Kadarsah

Meteorologi dan Sains Atmosfer

Hari Meteorologi Sedunia Sebuah Catatan Menyambut Bencana

Posted by kadarsah pada April 14, 2008

Oleh Paulus Agus Winarso

Bencana, baik yang dari kondisi alam esktrim dan buatan beberapa tahun terakhirtelah berlangsung di Indonesia. Tidak ada indikasi bencana akan reda. Bahkan perkembangan akhir-akhir ini terkesan semakin meningkat dan meluas di kawasanyang semula tidak terjadi bencana. Ini dapat dipelajari dan kaji sebagai dampak variabilitas cuaca dan iklim.Hingga beberapa hari lalu masih muncul banjir, banjir bandang dan tanahlongsor, dan terakhir angin kencang/puting beliung dan guntur.Kejadian ini telah dibicarakan mulai dari peneliti dan praktisi yang terkait. Namun belum terlihat upaya dalam pengelolaan bencana, khususnya menyusun langkah tindakan terencana yang komprehensif dalam mitigasi dan antisipasi.Persepsi ini diketengahkan karena pengalaman menunjukan, setelah bencana,kondisi alam kembali ditinggalkan dan dilupakan. Kini, Maret 2005 ini, paduan kondisi longsor dengan hujan lebat banyak terjadi pada beberapa kawasan Jawa bagian Barat. Kesemuanya menunjukan kecenderungan alam dan lingkungan semakin rentan seiring dengan pola cuaca dan iklim yang cenderung esktrim, baik itu esktrim kering yang menimbulkan bencana kekeringan, serta yang terjadi hingga kini esktrim basah atau kebanjiran. Bencana yang muncul dan terjadi telah menjadi perhatian berbagai masyarakat dengan konsekuensi dampak kerugian moril dan materiil serta gangguan terhadap program pembangunan berkelanjutan yang dilaksanakan.

Perubahan Global

Pandangan dan wacana ini sengaja disajikan di awal tulisan sebagai upaya penelusuran kenyataan kondisi alam dan lingkungan sekitar kita yang cenderung rentan bencana akibat cuaca dan iklim yang cenderung esktrim. Padahalsebelumnya pada era sebelum 1990 Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mendapat penghargaan dari organisasi pangan dunia FAO sebagai negara yang berhasil dalam swasembada pangan. Namun itu tinggal kenangan setelah muncul fenomena alam global El Nino. Kondisi ini yang merupakan analisis dari kejadian yang telah berlangsung. Hal ini memberi petunjuk bahwa pola cuaca dan iklim di alam raya situasi dan kondisinya tidak beraturan dengan tingkat kecenderungan pada munculnya kondisi cuaca dan iklim esktrim basah atau esktrim kering.

Periode esktrim kering cenderung lebih panjang. Dan esktrim basah cenderung pendek tetapi intensitas hujan yang tinggi yang kadang-kadang diikuti dengan munculnya angin kencang dan petir bersahut-sahutan. Kondisi yang demikian sangat terkait dengan hadirnya suatu kondisi badai yang muncul. Anehnya, semula hanya terjadi pada masa peralihan musim dari kering – basah atau sebaliknya. Kini dalam musim kering atau musim basah juga sering muncul dan berlangsung dibeberapa kawasan di Indonesia. Periode kegiatan kondisi badai ini tidak sampai dalam hitungan satu jam (rata-rata kejadian 10 – 20 menit dan paling lama 30 menit).

Belum lagi badai tropis yang sebetulnya kumpulan dari badai-badai kecil yang kita jumpai di wilayah Nusantara yang secara teoritis tidak akan muncul dalam wilayah ini. Mulai era milenium ketiga, tahun 2000, telah tercatat adanya badai tropis yang lahir dan muncul di sekitar ekuator di L. Cina Selatan akhir Desember 2001. Badai yang bergerak melintasi Singapura dan kota Medan. Ini aneh dan menyimpang dari teori, tetapi kenyataan menunjukan adanya kegiatan. Kegiatan badai ini tidaklah sedahsyat yang kita perkirakan karena kawasan yang dilalui pada posisi lintang sudut kurang dari 5 derajat. Jadi meski dilalui badai tetapi kekuatan pusaran angin tidaklah sedahsyat bila ia berada di lintang di atas 15 derajat.

Pandangan dan wacana ini sengaja disajikan untuk memperkuat bila kelak muncul isu badai tropis yang menerpa di wilayah Indonesia yang berlintang posisi 6 derajat Utara hingga 12 derajat selatan.Badai tropis lain yang muncul dalam wilayah adalah badai tropis yang muncul di P. Flores pada bulan Maret 2003. Badai ini tidak memberi kondisi yang menakutkan. Keduanya mencurahkan hujan lebat yang tidak sampai mencapai di atas 500 milimeter/hari.

Satu hal yang dapat diambil dari pelajaran ini adalah eksistensi kondisi cuaca dan iklim yang kian tidak beraturan dan cenderung pada kondisi yang esktrim yang merugikan. Ketidak aturan pola cuaca dan iklim tersebut yang terjadi saat ini sebenarnya tidak terlepas dari pola global yang terjadi. Misalnya kini memasuki bulan Maret yang seharusnya di belahan bumi utara memasuki musim semi, ternyata badai salju makin giat. Demikian juga kawasan padang pasir di kawasan Asia Barat yang umumnya dingin dan kering di awal tahun 2005 ini menunjukan adanya kondisi basah dengan hadirnya hujan badai di kawasan tersebut beberapa waktu lalu yang sempat memberikan banjir bandang di negara Pakistan.

Kondisi Indonesia

Sedangkan di Indonesia di satu kawasan dengan esktrim basah dan memberikan dampak banjir pada kawasan tertentu di P. Jawa dan P. Sumatera, namun di tempat lain seperti kawasan Nusa Tenggara terjadi kelaparan akibat panen gagal. Ini berkaitan dengan minimnya curah hujan yang turun. Seperti telah kita ketahui kawasan ini masuk kriteria bulan kering panjangnya 2 – 3 kali bulan basah. Dalam beberapa tahun ini, khususnya di awal tahun 2005 dan 2004 mengindikasi jumlah badai tropis di Australia utara berkurang dari rata-ratanya (normalnya). Maka konsekuensi pengurangan kuantitas dan kualitas curah hujan merupakan dampak yang terjadi di kawasan ini dalam dua tahun terakhir.

Akibatnya kegagalan dalam kegiatan bercocok tanam merupakan kenyataan yang terjadi di kawasan ini dan mungkin kawasan lain di Indonesia. Kesemuanya merupakan kenyataan dari kondisi cuaca, iklim yang berlanjut dengan krisis air ataupun kelebihan air yang kadang-kadang dipadukan dengan kondisi ekstrim lainnya termasuk kondisi badai (puting beliung). Sebenarnya cuaca, iklim dan ketersediaan air merupakan satu kesatuan yang perubahannya di kawasan lokal seperti NTT, perlu pula memperhatikan kondisi lain di muka bumi lainnya. Dengan kata lain evolusi perubahan cuaca dan iklim bumi secara global tengah dan sedang berlangsung saat ini. Dan bukti kegiatan ini bisa dicermati dari makin marak dan meluasnya indikasi kondisi cuaca dan iklim esktrim .

Atas dasar situasi dan kondisi yang terjadi, yang tentunya bukan sesuatu yang menakutkan, seyogyanya pemahaman dan pendalaman pengetahuan cuaca, iklim dan pengetahuan tentang air perlu diupayakan. Apalagi akibatnya terjadi bencana banjir, tanah longsor, badai, kekeringan dan kelaparan pada musim hujan 2005.

Akan sangat baik bila diikuti dengan pengembangan basis data cuaca, iklim dan masalah air. Imbauan ini sengaja diketengahkan untuk mendukung masyarakat meteorologi dunia yang akan memperingati “Hari Air Sedunia” tanggal 22 Maret dan hari “Meteorologi Sedunia”. tanggal 23 Maret 2005.

Penulis adalah praktisi cuaca dan iklim, karyawan BMG.

Sumber:

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0503/23/opi02.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: