Kadarsah

Meteorologi dan Sains Atmosfer

Prakiraan Musim

Posted by kadarsah pada Februari 11, 2009

Tulisan ini diambil dari sumber utama website BMKG :

http://www.bmg.go.id/data.bmg?Jenis=Teks&IDS=3093805704743005223

Dan file pdfnya bisa diambil dipmh08091

Prakiraan musim merupakan proses memprediksi permulaan musim hujan /musim kemarau, perbandingannya  dengan rata-rata klimatologi (30 tahun) disertai sifatnya.

Beberapa istilah penting yang sering digunakan:

DASARIAN adalah rentang waktu 10 (sepuluh) hari. Dasarian I adalah Tanggal 1 sampai 10 Dasarian, II adalah Tanggal 11 sampai 20, Dasarian III adalah Tanggal 21 sampai dengan akhir bulan

Curah hujan (mm) : merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak
mengalir. Curah hujan 1 (satu) millimeter, artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu
millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.

Curah hujan kumulatif (mm) :  jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut. Dalam periode musim, rentang  waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).

Permulaan Musim Kemarau: jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya. Permulaan musim kemarau, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya (rata-rata 1971-2000).

Permulaan Musim Hujan,: jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan
diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya. Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari
normalnya (rata-rata 1971-2000).

Definisi sifat hujan:
Di atas Normal (AN) : jika nilai perbandingannya >115%
Normal (N)
: jika nilai perbandingannya antara 85% -115%
Di bawah Normal (BN) : jika nilai perbandingannya <85%

Standar yang digunakan sebagai pembanding adalah   rata-rata curah hujan selama 30 tahun ( 1971-2000,BMKG).

Berdasar pengelompokan pola distribusi curah hujan rata-rata bulanan, BMKG telah mengidentifikasi seluruh wilayah Indonesia menjadi :
a. Zona – Zona yang mempunyai batas yang jelas antara periode musim hujan dan periode musim kemarau, disebut Zona Musim ( ZOM )
b. Zona – Zona yang tidak mempunyai batas yang jelas antara periode musim hujan dan musim kemarau, disebut Luar Zona Musim ( Non ZOM ).

Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan. Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten, dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.

Berdasar hasil pengolahan dan analisis data periode 30 tahun (tahun 1971 – 2000), wilayah Indonesia terbagi menjadi 220 ZOM dan 73 Non ZOM yang terdiri dari:

  • Sumatera 26 ZOM
  • Jawa 94 ZOM
  • Bali 13 ZOM
  • Nusa Tenggara Barat 14 ZOM
  • Nusa Tenggara Timur 20 ZOM
  • Kalimantan 16 ZOM
  • Sulawesi 22 ZOM
  • Kepulauan Maluku 8 ZOM
  • Papua 7 ZOM.

Daerah Non ZOM pada umumnya memiliki ciri mempunyai 2 kali puncak hujan dalam setahun (pola Ekuatorial), sepanjang tahun curah  hujannya tinggi atau rendah, dan waktu terjadinya musim hujan dan musim kemarau kebalikan dengan daerah ZOM (pola Lokal).

Gambar dibawah menunjukkan daerah-daerah mana saja yang termasuk ZOM dan Non ZOM serta prakiraan sifat curah hujan Non ZOM periode Oktober 2008-Maret 2009 terhadap rata-ratanya ( 1971-2000).

Pembagian wilayah Indonesia kedalam ZOM (220)dan Non Zom(73) merupakan deskripsi detail dari pola curah hujan yang global di Indonesia yang membagi kedalam tiga pola utama ( ekuatorial,monsunal dan lokal, https://kadarsah.wordpress.com/2007/06/29/tiga-daerah-iklim-indonesia/).

sifatnonzom

14 Tanggapan to “Prakiraan Musim”

  1. Nuraini said

    Pak Kadarsah, yg ingin saya tanyakan adalah
    Tentang permulaan musim kemarau/hujan, maksud dari diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya itu apakah ada batasannya berapa dasarian? dan besarnya jg hrs =50 mm utk musim hujan ya?

    Trimakasih sblmnya atas tanggapan Bapak

    Nur

  2. kadarsah said

    Terimakasih atas pertanyaanya.
    Memang itulah definisi yang tercantum, tetapi praktik yang selama ini dilakukan adalah diikuti 2 dasarian. Total ketiga dasarian batasannya 150 mm.
    Pertanyaan lain yang bisa diskusikan:
    1.Berdasarkan apa batasan 150 mm itu?
    2.Apakah dilakukan sama pada setiap daerah ( mengingat Indonesia memiliki 293 pola iklim)?
    3.Apakah harus direvisi atau tidak terkait dengan perubahan iklim?

    Terkait dengan sifat hujan berdasarkan apa batasan 85 % dan 115 % digunakan? Apakah tidak pernah berubah?

  3. Dadi P said

    Kenapa pembagian pola musim ini berdasarkan ZOM tidak kabupaten or kecamatan saja?

  4. kadarsah said

    Kalau pembagian pola musim berdasarkan kabupaten/kecamatan (batas pemerintahan/administrasi) akan mengalami kesulitan sebab harus disesuaikan dengan pemekaran daerah yang terjadi.
    Pembagian pola musim ini sebagai gambaran bahwa daerah tersebut memiliki pola hujan yang sama.

  5. saya sepakat dengan pertanyaan mas kadarsah atas jawaban dr sdri.nuraini.
    sebagai gambaran, papua merupakan wilayah yang sangat berbeda dari daerah lainnya. untuk hal ZOM pun sebenarnya menurut saya BMKG perlu merevisi karena pada kenyataannya ada ZOM di papua yang musim kemaraunnya sepanjang tahun artinya terjadi sejak dasarian I januari. Apakah daerah seperti ini masih bisa dikategorikan ZOM..?

  6. kadarsah said

    Terimakasih untuk komentar Mas Robi yang telah memberi pencerahan kepada kita semua. Untuk kasus ZOM di Papua yang mengalami musim kemarau sepanjang tahun saya kira harus dimasukan ke daerah NON ZOM ini sesuai dengan definisi yang dilakukan BMKG.

    Jadi idealnya memang harus terus dilakukan pemantauan tentang perubahan ZOM menjadi Non ZOM atau sebaliknya dan harus juga dilakukan evaluasi kehandalan model yang digunakan misalnya
    -menggunakan ROC (Relative Operating Characteristics ) yang disusun dengan memplotkan nilai False Alarm Rate dan Hit Rate

    -Relative Operating Level (ROL) yang disusun dengan memplotkan Correct Alarm Ratio (CAR) dengan Miss Ratio (MR)

  7. Yudha said

    Halo Pak Kadarsah, baru nemu blog ente nih. Artikel2-nya menunjukkan dedikasi sebagai peneliti iklim.

    Pertanyaan :

    1. Daerah Non ZOM itu yg tdk ada nomornya ya ?

    2. Data apa yg digunakan untuk analisa pola curah hujan di Indonesia ?, apakah data dari penakar ?, kalau memang iya bagaimana membuat batas2 spasial dari data titik ?…

    @Mas Robi, temuan anda menarik, ini untuk Papua daerah mana ?, berapa penakar hujan ?, berdasarkan data brp tahun ?. Kalau anda punya data ~30 thn, bisa coba korelasi-kan dengan index ENSO (Nino 3.4 atau 3).

  8. kadarsah said

    Terimakasih atas pertanyaanya, saya akan jawab sepengetahuan saya
    1.Non ZOM tidak pakai nomor
    2.Data yang digunakan data observasi ( data penakar hujan), untuk lebih jelasnya dan membuata data spasialnya bisa di tanyakan langsung ke alamat yang tertera di website.

  9. RAHMAN said

    TANYA PAK????

    KENAPA HARUS DASARIAN????
    KENAPA BUKAN 1 HARIAN, KENAPA BUKAN BULANAN, KENAPA BUKAN TAHUNAN???

    APAKAH HAL INI BERLAKU SAMA UNTUK DEBIT DAN EVAPOTRANSPIRASI PADA SUATU DAS?????

  10. Fajar D said

    Pak Kadarsah,
    Saya berminat dalam pengetahuan prediksi iklim.
    Menurut bapak metode manakah yang paling mudah dalam memprediksi iklim?
    Jika ada saya ingin meminta referensinya juga.
    Terima kasih.

    • kadarsah said

      Terimakasih.
      Setidaknya ada dua metode besar;
      1.Metode statistik menggunakan model-model statistik: Arima,Wavelet,dlln
      2.Metode dinamik: menggunakan model dinamik:REMO,RegCM3,EtaModel, dlln

      Kedua metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan dan untuk tujuan riset keduanya harus dicoba. Tetapi untuk tujuan yang sederhana, tidak memerlukan SDM, komputer yang tidak terlampau besar metode statistik dapat digunakan.

  11. RetnoSari said

    Pak Kadarsah,
    Apakah istilah ZOM itu menggantikan istilah DPM? Apakah memiliki makna yg sama? Sejak kapan istilah tsb digantikan?
    Thanks!

  12. dessy said

    saya mau tanya pak tentang dasar dari pembagian Zona Musim itu apa yah?????

  13. rion salman said

    pak selamat pagi, ada yang ingin saya tanyakan pak..kalo pada daerah kalimantan barat termasuk non zom pak..berarti dapat disebut juga sebagai pola equatorial? cuma yg saya tau kan kalo non zom pola awal musim itu tidak jelas pakah benar seperti itu pak?
    mohon pencerahanya pak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: