetapi tanpa tambahan inisiatif iklim
  • Dunia lebih terintegrasi, lebih friendly secara ekologi.

B2 keadaan dunia yang :

  • Penekanan pada solusi lokal daripada solusi global  untuk ekonomi,sosial dan ketahanan lingkungan
  • Peningkatan populasi global yang lebih rendah dari A2
  • Tingkat pengembangan ekonomi yang intermediate
  • Perubahan teknologi lebih lambat dan lebih bermacam-macam dibanding Skenario B1 dan A1
  • Skenario berorientasi pada proteksi lingkungan dan kekayaan sosial, yang berfokus pada tingkat lokal dam regional.
  • Dunia lebih terbagi-bagi, tetapi frinedly secara ekologi

Scenario IS92

Enam alternatif skenario IPCC (IS92a s.d IS92f) dipublikasikan tahun 1992 dalam the 1992 Supplementary Report to the IPCC Assessment. Skenario  tersebut memilliki asumsi yang luas yang diakibatkan oleh seberapa besar emisi GHG terjadi dan bagaimana kebijakan-kebijakan iklim di ambil.  Perbedaanya terletak pada ekonomi, sosial dan kondisi lingkugan, dan menghasilkan kisaran  konsentrasi GHG dimasa depan.

Dasar skenario IS92a dan IS92b sangat menyerupai skenario SA90 yang digunakan di the First Assessment Report of the IPCC in 1990.

Skenario IS92a digunakan sebagai standar skenario yang digunakan dalam mengukur akibat, meskipun rekomendasi IPCC harus menggunakan ke enam skenario tersebut untuk menunjukan range ketidakpastian dalam emisi GHG.

Populasi meningkat dari 11.3 juta sampai tahun 2100 dan rata-rata pertumbuhan ekonomi 2.3 % per tahun antara 1990-2100, dengan campuran penggunaan sumber energi yang konvensional dan terbarukan.

Emisi tertinggi GHG dihasilkan dari skenario IS92a yang mengkombinasikan semua asumsi, pertumbuhan populasi yang moderate, pertumbuhan ekonomi yang tinggi,ketersediaan bahan bakar  fosil yang tinggi bahkan penghapusan energi nuklir.

Skenario ekstrim yang lain adalah IS92c yang memiliki emisi CO2 yang menurun dan mencapai posisi dibawah tahun 1990. Hal tersebut diasumsikan bahwa populasi pertama-tama meningkat, kemudian menurun di pertengahan abad berikutnya, trus pertumbuhan ekonomi rendah dan terdapat beberapa batasan dari persediaan bahan bakar fosil.

Skenario SA90

Skenario iklim yang digunakan di the First Assessment Report of the IPCC in 1990.

Skenario Non-SRES

Skenario yang merupakan bukan SRES (Special Report on Emission Scenarios), yang terdiri dari :

  • PICTL: Skenario dengan menggunakan GHG konstan pada saat pre-industrial.
  • 20C3M :Skenario dengan menggunakan GHG yang meningkat sesuai dengan pengamatan s.d abad 20.
  • COMMIT:Skenario ideal dimana atmosfer menimbun GHG sebanyak saat tahun 2000.
  • 1PTO4X (1% to quadruple): Konsentrasi CO2 bertambah dengan kecepatan 1 %  per tahun, mencapai 4 kali lipat, kemudian konstan.
  • 1PTO2X (1% to double) :Konsentrasi CO2 bertambah dengan kecepatan 1 % per tahun, mencapai 2 kali lipat, kemudian konstan.

Istilah-Istilah

Climate model

Suatu sistem numerik yang merefresentasikan sistem iklim berdasarkan aspek sifat-sifat fisik,kimia dan biologi ,komponen-komponen, interaksinya, proses timbal-balik,  dan proses penghitungan untuk semua elemen-elemen tersebut. Sistem iklim dapat dipresentasikan dengan berbagai model dan dengan berbagai kombinasi komponen sebagai suatu spektrum yang meliputinya. Coupled Atmosphere-Ocean General Circulation Models (AOGCMs)  merefresentasikan sistem iklim  yang paling komprehensif  melibatkan berbagai elemen iklim. Model iklim digunakan untuk mempelajari dan simulasi iklim, untuk tujuan operasional, bulanan, musiman dan prediksi inter-tahunan.

United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC)

Merupakan konvensi yang diadopsi tanggal 9 Mei 1992 di New York dan ditanda-tangani tahun 1992 di  KTT Bumi di Rio de Janeiro oleh lebih dari 150 negara dan negara Eropa.

Diagram SRES

diagram-skenario

diagram-skenario

Gambar diatas menunjukan ilustrasi skematik skenario SRES. Skenario SRES ini terbagi menjadi empat storyline yang disebut family:A1,A2,B1,B2. Total semua skenario SRES berjumlah 40 skenario yang dikembangkan oleh enam tim pemodelan. Dari tiap skenario family terdiri dari satu skenario grup kecuali skenario family A1 yang terdiri dari tiga skenario grup. Skenario A1 family terbagi tiga berdasarkan pengembangan teknologi alternatif.

  • A1F1:skenario  dengan penggunaan bahan bakar fosil secara intensif
  • A1B: skenario  dengan penggunaan bahan bakar fosil secara seimbang
  • A1T: skenario  penggunaan bahan bakar non-fosil yang lebih dominan

Tiap skenario grup terbagi menjadi dua bagian besar OS dan HS (HS: harmonized dam OS). Skenario HS artinya dalam populasi global di asumsikan produk bruto dunia dan energi terjadi keseimbangan/keselarasan.Sedangkan OS artinya menunjukan skenario yang menggunakan penggerak iklim  yang tidak terdapat di skenario iklim HS. Pengembangan dari tiap skenario baik HS dan OS di perbanyak, jadi total skenario iklim menjadi 40 . Dengan angka-angka di bawah huruf OS atau HS menunjukan masing-masing jumlah skenario iklim.

Kondisi iklim dunia sampai 100 tahun ( tahun 2100) kedepan sulit diprediksi sehingga ilmuwan berusaha uuntuk melakukan berbagai skenario yang mungkin terjadi. Akibatnya skenario iklim terbagi menjadi empat kelompok utama yang disebut storyline (A1,A2,B1,B2) dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain:perubahan demografis,pengembangan ekonomi, dan pengembangan teknologi.

Figure 1: Total global tahunan emisi  CO2 dari semua sumber (energi, industri, dan perubahan tata guna lahan) tahun 1990- 2100 (dalam giga ton karbon (GtC/yr))  untuk  family dan 6 scenario grup. 40  scenario SRES ditampilkanoleh 4 family (A1, A2, B1, and B2) and 6 scenario grup(A1F1,A1T,A1B,A2,B2,B1): penggunaan energi fosil yang intensif A1FI (terdiri dari batubar,gas dan minyak), penggunaan sebagian besar energi bahan-bakar fosil A1T, keseimbangan penggunaan energi. Skenario   A1di Gambar 1a; A2 di Gambar 1b; B1 di Gambar 1c, dan B2 di Gambar 1d. Tiap warna menunjukan rentang skenario harmonized dan non-harmonized pada tiap grup. Sebagai contoh Gambar 1(a), warna oranye (dengan skenario A1F1 ditunjukan dengan garis hitam putus-putus), warna merah (dengan skenario A1B ditunjukan dengan garis hitam solid),warna oranye muda (dengan skenario A1T ditunjukan dengan garis hitam putus-putus), merupakan rentang skenario grup yang terdiri dari skenario harmonized dan non-harmonized. Begitu pula dengan Gambar 1 (b), rentang warna coklat menunjukan rentang skenario harmonized dan non-harmonized A2 dengan garis solid hitam menunjukan skenario A2.

Capacity building

Dalam kontek perubahan iklim, capacty building  diartikan sebagai pengebanggan teknik skill dan kapabilitas institusi di negara berkembang dan kondisi ekonomi dalam transisi yang mampu berpartisipasi dalam semua aspek adaptasi, mitigasi dan penelitian dalam perubahan iklim dan dalam implementasi Mekanisme Protokol Kyoto.

Clean Development Mechanism (CDM)

Menurut definisi dalam Artikel 12 dari Protokol Kyoto,  CDM memiliki dua tujuan yaitu:

  • Membantu negara-negara yang tidak termasuk dalam Annex I untuk mencapai daya dukung pembangunan dan berkontribusi pada konvensi.
  • Membantu negara-negara lain yang termasuk Annex I dalam mencapai pemenuhan kuantitas batas emisi dan komitmen reduksinya.

Certified Emission Reduction Units dari proyek CDM  yang dilakukan di negara-negara  Non-Annex I dimana batas atau pengurangan emisi HGH, ketika disertifikasi oleh entitas operasional yang didesain oleh Conference Paris, yang kemudian dapat menarik investor ( pemerintah atau swasta dari negara-negara B. Berbagai informasi dalam proses aktivitas proyek sertifikasi digunakan untuk menutupi biaya administrasi sama halnya dengan membantu negara-negara berkembang  khususnta yang rentan untuk efek  merugikan dari perubahan iklim sehingga sesuai dengan kost adaptasi.

Projection

Terminologi proyeksi digunakan dalam dalam literatur perubahan iklim. Secara umum, suatu proyeksi dilakukan untuk tiap deskripsi masa datang dan pencapaiannya. Interprestasi yang lebih jelas bisa dilihat ketika digunakan dalam terminologi proyeksi iklim yang digunakan oleh IPCC ketika berbicara tentang model yang mengestimasi iklim masa depan.

Forecast/Prediction

Ketika proyeksi diasosiasikan dengan “most likely” maka istilah proyeksi berubah menjadi prakiraan/prediksi. Suatu prediksi sering diperoleh dengan menggunakan model deterministik, kemungkinan menggunakan beberapa model, hasilnya memiliki tingkat kepercayaan yang digunakan pada proyeksi.

Scenario

Scenario: proyeksi dari potensi masa datang berdasarkan logis yang jelas dan storyline yang terkuantatisasi. Suatu skenario adalah koheren, konsisten secara internal dan kemungkinan kondisi dunia dimasa depan. Skenario bukan prediksi, tiap skenario merupakan salah satu gambaran bagaimana kondisi masa depan dapat diketahui.Suatu proyeksi bisa merupakan bahan dasar untuk suatu skenario , tetapi skenario sering memerlukan tambahan informasi. Seperangkat skenario sering diadopasi untuk merefleksikan berbagai kemungkinan dalam rentang ketidakpastian dalam proyeksi. Dengan kata lain bahwa ada beberapa kata lain yang memiliki kesamaan diantaranya: “characterisation”, “storyline” and “construction”.

Scenario Family

Istilah dalam skenario iklim IPCC yang artinya satu atau  lebih skenario yang dikelompokan karena  memiliki kesamaan demografi,sosial-politik,ekonomi dan storyline teknologi  ( Keempat scenario family: A1,A2,B2,B1).

Storyline

Deskripsi narasi dari skenario iklim ( skenario famili atau skenario) yang menyoroti khususnya tentang karakteristik utama dan dinamik serta memiliki hubungan dengan daya penggerak iklim.

Tujuh model yang digunakan:

  • The UK Hadley Centre for Climate Prediction and Research (HadCM2)
  • The German Climate Research Centre (ECHAM4)
  • The Canadian Centre for Climate Modelling and Analysis (CGCM1)
  • The US Geophysical Fluid Dynamics Laboratory (GFDL-R15)
  • The Australian Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO-Mk2)
  • The National Centre for Atmospheric Research (NCAR-DOE)
  • The Japanese Centre for Climate System Research (CCSR)

Model Lain yang digunakan:

  • BCC:CM1
  • BCCR:BCM2
  • CCCMA:CGCM3_1-T47
  • CCCMA:CGCM3_1-T63
  • CNRM:CM3
  • CONS:ECHO-G
  • CSIRO:MK3
  • GFDL:CM2
  • GFDL:CM2_1
  • INM:CM3
  • IPSL:CM4
  • LASG:FGOALS-G1_0
  • MPIM:ECHAM5
  • MRI:CGCM2_3_2
  • NASA:GISS-AOM
  • NASA:GISS-EH
  • NASA:GISS-ER
  • NCAR:CCSM3
  • NCAR:PCM
  • NIES:MIROC3_2-HI
  • NIES:MIROC3_2-MED
  • UKMO:HADCM3
  • UKMO:HADGEM1

Climate feedback

Merupakan mekanisme interaksi  antara proses-proses yang terjadi di sistem iklim, proses tersebut disebut proses timbal-balik jika suatu proses mempengaruhi perubahan proses yang lain dan proses yang lain tersebut juga akan mempengaruhi proses yang pertama tadi.Proses timbal-balik positif terjadi jika memperkuat proses awal, sedang proses timbal-balik negatif akan mengurangi proses awal.

Climate prediction/Prediksi Iklim

Prediksi iklim atau prakiraan iklim adalah hasil  sebagai upaya untuk menghaislkan suatu estimasi dari evolusi aktual kondisi iklim dimasa depan, sebagai contoh, musiman,inter-tahunan, atau skala lebih panjang.

Climate projection/Proyeksi Iklim

Suatu proyeksi merupakan respon dari sistem iklim untuk emisi atau skenario konsentrasi dari GHG dan aerosol  atau  seknario radiative forcing ,sering disimulasikan oleh model iklim.

Proyeksi iklim berbeda dengan prediksi iklim terutama pada penekanan proyeksi iklim berdasarkan skenario emisi/konsentrasi/radiasi yang digunakan, yang berdasarkan asumsi, sebagai contoh, pengembanagn sosial-ekonomi dan teknologi yang bisa terealisasi dan bisa juga tidak sehingga menimbulkan ketidakpastian.

Climate scenario/Skenario Iklim

Refresentasi sederhana dan logis tentang keadaan iklim masa depan, berdasarkan hubungan yang konsisten dari parameter klimatologi  yang dibangun secara ekplisit digunakan dalam investigasi untuk  konsekuensi potensial dari perubahan iklim antropogenik, yang sering sebagai input untuk model. Proyeksi iklim sering digunakan untuk bahan dasar untuk membangun skenario iklim, tetapi skenario iklim  biasanya memerlukan tambahan informasi seperti pengamatan iklim .

Climate sensitivity/ Sensitivitas Iklim

Sensitivitas iklim merupakan istilah yang digunakan untuk dalam laporan IPCC equilibrium climate sensitivity merujuk pada perubahan keseimbangan rata-rata tahunan temperatur permukaan global yang diikuti oleh konsentrasi CO2 sebanyak 2 kalipat di atmosfer. Akibat keterbatasan komputasi, sensitivitas ekuilibrum iklim dalam model iklim biasanya diestimasi dengan menjalankan model sirkulasi kopel global atmosfer untuk suatu model laut mixed-layer, sebab sensitivitas ekuilibrum iklim sebagain besar ditentukan oleh proses atmosfer.

Climate system/Sistim Iklim

Sistim iklim merupakan sistem komplek yang terdiri dari lima komponen utama: atmosphere, hydrosphere,cryosphere, daratan, biosphere, dan interkasi dianataranya. Sistem iklim meningkat dalam waktu dan dipengaruhi oleh dinamika internal dan  gaya luar seperti letusan gunung api, variasi matahari, pengaruh  anthropogenic ( misalnya: perubahan komposisi atmosfer dan perubahan lahan).

Climate variability/Variabilitas Iklim

Variabilitas iklim merujuk pada variasi pada keadaan rata-rata dan statistik ( standard deviasi,kejadian ektrim)  dari iklim pada semua skala spasial dan temporal dimana peristiwa tersebut terjadi.

Variabilitas bisa disebabkan oleh proses internal dengan sistem iklim (variabilitas internal), atau variasi natural atau anthropogenic external forcing (variabilitas ekternal).

Projection/Proyeksi

Suatu evolusi potensial masa depan dari suatu kuantitas atau seperangkat kuantitas, yang sering dihitung dengan bantuan model. Proyeksi berbeda dengan prediksi dalam hal bahwa proyeksi memasukan asumsi yang berkaitan, contoh keadaan sosial-ekonomi, pengembangan teknologi yang mungkin terealisasi dan tidak sehingga menimbulkan ketidakpastian.

Scenario

Deskripsi sederhana dan logis dari bagaimana masa depan terjadi, berdasarkan seperangkat asumsi internal yang konsisten dan koheren tentang driving forces dan yang memiliki key relationships.

skenario Emisi

Skenario Emisi merupakan representasi yang logis dari peningkatan emisi masa depan yang merupakan subtansi sebagai potensi radiatif aktif ( greenhouse gases, aerosols), hal tersebut berdasarkan seperangkat asumsi internal yang konsisten dan koheren tentang driving forces (misalnya demografi dan pengembangan sosial-ekonomi, perubahan teknologi ) dan hubungan diantaranya.

Concentration scenarios, berasal dari skenario emisi yang digunakan sebagai input  untuk climate model  untuk menghitung  proyeksi iklim. Dalam IPCC (1992)  merupakan seperangkat emisi yang merefresentasikan dan digunakan sebagai basis proyeksi iklim IPCC (1996). Emisi-emisi tersebut disebut  IS92 scenarios. Dalam  IPCC Special Report on Emission Scenarios (Nakic4enovic4 and Swart, 2000)  terdapat emisi baru disebut skenario SRES.

Assessment Reports /Laporan Penilaian

Sesuai dengan mandat yang ditegaskan dalam panel, IPCC secara teratur an komprehensif mengeluarkan Assessment Reports /Laporan Penilaian mencakup: saintifik, teknik dan informasi sosial-ekonomi yang berhubungan untuk memahami pengaruh manusia terhadap perubahan iklim, potensi pengaruh perubahan iklim dan berbagai cara untuk mitigasi dan adaptasi. Empat  Assessment Reports telah diselesaikan tahun : 1990, 1995, 2001 and 2007.

Sebagai contohnya, The Fourth Assessment Report “Climate Change 2007” terdiri dari 4 volume dengan berbagai variasi kntribusidiluncurkan bulan November 2007.

Assessment Reports biasanya dipublikasikan dalam beberapa volume, satu untuk tiap Kelompok Kerja (Working Groups), sedangkan materi yang diputuskan oleh Panel, atau Synthesis Report.

Tiap volume yang dihasilkan oleh Working Group terdiri dari  individual chapters, an optional technical summary dan Summary for Policymakers. Sedangkan ,Synthesis Reports merupakan sintesis material berisi Assessment Reports, dan materia lainnya yang berupa kilasan serta rangkuman. Ditulis tidak terlalu teknis mengingat akan gunakan untuk pengambil kebijakan.

Laporan lainnya berupa Special Reports  atau Laporan Khusus yang disiapkan untuk topik tertentu misalnya tentang penerbangan, pengaruh regional dari perubahan iklim, transfer teknologi,skenario emisi, penggunaan lahan, perubahan penggunaan lahan dan hutan, konentrasi CO2 dan hubungannya dengan lapisan ozon serta sistem iklim global.

global-climate

global-climate

Gambar diatas menunjukan bagaimana jika skenario tersebut dijalankan dan pengaruhnya terhadap (a) Emisi Co2,(b)Konsentrasi Co2, (c) Emisi SO2,(d)Perubahan Temperatur, (e)Kenaikan Permukaan Laut. Khusus untuk gambar (d) dan (e) terdapat rentang kemungkinan hasil model. Gambar (e) menunjukan rentang yang sangat besar hasil semua model SRES (selubung garis hitam paling luar), beberapa model SRES (selubung yang berwarna abu-abu, serta rata-rata model SRES ( selubung warna abu-abu yang lebih gelap). Sedangkan berbagai garis yang beraneka warna menunjukan rentang hasil model dari skenario masing-masing, misal warna garis merah solid merupakan skenario model A1B maka rentangan hasil model untuk skenario A1B setinggi garis tersebut,begitu pula garis yang lain.

Kritikan

Skenario SRES mendapat kritikan tajam dari Ian Castles, manatan ahli statistik Australia dan David Henderson, mantan ekonom dari  OECD. Inti kritikan mereka adalah penggunaan market exchange rates (MER)  untuk perbandingan internasional , sebagai gantinya dapat digunakan PPP exchange rate  untuk mengkoreksi  perbedaan dalam  transaksi energi.  Perdebatan tersebut  terus berlangsung sampai saat ini.

Menurut Ian Catles dan David Henderson, penggunaan  MER di  skenario SRES scenarios akan menekan perbedaan pendapatan untuk saat ini dan  terjadi  overestimate mengenai pertumbuhan ekonomi dimasa datang dinegara berkembang, akibatnya hal ini jug akan mendorong overestimate emisi GHG di masa depan. Akibatnya, IPCC harus membuat perubahan iklim yang lebih dramatik daripada yang diproyeksikan sekarang.

Akan tetapi, perbedaan dalam pertumbuhan ekonomi akan diimbangi oleh perbedaan dalam intensitas energi. Beberpa ahli mengatakan bahwa efeknya akan salaing menghilangkan secara penuh, sebagain mengatakan akan saling menghilangkan sebagian.  Sehingga secara keseluruhan, pengaruh perubahan MER menjadi PPP akan memiliki efek minimum pada karbondioksida di atmosfer.

Bahkan jika perubahan iklim global tidak berpengaruh, hakl tersebut ditentang bahwa distribusi emisi regional dan pendapatan  sangat berbeda antara skenario MER dan  PPP. Perdebatan ini dipengaruhi debat politik, dalam skenario PPP, Cina dan India lebih kecil sumbangsihnya untuk emisi global. Hal tersbeut juga menimbulkan pengaruh vulnerability pad aoerubahan iklim  dalam suatu skenario PPP, negara-negara miskin tumbuh lebih lambat dan akan mengalami akibat yang lebih besar.

Untuk download data IPCC:

http://www.ipcc-data.org/sres/gcm_data.html

Reference:

  1. J. Leggett, W.J. Pepper, R.J. Swart, J. Edmonds, L.G. Meira Filho, I. Mintzer, M.X. Wang, and J. Watson. 1992. “Emissions Scenarios for the IPCC: an Update”, Climate Change 1992: The Supplementary Report to The IPCC Scientific Assessment, Cambridge University Press, UK, pp. 68-95
  2. W. J. Pepper, R.J. Leggett, R.J. Swart, J. Wasson, J. Edmonds and I. Mintzer. 1992. “Emission Scenarios for the IPCC An Update, Assumptions, Methodology, and Results”, US Environmental Protection Agency, Washington, D.C.
  3. Brandt and Farrell (2007, Climatic Change, 84: 241-363)
  4. “Climate Change 2007: The Physical Science Basis – Summary for Policymakers”. Intergovernmental Panel on Climate Change (2007). Retrieved on 2007-02-02. Letters to the IPCC
  5. Castles and Henderson (2003), Energy and Environment, 14:159-185
  6. Castles and Henderson (2003), Energy and Environment, 14:415-435
  7. Nordhaus (2007), Energy Economics, 29:349-372
  8. Economist (Feb 13, 2003) Hot Potato: The IPCC had better check its calculations,
  9. Economist (Nov 6, 2003) Hot Potato Revisited: A lack-of-progress report on the IPCC
  10. Economist (May 27, 2004) Measuring Economies: Garbage In, Garbage Out
  11. Gruebler et al. (2004), Energy and Environment, 15:11-24
  12. Holtsmark and Alfsen (2005), Climatic Change, 68:11-19
  13. Manne et al. (2005), Climatic Change, 71:1-8
  14. 14.  Tol (2006), Climatic Change, 75:59-80

Posted in Global Climate Change, Meteorologi, Umum | Dengan kaitkata: , , | 5 Comments »

Skenario Dan Proyeksi Iklim IPCC

Posted by kadarsah pada Mei 29, 2008

Skenario iklim merupakan salah satu cara untuk mengetahui proyeksi iklim kedepan dengan mempertimbangkan berbagai hal yang mempengaruhi kondisi iklim. PBB membentuk badan khusus untuk kajian iklim bernama IPCC. IPCC telah melakukan beberapa skenario iklim untuk mengetahui proyeksi iklim global dan regional sampai 2100. Proyeksi iklim ini diperlukan untuk mengetahui kondisi iklim di masa yang akan datang berdasarkan skenario iklim yang ditetapkan. Proyeksi iklim ini berkaitan erat dengan perubahan iklim (climate change).

Sedangkan definisi perubahan iklim atau Climate change menurut IPCC adalah

a change in the state of the climate that can be identified (e.g. using statistical tests) by changes in the mean and/or the variability of its properties, and that persists for an extended period, typically decades or longer. It refers to any change in climate over time, whether due to natural variability or as a result of human activity. This usage differs from that in the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), where climate change refers to a change of climate that is attributed directly or indirectly to human activity that alters the composition of the global atmosphere and that is in addition to natural climate variability observed over comparable time periods.

Gambar dibawah merupakan skema yang memperlihatkan pengaruh manusia bagi perubahan iklim, pengaruhnya serta respon yang dilakukan terhadap perubahan iklim tersebut.Semua komponen saling mempengaruhi baik itu earth system, human system bagi perubahan iklim serta melibatkan berbagai proses iklim,mitigasi,adaptasi, dampak serta vulnerabilitas.

Schematic framework of anthropogenic climate change drivers, impacts and responses

Dari proses-prose diatas maka dibuat skenario iklim untuk mengetahui proyeksi. Skenario iklim yang dibuat oleh IPCC terangkum dalam gambar berikut.

SRES Scenarios IPCC

Keterangan indeks dari skenario iklim yang digunakan:

A1

-Pertumbuhan ekonomi sangat cepat

-Puncak populasi sekitar tahun 2050 dan menurun setelahnya

-Penggunaan teknologi baru yang efisien

A2

-Pertumbuhan populasi tinggi

-Perubahan/penggunaan teknologi berjalan lambat dan lebih beragam dibanding skenario lain

-Terjadi pertumbuhan ekonomi per kapita

B1

-Pertumbuhan populasi rendah

-Pertumbuhan ekonomi cepat

-Penggunaan teknologi yang bersih dan efektif

B2

-Pertumbuhan populasi sedang

-Pertumbuhan ekonomi sedang

-Penggunaan teknologi yang lebih beragam tetapi tidak sec epat pada skenario A1 dan B1

Gambar dibawa menunjukan perubahan temperatur global, laut dan darat pada tempat -tempat tertentu. Garis warna hitam menunjukan temperatur observasi/pengamatan, warna merah merupakan temperatur hasil model dengan mempertimbangkan faktor manusia dan alam, sedangkan warna hijau hanya melibatkan faktor alam.

Global and continental temperature change

Terlihat bahwa dalam gambar diatas terjadi kenaikan temperatur yang besar, kenaikan ini terjadi di beberapa daerah pengamatan. Kenaikan temperatur terutama di akibatkan faktor manusia ( anthropogenic) hal ini terlihat jelas dari hasil observasi ( garis warna hitam) dengan hasil model yang melibatkan faktor alam dan manusia ( warna merah) yang menghasilkan temperatur yang relatif sama.

Skenario Iklim Untuk Indonesia

Anomali temperatur mengacu pada tahun 1901-1950 untuk enam daerah Asia ( Indonesia dengan lambang SEA dan berwarna hijau muda) yang bewarna hitam deangan simulasinya (warna merah yang menyeliputi garis hitam) yang dihasilkan oleh model MMD.

Proyeksi iklim untuk anomali temperatur dari tahun 2001-2100 oleh model MMD untuk skenario iklim A1B (warna oranye). Warna di ujung sebelah kanan menunjukan rentang perubahan proyeksi iklim untuk tahun 2091-2100 bagi skenario iklim B1(biru),A1B(oranye), dan A2 (merah). Observasi yang dilakukan (garis hitam) menggunakan kurang dari 50 % daerah yang diamati dalam suatu dekade pengamatan.

Sedangkan proyeksi iklim untuk skala global dengan menggunakan Atmosphere-Ocean General Circulation Model, yang ditunjukan gambar di bawah. Dengan skenario iklim :A1T,B1,B2,A1F1,A2,A1B, Konsentrasi emisi yang konstan (tahun 2000) . Sedangkan gambar globe sebelah kanan menunjukan proyeks iklim untuk pemanasan global tahun (2020-2029) dan (2090-2099) berdasarkan skenario iklim A2,A1B dan B1.

Skenario Iklim

Gambar dibawah menunjukan proyeksi iklim tentang emisi global GHG (greenhouse gas=gas rumah kaca) pada enam skenario SRES yang di ilustrasikan dengan garis berwarna dan post-SRES 80 %(area abu-abu). Garis putus-putus menunjukan rentang dari skenario post-SRES(max) dan Post-SRES(min). Emisi yang dimaksud termasuk :Co2,CH4,N2O dan gas-F.

Proyeksi Iklim Temperatur Global

Posted in Global Climate Change | Leave a Comment »

Sekelumit Tentang Pemanasan Global

Posted by kadarsah pada April 23, 2008

 

Pemikiran tentang pemanasan global telah ada sejak dulu, tetapi tindakan nyata untuk mengantisipasinya baru dilakukan dalam dekade terakhir.

  • Rumah kaca merupakan budaya dari tuan tanah kaya Italia untuk membudiyakan sayuran dan tanaman dengan membentuk cuaca mikro. Sehingga tanaman yang tidak bisa tumbuh pada musim dingin bisa tumbuh dan menghasilkan, dengan menanamnya di rumah kaca.
  • Edme mariotte(1681) memperkenalkan sifat Matahari dan dalam penelitiannya dia mengemukakan bahwa energi sinar dan panas matahari mamapu menembus gelas dan materi transparan lainnya sedang sumber lain tidak.
  • Horace Benedict de Saussure (1760) menciptakan alat heliothermometer untuk menunjukan bahwa udara mampu menyimpan panas radiasi matahari dan sekarang disebut Efek Rumah Kaca.
  • Jean-Baptise Joseph Forier,fisikawan-matematikawan Perancis

1. Mengenalkan istilah rumah kaca 1824

2. Suhu hangat terjadi karena sebagain panas sinar matahari terjebak didalam,dan tak bisa keluar karena terhalang dinding dan atap kaca

3. Unusur gas yang paling penting CO2

4. CO2 mengontrol suhu atmosfer bumi

 

  • Svante Arrhennius (1894) menyatakan:

1. CO2 unsur terpenting yang mengontrol suhu atmosfer

2. Kadar CO2 di batuan es yang berasal dari zaman es memiliki 50 % lebih sedikit dibanding di batuan es zamannya .

3. Kenaikan suhu atmosfer beriringan dengan naiknya konsentrasi CO2

4. Mencairnya gunung-gunung es terjadi karena penambahan konsentrasi CO2 di angkasa.

  • Tahapan untuk COP:

1. Konferensi Villach,Austria,1985.

2. PBB membentuk INC kemudian United Nations Conference on Environtment and Development, di Rio de Janeiro,1992 di Brazil atau KTT Bumi. Hasil penting: konvensi PBB tentang keanekaragaman hayati dan Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan iklim (155 negara).

Tujuan konvensi:menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer pada ke tingkat tertentu dari kegiatan manusia yang membahayakan sistem iklim.Emisi karbon di tahun 2000 harus ditekan hingga ketingkat emisi tahun 1990.

 

 

Daftar COP

  • No

Tanggal

Tempat

Presiden

1

1995

Berlin,Jerman

Angela Merkel, Jerman

2

Juli,1996

Jenewa,Swiss

Chen Chimutengwende,Zimbabwe

3

Desember,1997

Kyoto,Jepang

Hiroshi Oki ,Jepang

4

November ,1998

Buenos Aires,Argentina

Maria Julia Alsogaray,Argentina

5

Oktober-November 1999

Bonn,Jerman

Jan Szyzko,Polandia

6

November,2000

Den Haag,Belanda

Jan Pronk,Belanda

7

Oktober-November,2001

Marrakesh,Maroko

Mohamed Elyazghi,Maroko

8

Oktober-November,2002

New Delhi,India

T.R.Baalu,India

9

Desember,2003

Milan,Italia

Miklos Persanyi,Hongaria

10

Desember,2004

Buenos Aires,Argentina

Gines Gonzales Garcia,Argentina

11

Desember,2005

Montreal,Kanada

Stephane Dion,Kanada

12

November,2006

Nairobi,Kenya

Kivutha Kibwana,Kenya

13

Desember 2007

Nusa Dua,Denpasar Bali

Rahmat Witoelar,Indonesia

Baca entri selengkapnya »

Posted in Global Climate Change | Komentar Dinonaktifkan pada Sekelumit Tentang Pemanasan Global

Masa Depan Pulau Kecil :Kiamat Kecil Negara Kepulauan

Posted by kadarsah pada November 30, 2007

Abrasi Pantai (Antara/Str-Gema Setara)Menjadi warga di sebuah pulau kecil tak lagi seindah dulu. Paling tidak, begitulah pengakuan seorang pemuda bernama Oscar, yang kerap muncul chatting di internet menggunakan Yahoo Messenger, dengan nama East_Oscar. Ia mengaku berasal dari Pulau Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.

Kepada teman chatting-nya di Jakarta, Oscar berkisah tentang kampung halamannya nun jauh di tengah laut lepas, di perbatasan Indonesia dengan Filipina. “Kami makin khawatir, pulau kami akan tenggelam akibat pemanasan global,” tulis Oscar. “Kami bingung harus berenang ke mana, di tengah laut terpencil sendirian,” katanya setengah bercanda.

Kini Oscar sedang menuntut ilmu di Manado, ibu kota Provinsi Sulawesi Utara. Tapi kedua orangtua, kakek-nenek, dan para keponakannya tinggal di Miangas, yang pada saat ini dihuni sekitar 800 penduduk. Miangas seakan terapung sendirian di tengah lautan luas, di perbatasan Laut Sulawesi dengan Samudra Pasifik.

Jarak pulau ini ke gugusan pulau-pulau lain di Kepulauan Nanusa, tetangganya di Kabupaten Talaud, sekitar 145 mil. Sedangkan dengan Manado berjarak 260 mil. Oscar perlu waktu sehari semalam untuk mencapai pulaunya dari Manado dengan kapal perintis.

Kekhawatiran Oscar bukan tanpa alasan. Kakeknya sering bercerita, pulau yang dihuninya semakin menciut. Miangas, yang pada zaman sang kakek kecil masih cukup melelahkan untuk dijelajahi, kini sudah mengerut terkepung ombak. Lidah laut seakan menari-nari makin mendekat, siap menelan pulau yang hanya seluas 3,15 kilometer persegi, dengan ketinggian sebagian besar wilayahnya cuma sekitar 1 meter itu.

Udara pun terasa kian menyengat membakar kulit penduduk yang banyak menghabiskan waktu di laut sebagai nelayan. Sebagian besar penghuni Miangas mungkin tak paham apa yang sedang terjadi. Tapi Oscar punya alasan mengapa ia harus khawatir.

Oscar tahu, pemanasan global yang telah mencairkan gunung-gunung es di kedua kutub bumi dan menaikkan permukaan laut itu tak mudah dihentikan atau dihambat. Ia khawatir, kampung halamannya tenggelam ke dasar laut pada akhir abad ini. Selain itu, karamnya Miangas juga akan menimbulkan persoalan batas negara yang pelik.

Pada saat ini, Miangas merupakan “patok” perbatasan Indonesia-Filipina. Jarak Miangas dengan daratan Filipina justru lebih dekat dibandingkan dengan daratan lain di Indonesia. Miangas hanya terpaut sekitar 50 mil dengan Tanjung San Agustin di Pulau Mindanao, Filipina Selatan.

Seandainya Miangas tenggelam, patok perbatasan dengan Filipina tentu akan bergeser jauh ke dalam wilayah Indonesia. Sebab, berdasarkan hukum laut internasional, perbatasan sebuah negara diukur berdasarkan ketentuan zona ekonomi eksklusif, 200 mil dari garis pantai.

Tentu persoalan serupa tak hanya dihadapi Indonesia. Sejumlah negara lain pun yang memiliki pulau-pulau kecil di perbatasan akan menghadapi masalah yang sama. Bahkan negara-negara kepulauan kecil di kawasan Pasifik, yang totalnya dihuni jutaan penduduk, diramalkan semuanya akan tenggelam. Bila peristiwa mengerikan yang diprediksi para ahli itu terbukti benar, maka “kiamat kecil” akan terjadi di kepulauan-kepulauan mungil.

Studi yang dilakukan United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) tahun 2005 memprediksi, hingga akhir abad ini permukaan laut akan naik sekitar 1 meter. Akibatnya, 42 negara pulau kecil yang tergabung dalam Small Islands Developing States (SIDS) terancam tenggelam. Negara-negara itu tersebar di perairan laut Afrika, Asia, Pasifik, Karibia, dan Mediterania.

Bahkan dengan kenaikan permukaan laut 50 sentimeter saja, seluruh Maladewa di Samudra Hindia, dan 60% bagian Pulau Grenada di Karibia, akan tenggelam. Papua Nugini di Pasifik pada saat ini sudah kehilangan 25% garis pantainya karena terendam air laut.

Persoalan terbesar dampak pemanasan global tentu menyangkut nasib para penghuni pulau-pulau kecil itu. Tenggelamnya pulau-pulau kecil dan sebagian daratan pulau besar akan mengakibatkan terjadinya gelombang pengungsian dan krisis kemanusiaan. Karena itu, seperti harapan Oscar, sudah saatnya seluruh warga dunia menyadari dampak pemanasan global, dan bersama-sama mengatasinya.

Pemanasan global (global warming) terjadi karena menumpuknya gas hasil pembakaran bahan bakar fosil, yang biasa disebut gas rumah kaca, terutama karbon dioksida (CO2), di atmosfer bumi. Gas-gas hasil kegiatan industri dan aktivitas lain manusia itu menyebabkan terperangkapnya radiasi gelombang panjang matahari yang dipancarkan kembali oleh permukaan bumi.

Kondisi ini diperparah oleh penipisan lapisan ozon (03) di atmosfer, yang selama ini menjadi payung bumi terhadap radiasi negatif sinar matahari, juga akibat aktivitas manusia. Semakin tipis lapisan ozon, semakin leluasa radiasi gelombang pendek matahari (termasuk sinar ultraviolet) memasuki bumi. Akibatnya, terjadi kondisi seperti di dalam rumah kaca. Suhu permukaan bumi makin tinggi, mencairkan gunung es di kedua kutub, sehingga menaikkan permukaan laut dan mengubah pola iklim dunia.

Baru-baru ini, Inter-Governmental Panel on Climate Change (IPCC) memublikasikan hasil penelitian para ilmuwan dari berbagai negara. Hasil penelitian itu mencatat, selama tahun 1990-2005 telah terjadi peningkatan suhu di seluruh bagian bumi sebesar 0,15 hingga 0,3 derajat celsius.

IPCC memperkirakan, suhu bumi akan meningkat 1,6-4,2 derajat celsius hingga tahun 2050 atau 2070. Di Indonesia sendiri, menurut perkiraan Global Fluid Dynamic dan Goddart International Space Study (dua lembaga dari Amerika Serikat), temperatur udara akan meningkat 2 hingga 4,2 derajat celsius sampai tahun 2050-2070.

Jika peningkatan suhu bumi terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2040 lapisan es di kutub-kutub bumi dan puncak pegunungan akan habis meleleh. Siklus musim akan berubah drastis, dan dunia akan mengalami krisis air tawar.

Deputi III Kementerian Lingkungan Hidup RI, Masnellyarti Hilman, mengatakan bahwa Indonesia sudah merasakan naiknya suhu udara akibat pemanasan global. Hal ini terlihat dari makin menipisnya salju yang dulu menyelimuti satu-satunya tempat bersalju di Indonesia, yaitu puncak Pegunungan Jayawijaya, Papua.

Temperatur udara di beberapa kota juga makin terasa menyengat. Di Jakarta, suhu udara tertinggi pernah mencapai angka 37 derajat celsius. Padahal, dalam kondisi normal, suhu udara tertinggi di Ibu Kota hanya berkisar 33 derajat celsius. Di Medan, Sumatera Utara, sepanjang tahun 1980-2002, temperatur udara tercatat meningkat 0,17 derajat celsius per tahun. Di Denpasar, Bali, peningkatan suhu udara dalam setahun bahkan dilaporkan pernah mencapai 0,87 derajat celsius.

Tak mengherankan jika air laut makin naik, karena bertambahnya volume air akibat melelehnya salju di seluruh permukaan bumi. Direktur Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K), Departemen Kelautan dan Perikanan RI, Profesor Syamsul Maarif, mengatakan bahwa kenaikan air laut di Indonesia mencapai sekitar 0,5 sentimeter per tahun atau 10 sentimeter dalam 20 tahun.

Karena itu, Direktur Pemberdayaan Pulau-Pulau Kecil, Departemen Kelautan dan Perikanan RI, Alex Retraubun, memperkirakan bahwa Indonesia bakal kehilangan banyak pulau kecil pada akhir abad ini, akibat naiknya air laut. “Sejumlah pulau di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, dengan semua infrastruktur industri wisatanya pun akan tenggelam,” ujar Alex.

Data yang dimiliki Profesor Syamsul menunjukkan, Indonesia semula memiliki 17.504 pulau. Kini tinggal 17.480 pulau. Yang lainnya tenggelam akibat naiknya air laut dan penambangan yang menyebabkan permukaan pulau makin rendah. “Karena itu, seluruh penghuni pulau kecil harus sadar bagaimana mengelola pulaunya,” kata Syamsul kepada Mukhlison S. Widodo dari Gatra.

Pakar lingkungan yang juga mantan Menteri Lingkungan Hidup RI, Profesor Emil Salim, mengutip hasil penelitian internasional yang menyimpulkan bahwa sebanyak 634 juta orang di dunia bakal kehilangan tempat tinggal karena tenggelam akibat pemanasan global. Pulau-pulau kecil milik Indonesia akan lenyap dari peta, sehingga garis batas negara akan menciut ke dalam.

“Kita sudah kehilangan lebih dari 20 pulau akibat naiknya muka laut,” kata Emil. “Diperkirakan dalam 30 tahun mendatang, sebanyak 2.000 pulau di Indonesia akan menyusul tenggelam jika laju pemanasan global tak dikendalikan,” Emil menambahkan. Bahkan sebagian wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan Banten akan ikut tenggelam pada akhir abad ini.

Hasil studi Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan Laut, Institut Teknologi Bandung (ITB), tahun 2007 mencatat, permukaan air laut di Teluk Jakarta naik setinggi 0,57 sentimeter per tahun. Kondisi itu diperburuk oleh anjloknya permukaan tanah sampai 0,8 sentimeter per tahun akibat pengambilan air tanah dan pembangunan gedung-gedung bertingkat.

Studi itu memperkirakan, jika suhu bumi terus meningkat, maka pada tahun 2050 sebagian wilayah Jakarta, seperti Kosambi, Penjaringan, dan Cilincing, akan lenyap ditelan laut. Begitu juga sebagian wilayah Bekasi, seperti Muaragembong, Babelan, dan Tarumajaya. Menurut peneliti dari ITB, Dr. Armi Susandi, MT, setiap peningkatan 10 sentimeter permukaan air laut akan merendam 10 meter kawasan pantai. Ia memperkirakan, pada 2030, Bandara Soekarno-Hatta pun mungkin akan terendam laut.

Dampak naiknya permukaan laut akibat pemanasan global sudah dialami warga Jakarta dalam bentuk banjir besar, beberapa tahun belakangan ini. Sebagian besar wilayah Jakarta semakin rentan banjir karena naiknya permukaan laut Teluk Jakarta.

Kondisi ini diperparah oleh terjadinya perubahan pola iklim dan rusaknya lingkungan. Dalam 30 tahun terakhir ini, tercatat telah terjadi perubahan siklus musim kemarau dan musim hujan yang tak teratur. Curah hujan kadang sangat tinggi, dan musim hujan berumur lebih panjang, atau sebaliknya.

Pemanasan global memang berdampak kompleks. Suhu udara yang tinggi juga akan meningkatkan temperatur laut, yang secara langsung akan berdampak pada biota laut. “Kenaikan permukaan laut dan suhu air satu derajat celsius saja bisa memusnahkan sejumlah spesies karang, karena terumbu karang memiliki toleransi yang sempit terhadap perubahan suhu dan kedalaman air,” kata Alex Retraubun.

Akibat pemanasan global, ujar Alex, wabah coral bleaching (pemutihan karang) kini melanda seantero perairan dunia. Di Palau, Samudra Pasifik, misalnya, coral bleaching terjadi sampai kedalaman 90 meter, memusnahkan 99% spesies karang.

Matinya terumbu karang akan membuka perlindungan daratan dari empasan gelombang laut, sehingga meningkatkan proses abrasi pantai. Akhirnya, tentu saja air laut makin merayap maju. Kombinasi berbagai dampak yang ditimbulkan pemanasan global jelas akan mempercepat tenggelamnya pulau atau sebagian pulau karena tertelan laut.

Karena itulah, tinggal di pulau kecil mulai merisaukan Oscar. Di balik deburan syahdu gelombang laut membelai punggung pantai, kini tersimpan bahaya besar. Lidah laut kian merangsek hendak menelan daratan. Wajar saja jika kekhawatiran Oscar mengalahkan keindahan perasaannya mendiami pulaunya nan damai, di antara deru ombak dan semilir angin.

Tiap kembali ke Miangas, Oscar mengaku selalu mengajak warga pulaunya peduli pada lingkungan dengan memelihara vegetasi pantai. Ia memulai upaya melawan pemanasan global dengan menanam pohon, untuk membantu menyerap karbondioksida yang makin menggelayuti atmosfer bumi. Sebuah langkah kecil yang layak diikuti seluruh warga bumi demi masa depan planet ini.

Endang Sukendar dan Bernadetta Febriana
[Perubahan Iklim Dunia, Gatra Edisi Khusus Beredar Kamis, 22 November 2007]

Posted in Global Climate Change | 5 Comments »

Bumi Makin Panas

Posted by kadarsah pada November 23, 2007


Pembangunan Jalan Tol (GATRA/Wisnu Prabowo)Tanpa bermaksud apriori, Pertemuan Para Pihak/Conference of Parties/COP Ke-13 bagi peratifikasi Protokol Kyoto (tanpa Amerika) maupun peserta konvensi (dengan Amerika) tentang perubahan iklim untuk penurunan dan stabiliasi emisi gas rumah kaca akan sulit dicapai. Argumennya, sekalipun mengikat secara hukum (legally binding), karena sifatnya voluntary basis dan saling menguntungkan, maka sangat sulit menagih komitmen kewajibannya para pihak. Tanpa sanksi yang jelas dan tegas bagi peratifikasi Protokol Kyoto maupun konvensi memosisikan penurunan emisi melalui joint implementation scheme, clean development mechanim, emission trading, dan mekanisme lainnya hanya menjadi wacana.

Penolakan emiter terbesar Amerika Serikat dengan 36,1% total emisi dunia pada 1990 untuk meratifikasi Protokol Kyoto tanpa redistribusi ke negara ANNEX 1 menyebabkan target penurunan emisi yang menjadi tanggung jawab negeri adidaya itu tidak terjadi. Posisi emisi gas rumah kaca pada saat ini, yang mencapai 20% di atas emisi tahun 1990, menyebabkan stabilisasi gas rumah kaca ke masa dasar menjadi sangat berat.

Bahkan boleh dikata tidak mungkin dilakukan, karena membutuhkan investasi teknologi dan biaya sangat besar. Tidak tercapainya stabilisasi gas rumah kaca pada periode komitmen pertama (2008-2012) menyebabkan kenaikan suhu permukaan bumi 2 derajat celsius dipercepat. Akibatnya, bumi pun makin panas, dan bencana lingkungan tinggal menunggu eksplosinya.

Pembangunan yang tidak sensitif terhadap climate change dengan lebih mengutamakan pertumbuhan sesaat yang tidak berkesinambungan menyebabkan reduksi emisi dan stabilisasi gas rumah kaca tak dapat dilakukan. Pilihan membangun jalan tol sebagai moda transportasi utama yang memerlukan pembebasan tanah sangat mahal, merusak lingkungan, mengalihfungsikan lahan sawah, boros bahan bakar minyak dibandingkan dengan moda transportasi kereta api –yang murah, efisien, dan ramah lingkungan karena jalurnya sudah tersedia– merupakan teladan rendahnya sensitivitas dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Lambatnya implementasi program penanaman tanah kosong untuk hutan (afforestation), penghutanan kembali (reforestation), dan pengurangan emisi kegiatan deforestasi menyebabkan sumber emisi terus bertambah tanpa diikuti peningkatan wadah penyerap yang signifikan. Kebijakan subsidi terhadap energi yang tidak ramah lingkungan, seperti batu bara, tanpa memperhitungkan kebersihan dan keberlanjutan energi menyebabkan energi terbarukan tidak mendapat tempat yang proporsional untuk berkembang, sehingga peningkatan emisi dan pemanasan atmosfer semakin tidak terkendali.

Belum tersedianya mekanisme pendanaan yang jelas dan harga karbon yang rendah menyebabkan perdagangan karbon dan mekanisme pembangunan bersih belum dapat diimplementasikan secara optimal. Negara pemilik hutan tropis sebagai penambat karbon menginginkan harga yang proporsional dengan pengorbanan yang dilakukan. Pada saat ini, harga 1 ton CO2 berkisar US$ 5. Padahal, menurut kalkulasi, harga wajarnya US$ 10-US$ 20. Sehingga antara calon penambat karbon dan pembeli certified emission reduction (CER) saling menunggu untuk mendapatkan harga terbaik.

Posisi wait and see ini terjadi karena CER merupakan surat berharga yang dapat diperdagangkan, sehingga terbuka peluang untuk mendapatkan keuntungan sesuai dengan mekanisme pasar. Karena itu, diperlukan kebijakan tegas dan transparan dalam penurunan dan stabiliasi emisi lintas sektor, lintas provinsi, kabupaten/kota yang konsisten pada saat memulai pemilihan moda transportasi, penggunaan bahan bakar, dan penghapusan subsidi energi fosil agar adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dapat dipercepat.

Kegagalan penurunan emisi gas rumah kaca peratifikasi Kyoto Protokol dan strategi pembangunan yang tidak sensitive climate change memosisikan bumi terus memanas. Akibat lain, antisipasi perubahan iklim pun berada di simpang jalan. Negara-negara kepulauan (island countries) maupun negara-negara lintang rendah (khatulistiwa) merupakan korban/victim pertamanya. Indonesia adalah contoh kongkret dampak buruk itu.

Peningkatan suhu permukaan bumi dan laut yang ekstrem akibat pemanasan global akan menenggelamkan pulau-pulau kecil Indonesia yang jumlahnya ribuan, menaikkan intensitas dan besaran gelombang, mengacaukan musim, menurunkan produksi ikan, sehingga sangat mengganggu sistem dan kemampuan produksi pangan nasional.

Abrasi pantai, ancaman pada permukiman pesisir, tingginya banjir, dan kekeringan merupakan dampak pemanasan global dengan petani dan rakyat miskin sebagai korban. Ketidakadilan asasi ekonomi dan lingkungan ini, apa pun alasannya, harus dihentikan secepatnya, karena negara-negara korban pemanasan global terampas hak hidup dan kehidupannya. Negara GG 77 plus Cina dan negara negara non-ANNEX 1 harus melakukan tekanan politik serta menagih komitmen negara emiter ANNEX 1 agar secepatnya mengimplementasikan komitmen dan kewajibannya dalam menurunkan emisi.

COP Ke-13 di Bali, yang direncanakan berlangsung pada 3-14 Desember 2007, harus mampu menghasilkan: (1) peta dan skema baru penurunan emisi dengan mengintegrasikan kepentingan Amerika Serikat serta (2) jenis dan mekanisme pendanaan yang transparan. Pengenaan pajak emisi (emission tax) terhadap produsen mesin pengguna bahan bakar fosil dan penghasil bahan bakar fosil untuk pendanaan mekanisme pembangunan bersih dan subsidi langsung korban pemanasan global perlu diintroduksi. Komitmen Amerika untuk mendukung Indonesia sebagai pelaksana COP Ke-13 dapat dimanfaatkan untuk mendorong kesepakatan penurunan emisi agar hajat besar dengan dana APBN Rp 114 milyar itu dapat memberi manfaat langsung bagi pemilik kedaulatan negeri.

Gatot Irianto
Direktur Pengelolaan Air, Ditjen PLA Deptan/Anggota Kelompok Kerja Perubahan Iklim Departemen Pertanian
[Lingkungan, Gatra Nomor 52 Beredar, 8 November 2007]

Posted in Global Climate Change | Leave a Comment »

Indonesia Menepis Tuduhan

Posted by kadarsah pada Oktober 23, 2007

Jakarta, Kompas – Indonesia menepis cap sebagai negara emitor karbon ketiga di dunia yang dilontarkan sebuah lembaga nonpemerintah Wetland International. Kelemahan-kelemahan cara penghitungan yang mendasari pendapat tersebut dibongkar Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jumat (28/9).

Dalam jumpa pers yang dibuka Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Said D Jenie dihadirkan ahli meteorologi dari Unit Teknik Modifikasi Cuaca Edvin Aldrian, Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam Jana T Anggadiredja, serta Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Mezak A Ratag.

Pernyataan bahwa Indonesia adalah emitor CO2 ketiga terbesar setelah Amerika Serikat dan China dilontarkan tahun 2006 di Nairobi, Kenya. Pernyataan Wetland International itu, urai Edvin, lemah dengan lima alasan.

Pertama, publikasi tahun 2006 oleh Wetland International berdasarkan perhitungan Page, yaitu hanya pada kebakaran lahan gambut tahun 1997—ketika itu terjadi El-Nino (yang berdampak kekeringan di Indonesia). Pada tahun-tahun selanjutnya, tahun 1998 hingga sekarang, belum ada penelitian yang komplet.

“Padahal, ada korelasi 90 persen antara titik api dan El Nino,” tegas Edvin. “Indonesia adalah korban variasi tahunan iklim regional,” tambahnya.

Alasan kedua, jika dibandingkan dengan laporan tentang kebakaran tahun 1997 yang dilakukan Duncan, Levine, Heil, Langmann, dan (Edvin) Aldrian, angka hasil penelitian Page—yang digunakan Wetland—lebih tinggi. “Angka maksimum penelitian Wetland 13 kali lipat angka minimum sehingga rata-ratanya terlalu banyak biasnya,” ujarnya.

Yang ketiga, lanjut Edvin yang ditegaskan lagi oleh Mezak, estimasi ini hanya memasukkan faktor kebakaran hutan tanpa memasukkan daya serap karbon oleh hutan saat tidak terjadi kebakaran. Asumsi yang diambil juga mengandaikan seluruh hasil pembakaran berupa CO>sub<2>res<>res<.

Mezak menambahkan, dari data satelit Pusat Satelit Antariksa Eropa (ESA), kondisi kebakaran terparah Indonesia tahun 1997 dan 2006 ternyata tidak lebih parah dari kebakaran di Brasilia dan Benua Afrika.

Sementara alasan kelima, tambah Mezak, dari pengamatan konsentrasi CO>sub<2>res<>res< di stasiun meteorologi di Koto Tabang, Bukit Tinggi—stasiun standar resmi Organisasi Meteorologi Dunia (WMO)—konsentrasinya lebih rendah dari Mauna Loa, Hawaii. Kondisi yang sama terjadi pada penelitian empat tahun terakhir—tahun 2006 terjadi kebakaran hutan yang hebat.

“Yang pasti, jika dibandingkan dengan Amerika tidak bisa karena Indonesia tidak dihitung faktor penyerapan CO>sub<2>res<>res<-nya, sedangkan Amerika itu dihitung,” ujar Mezak.

Jana menambahkan, penyerapan karbon selain oleh hutan juga lautan. Persoalannya, penyerapan karbon oleh lautan tidak masuk dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC).

Inventarisasi

Sementara itu, Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) selaku National Focal- Point masalah perubahan iklim di Indonesia akan membentuk institusi untuk menangani inventarisasi data gas rumah kaca (GRK). Demikian dikatakan Dadang Hilman, Kepala Bidang Perubahan Iklim KLH, pada acara yang digelar BPPT tersebut.

Menurut dia, pembentukan lembaga ini penting karena selama ini perhitungan emisi GRK, terutama CO>sub<2>res<>res<, baru dilakukan di sektor kehutanan, belum di sektor lain. “Perhitungannya masih terpisah-terpisah,” ujarnya.

Mengetahui rencana itu, Idwan Suhardi, Deputi Pemberdayaan dan Pemasyarakatan Iptek Kementerian Negara Riset dan Teknologi, mengharapkan KLH hendaknya melibatkan institusi riset yang memiliki fasilitas pemantauan memadai.

Saat ini pemantauan atmosfer dan lapisan udara atas di Indonesia dilakukan BPPT, BMG, serta Lapan (Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional) untuk berbagai parameter. Pembentukan institusi dimulai tahun ini dengan pertemuan informal antarinstansi terkait. Inventori CO2 diharapkan selesai dua tahun. (YUN/ISW)

Sumber:http://www.kompas.com/kompas-cetak/0709/29/humaniora/3882545.htm

Posted in Berita, Global Climate Change, Meteorologi, Natural Hazard, Sains atmosfer | Leave a Comment »

Indonesia emiter karbon ketiga?

Posted by kadarsah pada Oktober 23, 2007

Oleh Dr. Edvin Aldrian
(Peneliti Madya Meteorologi UPTHB – BPPT dan Dosen Pasca Meteorologi Laut Universitas Indonesia)

peneliti UPTHB – BPP Teknologi, phone 316 8828, email: edvin[at]webmail.bppt.go.id

Laporan penelitian LSM Wetland International dan Delft Hydraulics pada awal November 2006 menempatkan Indonesia sebagai negara penghasil emisi CO2 ketiga dunia setelah Amerika Serikat dan China. Stigma buruk tersebut dirujuk oleh LSM lainnya dengan tanpa adanya kajian dan tanggapan yang memadai. Bahkan dalam rangka mensukseskan peran sebagai tuan rumah konferensi perubahan iklim (COP13) bulan Desember di Bali, Presiden SBY telah mengumpulkan 8 gubernur yang langganan kebakaran hutan agar waspada dan merencanakan membentuk Forestry Eight (Kompas, 1 September 2007).

Sebelum menunjukkan kepanikan kita akan berita yang mendiskreditkan tersebut, ada baiknya kita menyimak dan mengkaji estimasi yang dikeluarkan oleh Wetland International (WI). Menurut WI, akibat kebakaran hutan tahun 1997, 1998 dan 2002 yang menghabiskan lahan hutan antara 1.5 dan 2.2 juta hektar, telah diemisikan CO2 sebesar 3000 hingga 9400 Mton (setara 818 hingga 2563 Mton karbon, dengan asumsi seluruh karbon adalah bagian dari CO2 hasil pembakaran). Nilai emisi tersebut setara antara 13 hingga 40% emisi dunia. Pada bagian lain laporan WI disebutkan bahwa nilai emisi karbon Indonesia dari kawasan gambut adalah 600 Mton akibat oksidasi karena pengeringan lahan dan 1400 Mton CO2 (setara 381 Mton karbon) akibat kebakaran lahan. Dari manakah asumsi angka tersebut?

Perhitungan emisi karbon akibat kebakaran hutan dilakukan dengan mengacu pada beberapa asumsi dasar yaitu jenis lahan, daya bakar lahan, kedalaman lahan bakar (terutama bagi lahan gambut), faktor emisi dan kalibrasi sebaran bakar. Beberapa peneliti mencoba menghitung nilai emisi dari kebakaran hutan tahun 1997 yang merupakan terparah sepanjang sejarah. Page dkk (2002) memperkirakan antara 810 hingga 2563 Mton karbon, sementara Duncan (2003) melaporkan 700 Mton karbon, Levine (1999) mengestimasi 245 Mton karbon dan Heil, Langmann dan Aldrian (2007) melaporkan 1098 Mton karbon. Walhasil angka yang dikeluarkan WI berasal dari estimasi Page dkk (2002) yang memiliki tingkat ketidak percayaan tinggi (rentang nilai yang lebar). Estimasi tinggi dari Page dkk tersebut juga diragukan oleh peneliti diatas lainnya.

Hingga saat ini hanya estimasi dari kebakaran hutan tahun 1997 yang selalu dirujuk dan belum ada publikasi komprehensif untuk kebakaran tahun sesudahnya. Akan tetapi estimasi emisi karbon antara tahun 1998 hingga sekarang dapat dilakukan dengan mengacu pada asumsi yang sama dengan variasi dari jumlah titik api (hotspot) dan satuan jenis lahan (apakah lahan gambut atau bukan). Laporan titik api hasil pemantauan dari satelit NOAA 14 dan 18 dapat diperoleh untuk melakukan kalkulasi emisi tersebut. Hasil estimasi emisi karbon Indonesia akibat kebakaran hutan sepuluh tahun terakhir terlihat pada Tabel 1. Terlihat bahwa nilai emisi tertinggi mencapai 13 kali lipat dari nilai terendah.

Hal yang menarik untuk diperhatikan adalah bahwa variasi titik api bulanan sangat dipengaruhi oleh variasi iklim. Hasil korelasi jumlah titik api paruh kedua tahunan (antara Juli hingga Desember) di pulau Sumatera dan Kalimantan dengan indeks iklim di samudra Pasifik (indeks fenomena El Nino) menunjukkan tingkat korelasi sangat tinggi yaitu diatas 90% (perhatikan Gambar 1). Hal ini membuktikan kuatnya peran iklim dalam mendorong kasus kebakaran, meski disadari bahwa sebagian besar pelaku kebakaran adalah akibat aktivitas manusia. Sehingga dapat dipastikan Indonesia sebagai korban variasi tahunan iklim regional yang nyata.

jul-dec-hotspot.jpg

Gambar 1. Variasi tahunan titik api pulau Kalimantan dan Sumatera dihubungkan dengan indeks El Nino (anomali NINO3 SST)

Data untuk Gambar 1

datagambarsatu.jpg

Hasil estimasi emisi karbon serta hubungan kebakaran hutan tahunan dan iklim membawa beberapa implikasi berikut. Besar kecilnya angka titik api kebakaran hutan tahunan menunjukkan rentannya posisi Indonesia terhadap situasi iklim regional. Hal serupa juga dialami oleh Yunani pada musim panas tahun ini atau Amerika Serikat serta Spanyol yang mengalami kebakaran hutan pada saat musim yang sangat panas dan kering. Dalam posisi ini Indonesia dapat mengajukan dana adaptasi akibat perubahan iklim dan bukan sebagai “hanya” penghasil emisi. Nilai yang dipublikasi oleh WI sebagai dasar Indonesia rangking tiga besar dunia memakai porsi lahan gambut dari seluruh lahan terbakar yaitu sekitar 1400 Mton CO2 (setara dengan 381 Mton karbon). Nilai ini sendiri apabila dibandingkan dengan fluktuasi nilai emisi tahunan dari seluruh lahan terbakar (Tabel 1) menunjukkan angka yang terlalu tinggi terutama pada tahun-tahun non El Nino yaitu 1998, 1999, 2000, 2001, 2003, 2005 dan 2007 (proyeksi). Pada tahun-tahun tersebut dapat dipastikan bahwa emisi karbon Indonesia tidak menempati rangking tiga dunia.

Table 1. Estimasi emisi karbon akibat kebakaran hutan sejak 1997. Perhitungan 2007 memakai data hingga bulan September.

emisi-karbon1.jpg

Dengan demikian nilai tengah yang mereka pakai untuk menobatkan Indonesia di posisi ketiga kurang sesuai, apalagi mengingat rasio emisi tahunan tertinggi dan terendah yang sangat tajam (13 kali lipat). Hal lain yang perlu diingat adalah estimasi ini semua hanya memasukkan faktor kebakaran hutan tanpa memasukkan nilai daya serap hutan disaat tidak terjadi kebakaran. Dalam perhitungan emisi karbon global beberapa negara sudah memasukkan unsur daya serap hutan mereka, sedangkan untuk hutan Indonesia hal ini belum dilakukan karena belum ada kesepahaman metoda. Kesalahan terakhir adalah asumsi bahwa seluruh hasil pembakaran berbentuk CO2 bukan senyawa karbon lainnya. Nyatalah, bahwa kita harus selalu waspada akan berbagai upaya yang mencoba mendiskreditkan posisi Indonesia dalam post Kyoto Protokol, perdagangan emisi global dan upaya pemerintah untuk mengurangi dampak kebakaran hutan. Apalagi Indonesia sedang dalam proses ratifikasi UU ASEAN Transboundary Haze. Posisi estimasi emisi karbon ini perlu diangkat dalam negosiasi karbon global serta memposisikan kepentingan rehabilitasi dan pelestarian lahan gambut yang kita miliki.

Posted in Global Climate Change, Klimatologi, Meteorologi, Model Meteorologi, Natural Hazard, Sains atmosfer | 1 Comment »

Kemarau Basah akibat La Nina

Posted by kadarsah pada September 18, 2007

Edvin Aldrian

Hampir sebagian besar wilayah Indonesia masih diguyur hujan pada saat musim yang seharusnya sudah berada di pertengahan musim kemarau. Beberapa pihak menengarai tahun ini sebagai kemarau basah yang disebabkan oleh fenomena La Nina di Samudra Pasifik barat (Kompas, 26 Mei 2007).

Selain itu, juga kombinasi dengan Indian Dipole Mode (DM) positif di Samudra Hindia. Benarkah demikian atau adakah penyebab lainnya?

Memang, El Nino/La Nina dan DM merupakan dua fenomena regional utama yang memengaruhi iklim Indonesia.

El Nino (atau La Nina) akan mengurangi (atau menambah) curah hujan pada musim kemarau di Indonesia, terutama di wilayah timur hingga selatan Indonesia. Adapun DM positif (atau negatif) akan memengaruhi curah hujan di wilayah Barat, seperti Sumatera bagian selatan dan Jawa dengan mengurangi (atau menambah) pada musim kemarau.

Berdasarkan hasil pemantauan karakteristik curah hujan tahunan Indonesia, ada kecenderungan bahwa setelah terjadi tahun El Nino (tahun kering) biasanya diikuti dengan peningkatan curah hujan pada kemarau tahun berikutnya. Hal ini terbukti terjadi pada tahun 1998/1999 setelah El Nino kuat 1997/1998, dan pada tahun 2003/2004 setelah El Nino lemah tahun 2002.

Padahal, tahun 2006 kita mengalami juga El Nino lemah yang berawal agak telat di sekitar bulan November. Selain itu, DM kuat positif tahun 2004 juga diikuti oleh tahun kemarau basah 2005.

Secara teoretis pendapat itu dapat dipahami karena berdasarkan konsep neraca energi (energy balance) klasik, termasuk uap air akan selalu mencapai keseimbangan setelah mengalami kondisi ekstrem tertentu, akan berbalik ke kondisi ekstrem lainnya. Dengan pola yang sama, kemungkinan besar tahun 2007 ini adalah tahun kemarau basah.

Salah satu penyebab lain yang belum dan kurang dibahas adalah pengaruh dari pemanasan global. Hasil kajian dari NASA menunjukkan bahwa lima tahun terpanas sejak pengukuran tahun 1890, berturut-turut adalah tahun 2005, 1998, 2002, 2003, dan 2004.

Dari data itu, hanya tahun 1998 yang merupakan tahun La Nina; tahun 2004 adalah tahun dengan DM kuat positif, sedangkan sisanya tidak ada indikasi jelas La Nina ataupun DM kuat.

Suatu tahun diindikasikan mengalami La Nina apabila suhu laut di wilayah Pasifik barat, semisal daerah NINO3, mengalami penurunan di bawah rata-ratanya melebihi nilai standar deviasinya (stdev), yaitu 1 ºC.

Sementara kondisi DM dinyatakan setelah ada perbedaan antara dua wilayah kutub (dipole) di Samudra Hindia dengan perbedaan melebihi 0,52 ºC (stdev). Kondisi terakhir yang terpantau saat ini deviasi nilai suhu laut di wilayah NINO3 (5 LS-5 LU, 150 BB-90 BB) adalah -0,46 ºC dan indeks DM 0,82 ºC.

Meskipun nilai indeks DM telah di atas standar deviasinya sehingga dinyatakan sebagai tahun DM positif, tetapi dari hasil kajian lebih mendalam terlihat bahwa nilai deviasi kutub (dipole) di wilayah barat adalah 0,6 ºC dengan stdev 0,36 dan di wilayah timur, yaitu wilayah barat daya Pulau Sumatera adalah -0,23 ºC dengan stdev 0,43 ºC (total indeks DM 0,82 ºC).

Adapun hasil kajian data DM sepuluh tahun terakhir menunjukkan bahwa kutub wilayah timurlah yang lebih berpengaruh terhadap iklim Indonesia yang kondisi terakhir masih jauh di bawah nilai stdev-nya.

Pemanasan global

Dapat disimpulkan, dalam sepuluh tahun terakhir, apabila El Nino/La Nina dan DM lemah, pemain ketiga yang menentukan iklim Indonesia adalah pemanasan global.

Akibat dari pemanasan global ini suhu laut di wilayah Indonesia masih relatif hangat (di atas 28 ºC) sehingga memberikan suplai uap air yang cukup bagi proses konveksi dari curah hujan tinggi di beberapa wilayah Indonesia.

Hal ini terbukti oleh beberapa peristiwa banjir yang dilaporkan di beberapa wilayah Indonesia, seperti Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Maluku pada akhir Juni lalu. Dengan berbagai indikator iklim di atas, diprediksi bahwa tahun 2007 ini sebagai salah satu tahun bumi terpanas.

Hasil kajian ini berbeda dari analisis yang dilansir BMG (Kompas, 5 Juni 2007) yang menyebutkan bahwa kombinasi La Nina dan DM positif dapat mengakibatkan situasi basah di wilayah timur serta utara Indonesia dan kering di wilayah selatan Indonesia.

Pelajaran yang dapat diambil dari tahun 2005 atau tahun terpanas lainnya menunjukkan bahwa kemarau basah akan berlangsung hingga awal musim hujan (2005) atau kemarau kering yang relatif pendek.

Pada Juni dan Juli 2005 tercatat bahwa Jakarta mengalami banjir akibat intensitas hujan tinggi. Selain itu, jumlah titik api akibat kebakaran hutan pada musim kemarau tahun-tahun tersebut relatif sedikit dibandingkan tahun lainnya.

Apabila hal ini terjadi pada tahun ini, akan menguntungkan delegasi Indonesia menghadapi konferensi COP 13 perubahan iklim pada awal Desember mendatang di Bali di mana “momok” emisi karbon Indonesia selalu membayangi.

Data terakhir menunjukkan, jumlah titik api di Sumatera dan Kalimantan pada Mei dan Juni 2007, yaitu 193 dan 400 titik, dibandingkan Mei dan Juni 2006 yang 7.956 dan 1.129 titik. Itu berarti menunjukkan penurunan luar biasa.

Sektor pangan serta energi dapat menikmati keuntungan pada tahun ini setelah kemarau panjang tahun 2006. Bagi sektor pertanian, peningkatan ketersediaan air merupakan peluang yang sangat ideal untuk meningkatkan luas tanam (area of planting), indeks pertanaman (cropping intensity), dan produktivitas (productivity).

Terlebih untuk mengejar program penambahan produksi beras 2 juta ton tahun 2007. Bagi sektor kehutanan, periode basah merupakan peluang yang sangat baik untuk menambal hutan yang gundul dan meningkatkan kualitas agroforest yang ada atau bahkan mengembangkan areal baru.

Program jangka pendek ini perlu dijadikan crash program lintas sektoral agar hasilnya lebih maksimal. Berbagai implikasi strategis akibat dampak positif iklim ini harus bisa lebih nyata kita peroleh sesuai pengalaman tahun 1998 dan 2003 yang juga relatif basah.

Edvin Aldrian, Peneliti Madya UPTHB-BPPT/ Dosen Pascameteorologi Laut Universitas Indonesia

Posted in Global Climate Change, Meteorologi | 5 Comments »

Mari Kita Ciptakan Budaya Ramah Ozon

Posted by kadarsah pada September 15, 2007

 

TANGGAL 16 September 1987, Program Lingkungan PBB (United Nations Environment Programme) mendeklarasikannya sebagai Hari Ozon Dunia. Deklarasi itu bertepatan dengan penandatanganan Protokol Montreal oleh 24 negara, yang berisi penjabaran pelaksanaan konvensi perlindungan lapisan ozon yang memuat secara terperinci langkah-langkah yang perlu diambil dalam pengawasan produksi dan konsumsi bahan perusak ozon (BPO). Sekarang, tepat 20 tahun sejak penandatanganan Protokol Montreal, dunia memperingati tanggal tersebut sebagai ”Tahun Internasional Lapisan Ozon”.

Protokol Montreal merupakan tindak lanjut dari Konvensi Jenewa 1982 yang menjadi landasan hukum pelaksanaan perlindungan lapisan ozon di tingkat internasional. Protokol tersebut mensyaratkan seluruh negara bekerja sama melaksanakan pengamatan, penelitian, dan pertukaran informasi guna memperoleh pemahaman yang lebih baik dan mengkaji dampak kegiatan manusia terhadap lapisan ozon serta dampak penipisan lapisan ozon terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Pemerintah Indonesia menetapkan kebijakan untuk berpartisipasi aktif dalam upaya perlindungan lapisan ozon dan terdaftar sebagai anggota Konvensi Wina dan Protokol Montreal pada tahun 1992.

Mengapa lapisan ozon harus dilindungi? Alasannya, lapisan ozon menyelamatkan kehidupan di bumi. Bila lapisan ozon menipis, akan semakin banyak radiasi ultraviolet matahari yang sampai ke permukaan bumi. Radiasi ultraviolet matahari yang berlebihan dapat menyebabkan berbagai efek terhadap kesehatan, termasuk kerusakan kulit (kanker kulit dan penuaan dini), kerusakan mata (termasuk katarak), dan menurunnya sistem kekebalan tubuh. Radiasi ultraviolet yang berlebihan diyakini mengakibatkan peningkatan melanoma, yaitu sejenis kanker kulit yang paling fatal.

Amerika memperkirakan pada tahun 2165, aksi perlindungan dan pemulihan lapisan akan bisa mencegah 6,3 juta kasus kematian karena kanker kulit. Di Amerika saja bila dikonversi dengan nilai keuntungan kesehatan masyarakat, kira-kira setara dengan 4,2 triliun dolar AS. Kita bisa hitung berapa juta atau mungkin miliar kasus kematian karena kanker kulit yang bisa dicegah dan berapa triliun dolar kerugian yang bisa dihindari.

Pemulihan lapisan ozon

Saat ini lebih dari 191 negara pendukung Protokol Montreal telah membuat langkah-langkah untuk melindungi lapisan ozon, lingkungan, dan kesehatan manusia, di antaranya dengan mengurangi dan mengontrol produksi 100 jenis bahan perusak ozon (BPO). Pada tahun 1987, produksi BPO yang dikontrol oleh protokol ini lebih dari 1,8 juta ton per tahun dan pada akhir 2005 sudah berkurang produksinya menjadi 83.000 ton.

Langkah sukses yang dicapai dalam mengurangi produksi BPO ini sangat membantu melindungi kesehatan manusia dan lingkungan. Tercapainya 95% pengurangan produksi BPO tidak mungkin terwujud tanpa adanya dukungan yang kuat dari negara-negara pendukung Protokol Montreal, yaitu dengan mengubah secara fundamental perilaku komunitas dunia dalam melakukan bisnis, serta memacu pengembangkan alternatif dan teknologi baru yang ditujukan untuk melindungi lapisan ozon. Sebagian besar bentuk BPO adalah sejenis gas rumah kaca yang potensial dan dapat memengaruhi perubahan iklim global.

Akan tetapi, kerja Protokol Montreal masih belum selesai. Para ilmuwan saat ini memperkirakan pemulihan lapisan ozon akan terjadi pada akhir abad ini. Perkiraan tersebut berdasar pada asumsi Protokol Montreal akan dilaksanakan secara penuh, dalam arti penghapusan (phase out) secara menyeluruh ODS generasi pertama (sejenis CFC) di negara berkembang dan penghapusan secara menyeluruh ODS generasi kedua (HFCFC) yang dijadwalkan diperpanjang sampai tahun 2040.

Pemulihan berkelanjutan lapisan ozon mungkin akan bisa terjadi bila penghapusan BPO di seluruh dunia sudah dilakukan. Diperkirakan lapisan ozon akan kembali pada kondisi sebelum 1980 sekitar tahun 2050 sampai 2075. Apa yang bisa kita lakukan agar bisa membantu upaya pemulihan lapisan ozon?

Ramah ozon

Ozone friendly” atau kita sebut saja ”ramah ozon” bisa kita terjemahkan sebagai segala tindakan atau perilaku yang dilakukan masing-masing individu untuk mengurangi dan mengeliminasi pengaruh terhadap lapisan ozon stratosfer yang disebabkan oleh produk yang kita beli, seperti peralatan rumah tangga atau kantor yang kita gunakan, atau proses pembuatan bahan/barang yang dilakukan di perusahaan/pabrik kita. Produk yang dibuat dengan bahan perusak ozon (BPO) atau mengandung BPO seperti CFC, HCFC, halon, metil kloroform, dan metil bromida dapat berkontribusi pada penipisan lapisan ozon.

Perilaku di bawah ini adalah tindakan yang dapat kita lakukan secara individu untuk membantu melindungi lapisan ozon.

1. Menjadi konsumen yang ”ramah ozon”. Dapat dilakukan dengan selalu membeli produk (misalnya aerosol dalam kaleng, lemari es, pemadam kebakaran, dll.) yang berlabel ozone friendly atau Free CFC. Label tersebut menunjukkan bahwa produk-produk tersebut tidak mengandung BPO seperti CFC atau halon.

2. Menjadi pemilik rumah yang ”ramah ozon”. Membuang secara bertanggung jawab lemari es dan perabot rumah tangga yang sudah tidak terpakai. Lemari es yang menggunakan bahan pendingin CFC dan HCFC harus dibersihkan/dikeluarkan dari perabot rumah tangga sebelum kita buang. Pemadam kebakaran portable yang mengandung halon yang sudah tidak dibutuhkan lagi dikembalikan kepada perusahaan terkait untuk didaur ulang.

3. Menjadi petani yang ”ramah ozon”. Bila menggunakan metil bromida untuk fumigasi tanah, pertimbangkan untuk mengganti bahan pestisida yang merusak ozon ini dengan bahan yang efektif dan aman, seperti yang digunakan di negara lain yang sudah mengganti metil bromide.

4. Menjadi teknisi servis/perbaikan peralatan rumah tangga yang ”ramah ozon”. Pada waktu memperbaiki peralatan rumah tangga seperti kulkas atau AC, yakinkan bahwa bahan pendingin dari AC, lemari pendingin, atau freezer tersebut tidak ”bocor” atau terlepas ke atmosfer. Bantu untuk memulai mengganti bahan pendingin dengan yang non-CFC .

5. Menjadi pegawai kantor yang ”ramah ozon”. Membantu kantor kita mengidentifikasi peralatan (seperti pendingin air, AC, larutan pembersih, dan bahan pemadam kebakaran) dan produk yang dibeli (aerosol spray, busa (foam) untuk bantalan alas duduk, larutan untuk mengoreksi tulisan di kertas, dan lain-lain) yang menggunakan BPO, buat rencana untuk mengganti alat atau bahan tersebut dengan bahan alternatif yang efektif tidak merugikan.

6. Menjadi guru yang ”ramah ozon”. Informasikan kepada murid-murid tentang pentingnya melindungi lapisan ozon. Ajari murid tentang bahaya pengaruh BPO terhadap atmosfer, kesehatan, langkah-langkah yang dilakukan secara nasional, maupun dunia internasional untuk memecahkan masalah ini.

7. Menjadi organisator komunitas yang ”ramah ozon”. Menginformasikan kepada keluarga, tetangga, dan teman-teman tentang perlunya melindungi lapisan ozon dan bantu mereka untuk ikut terlibat.

8. Menjadi warga yang ”ramah ozon”. Perbanyak membaca dan mempelajari lebih jauh tentang dampak penipisan lapisan ozon terhadap manusia, binatang, dan lingkungan, juga strategi dan kebijaksanaan nasional untuk mengimplementasikan Protokol Montreal dan cara penghapusan BPO di negara kita. Menghubungi unit ozon nasional yang ada di negara kita dan belajar bagaimana kita bisa terlibat secara individu.

Perilaku di atas sudah sejak lama dikampanyekan dan dilakukan di negara lain. Bagaimana dengan di negara kita?. Mari kita selamatkan lapisan ozon kita dari kerusakan, dengan berperilaku ”ramah ozon”, mulai dari ”diri kita” dan ”lingkungan kita” sekarang juga.

(Dr. Ninong Komala, peneliti Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Bandung)***

Sumber :http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/092007/16/0104.htm

Posted in Berita, Global Climate Change | 3 Comments »