Kadarsah

Meteorologi dan Sains Atmosfer

DIPOLE MODE

Posted by kadarsah pada April 3, 2008

  • Dipole mode disingkat DM merupakan fenomena yang mirip dengan ENSO tetapi terjadi di Samudera Hindia. Peristiwa dipole mode ditandai adanya perbedaan anomali suhu permukaan laut (SPL) antara Samudera Hindia tropis bagian barat (50 oE – 70 oE, 10 oS – 10 oN) dengan Samudera Hindia tropis bagian timur (90 oE – 110 oE, 10 oS – ekuator). Anomali SPL ini memiliki kondisi yang lebih dingin dari normal dan muncul dipantai barat Sumatera (Samudera Hindia bagian timur), sementara di Samudera Hindia bagian barat terjadi pemanasan dari biasanya.
  • Jenis DM dibagi berdasarkan SPL antara Samudera Hindia tropis bagian barat (50 oE – 70 oE, 10 oS – 10 oN,kotak A) dengan Samudera Hindia tropis bagian timur (90 oE – 110 oE, 10 oS – ekuator,kotak B) pada Gambar 1.
  • Dipole mode dibagi menjadi menjadi DM(+) dan DM (-).

DM(+):anomali SPL Samudera Hindia tropis bagian barat lebih besar daripada di bagian timurnya akibatnya terjadi peningkatan curah hujan dari normalnya di pantai timur Afrika dan Samudera Hindia bagian barat sedangkan di Benua Maritim Indonesia (BMI) mengalami penurunan curah hujan dari normalnya yang menyebabkan kekeringan.

DM(-):Fenomena yang berlawanan dengan kondisi DM(+) seperti yang dikemukakan Ashok et al., (2001a).

  • DM terjadi secara independen dengan ENSO dan merupakan fenomena kopel atmosfer-laut yang unik di Samudera Hindia tropis (Saji et.al, 1999; Ashok et.al, 2001a).
  • Variasi dampak dipole mode interaksinya dengan monsun sangat beragam dan merupakan fungsi waktu dan tempat.
  • Untuk mengetahui kekuatan Dipole Mode maka dapat dihitung dengan indeks yang disebut dengan Indeks Dipole Mode yang digunakan oleh Saji (1999).Indeks ini berupa dipole anomali SPL yang didefinisikan sebagai perbedaan anomali SPL Samudera Hindia bagian barat (50o – 70o BT, 10o LS – 10o LU) dan Samudera Hindia bagian timur (90o – 110o BT, 10o LS – ekuator),seperti Gambar 1.
  • Tahapan Siklus DM:
  1. Muncul anomali SPL negatif di sekitar selat Lombok hingga selatan Jawa pada bulan Mei – Juni, bersamaan terjadi anomali angin tenggara yang lemah di sekitar Jawa dan Sumatera.
  2. Anomali terus menguat (Juli – Agustus) dan meluas sampai ke ekuator di sepanjang pantai selatan Jawa hingga pantai barat Sumatera. Kondisi diatas dibarengi munculnya anomali positif SPL di Samudera Hindia bagian barat. Adanya dua kutub di Samudera Hindia ekuator ini, semakin memperkuat anomali angin tenggara di sepanjang ekuator dan pantai barat Sumatera.
  3. Siklus mencapai puncaknya pada bulan Oktober, dan selanjutnya menghilang dengan cepat pada bulan November – Desember.
dm-1.jpg

Karena memiliki sifat fasa yang sistematik secara musiman, maka analisa komposit DM dapat dilakukan (Saji et.al. 1999) dengan tujuan agar dapat mendeskripsikan evolusi DM terkopel kuat (warna biru) dengan variabilitas angin ekuatorial (warna merah) di Samudera Hindia ekuator bagian timur (70o – 90oBT, 5oLS – 5oLU) seperti diperlihatkan pada Gambar 2.

· Kejadian DM sejak 1958 yang diidentifikasi berdasarkan deret waktu DM (warna biru), selain itu juga diberikan deret waktu anomali SPL Niño 3 (150o – 90o BB, 5o LS – 10o LU) untuk memperlihatkan kaitan antara DM dengan El Niño (warna hitam). Sedangkan garis warna merah merupakan angin ekuatorial rata-rata di atas Samudera Hindia bagian timur. (Gambar 3)

· Pada saat terjadi DM, curah hujan di Afrika berada di atas normal sedangkan di Indonesia terjadi penurunan dari kondisi normalnya (Saji et.al., 1999; Ashok et al., 2001).

· Saat DM terjadi penurunan curah hujan di atas daerah konvergensi tropis samudera atau DKTS dan peningkatan curah hujan di Samudera Hindia tropis bagian barat.

· Saat DM terjadi, SPL di lepas pantai Sumatera yang mulai mendingin akan menyebabkan konveksi di DKTS menjadi melemah sehingga terjadi perubahan tekanan udara permukaan yang membuat angin pasat tenggara meluas dan konvergen ke arah downstream. Perubahan ini mempertajam konvergensi medan angin skala besar dan suplai uap air ke arah perluasan downstream di ujung daerah angin pasat, sehingga memperbesar presipitasi ke arah barat laut dari posisi normal DKTS. Perluasan angin pasat yang tidak normal ini juga menghentikan suplai panas normal ke lepas pantai Sumatera. Perluasan angin pasat yang tidak normal dengan komponen timuran sepanjang ekuator dengan cara mencegah intrusi arus ekuator, memungkinkan proses pendinginan mendominasi Indonesia (Saji et.al, 1999).

· DM merupakan fenomena sistem kopel atmosfer-laut yang memiliki mekanisme fisis yang mirip dengan ENSO, akan tetapi secara statistik tidak bergantung pada ENSO (Saji et al., 1999; Webster et al., 1999; Ashok et al., 2001).

· Ketidakbergatungan DM terhadap ENSO salah satunya ditunjukkan oleh adanya kejadian DM yang independen terhadap ENSO seperti tahun 1961 dan 1967 (Saji et.al, 1999).

· Godfrey et al., (2002), korelasi DM-ENSO tergantung pada evolusi kejadiannya yang ditunjukkan dari musim ke musim dimana diperoleh korelasi yang kuat terjadi pada bulan September-Oktober.

· Skema pola ENSO Indo-Pasifik (Gambar 4) terdiri dari :

1) Anomali SPL ENSO Pasifik

2) Dipole anomali SPL timur-barat Samudera Hindia ekuatorial

3) Dipole anomali osilasi utara-selatan Samudera Hindia

4) Dipole anomali SPL di Pantai Amerika utara

5) Dipole anomali SPL di pantai Benua Asia (Pasifik barat daya).

· Kejadian El Niño tahun 1997-1998 yang cenderung menimbulkan kekeringan di India tetapi dikurangi pengaruhnya oleh DM(+) yang terjadi bersamaan dengan El Niño (Ashok et al., 2001a).Fenomena ini menunjukan DM tidak hanya berpengaruh pada sirkulasi zonal (timur-barat) tetapi juga pada sirkulasi meridional (utara-selatan).

Sedangkan pola osilasi indeks DM memiliki puncak pada 18,36,48 bulan,seperti yang ditunjukan Gambar 5.

dm-21.jpg

Dengan menggunakan FFT (salah satunya ada di matlab) bisa diketahui periode curah hujan suatu stasiun, dan ketika diketahui periodenya ( misal 18 atau 36 bulanan) maka kemungkinan besar curah hujan distasiun tersebut dipengaruhi oleh DM mengingat DM memiliki perioda 18,36 dan 48 bulan. Jika terdapat pengaruh lainnya maka dilakukan proses FFT yang beberapa kali sehingga bisa menyaring siklus yang di inginkan dan membuang siklus yang tidak diperlukan.

Untuk lebih jelas tentang DM(+) dan DM (-) maka dapat dilihat gambar dibawah ini yang berasal dari JAMSTEC.

Bacaan lebih lanjut:

· Saji, N.H, B.N. Goswami, P.N. Vinayachandran, and T.Yamagata, 1999, A Dipole Mode in the Tropical Indian Ocean, Nature, 401, 360-363.

· Ashok, K., Z. Guan, and T. Yamagata, 2001a, Impact of the Indian Ocean Dipole on the Relationship between the Indian Monsoon Rainfall, Geophys.Res.Lett.
·
Yu, Jin-Yu, and J. C. McWilliams, 2001, http://www.ogp.noaa.gov//mpe/clivar/pacific/fy99/yu/yu99.htm

· Godfrey, S., Y. Masumoto, P. Hacker, G. Meyer, D. Susanto, P.N. Vinayachandran, and P.J. Webster, 2002, Review of Monsoons, Interannual Variability and Decadal Trends that underpin Climate Prediction, (http://www.marine.csiro.au/)

26 Tanggapan to “DIPOLE MODE”

  1. La An said

    pak saya mau tanya apakah ada DM lemah, sedang dan kuat utk yg positif dan negatif. klo sudah ada batasan nilainya mulai dr mana? selain itu apakah kejadian DM selalu dimulai dr bulan April dan berakhir pada bulan desember spt yg bapak tulis diatas. oh iya pak jurnalnya Saji et al bisa saya dapatin dimana pak?

    Salam
    Aan

  2. Warsini said

    Pak saya mau bertanya DM positif itu dimulai bulan apa dan terjadi selama berapa bulan?Bagaimana juga dengan DM negatif, dimulai bulan apa dan terjadi selama berapa bulan?Ada tidak DM positif/negatif yang lemah,sedang,dan kuat klo ada bagaimana melihatnya? Apakah ada batasan nilainya?

    Salam
    Warsini

  3. kadarsah said

    Seperti tulisan diatas,biasanya DM dimulasi April-Desember tapi itu tidak selalu terjadi secara tepat. Definisi negatif atau positif DM berdasarkan SPL antara Samudera Hindia tropis bagian barat (50E – 70E, 10S – 10N) dengan Samudera Hindia tropis bagian timur (90E – 110E, 10S – ekuator).

    Untuk menentukan kekuatan DM (baik positif maupun negatif) ditentukan berdasarkan kekuatannya melalui besar tingkat anomali SPL. Untuk batasan nilai saya tidak bisa memastikan berapa batasannya.

  4. pia said

    sekedar saran saja, tag y muncul di tulisan agar dihilangkan, cukup menggangu tampilan blog ini.

  5. Rangga said

    Mas Kadarsah, saya ingin tanya:
    sebenarnya siapa sih yang menemukan fenomena dipole mode? Saji or Yamagata?

    thanks

  6. kadarsah said

    Istilah Dipole Mode mulai terkenal dan dibahas secara ilmiah pada tahun 1999, sejak keluarnya tulisan berikut :

    Saji, N.H, B.N. Goswami, P.N. Vinayachandran, and T.Yamagata, 1999, A Dipole Mode in the Tropical Indian Ocean, Nature, 401, 360-363.

    Jadi penemuan fenomena tersebut merupakan penemuan Saji dan beberapa ahli lainnya seperti yang tercantum dalam paper diatas, tapi secara sumbangsih terbesar dalam penemuan tersebut adalah penulis pertama yaitu:Saji.

  7. BVA said

    pak, apa kah mungkin fenomena dipole mode berpengaruh juga pada distribusi hujan wilayah indonesia tengah khususnya kalimantan timur???
    terimakasih

  8. fani setyawan said

    assalamu’alaikum Wr. Wb.
    bagaimana kabarnya pak?semoga dalam keadaan baik…

    saya mau bertanya pak,
    setahu saya, DM itu berpengaruh kuat untuk Indonesia wilayah Barat, apakah itu benar pak??
    kemudian, apakah bisa kita memprediksi banyaknya curah hujan di wilayah Kepri ( penempatan saya disini ) dengan data adanya DM ( – ) dan dengan menggunakan data model SST untuk wilayah Laut China Selatan..
    bagaimana cara menghubungkan keduanya untuk mendapatkan hasil prediksi curah hujan dasarian?
    terima kasih pak atas informasinya,..

    • kadarsah said

      Walaikumsalam Wr.Wb
      Kabar saya baik dan sehat.Terimakasih.
      -Ya, beberapa penelitian tentang DM memang menyimpulkan bahwa Dm berpengaruh sangat kuat dalam CH di Indonesia bagian barat misalnya Sumatera Barat (terdapat beberapa tesis dan skripsi tentang ini).

      -Mungkin saja melakukan prediksi CH dengan data CM dan data SST, hanya cara untuk menghubungkan keduanya dengan CH ( sebagai landasan untuk prediksi) maka harus dicari mekanisme fisisnya..bagaimana proses fisis kedua parameter tersebut (DM dan SST) mempengaruhi CH khususnya di Kepri. Hal tersebut bisa dilakukan dengan studi literatur serta analisis data-data. Hasilnya akan ditemukan pola..jika pola ini memungkinkan untuk dijadikan pijakan dalam prediksi CH, silakan lakukan saja.Hasilnya prediksi kemudian di verifikasi dengan hasil observasi.

      Demikian semoga membantu,
      Terimakasih..

    • Yudha said

      Topik yang menarik Bung Fani, tapi sepemahaman saya Dipole Mode(DM) itu terjadi di Samudra Hindia (http://www.jamstec.go.jp/frcgc/research/d1/iod/), jadi kenapa anda melibatkan data SST di Laut China Selatan ?.
      Satu hal lagi, saya tidak tahu banyak tentang DM, tapi sepertinya DM punya skala waktu itu interannual (periode osilasi lebih dari setahun, cek disini http://ioc3.unesco.org/oopc/state_of_the_ocean/sur/ind/dmi.php) (mohon dikoreksi). Ini artinya pola cuaca dilokasi tertentu yang bisa dijelaskan oleh DM hanya yang terjadi pada skala waktu yang sama, dengan kata lain DM tidak akan valid untuk dijadikan prediktor curah hujan 10-harian.

      • fani setyawan said

        maksud saya menghubungkan DM yang terjadi di samudra hindia, untuk mencari pengaruh DM terhadap CH di Kepri,.
        DM memang terjadi di Samudra Hindia, untuk itu saya ingin tahu apakah DM berpengaruh juga terhadap lautan timur pulau Sumatra,

        terima kasih atas jawabannya pak,
        untuk selanjutnya akan saya coba untuk mencari mekanisme fisis yang menghubungkan itu semua.

  9. sri widyastuti said

    Ass wr wb pak

    ini pak mohon minta alamat /cara untuk mengetahui index dmi…eh maaf mungkin pertanyaannya tidak ilmiah yapak,maksudnya agar saya mengetahui bulan ini tahun ini nilai dmi nya berapa ,gitu pak….
    trimakasih

    Waalaikum slm wr wb

  10. Apa kabar pak????
    Masih ingat sama saya pak??

    Saya izin nanya pak…yang saya tau DM sangat kuat pengaruhnya terhadap keadaaan hujan d Indonesia bagian barat khusunya pulau sumatra…Yang saya tanyakn , Apakh DM jg mempengaruhi daerah NTB?? Seberapa besar pengaruh DM terhadap NTB pak??
    Makasi………..

    • kadarsah said

      Masih ingat.Salah satu orang terbaik dalam NWP.
      Ya sangat berpengaruh kuat dan untuk lebih jelasnya akan saya kirimkan dua gambar sekaligus yang menjawab pertanyaan tersebut. Pengaruh DM dan EL Nino terhadap CH di Indonesia secara spasial sehingga bisa terlihat masih-masih pengaruhnya pada suatu daerah.
      Saya kirim melalui email.
      ok

      • citty said

        salam kenal pak, saya Siti Alaa’, mahasiswa semester akhir fisika univ. mataram, sedang menyusun skripsi berkaitan dengan geoatmosfer. Idenya sederhana pak, mencari pengaruh suhu permukaan laut di selat lombok terhadap curah hujan di kota mataram. Tapi saya kesulitan mencari data SPL, yang di NOAA terlalu ribet untuk dibaca. tapi saya dapat anomaly SPLnya untuk wilayah selat lombok sampai jawa. dari situ, dosen saya menyimpulkan agak susah mengaitkan kedua hal tersebut, jadi sekarang beralih ke faktor global, seperti IOS dan DM,apakah bisa kedua hal tersebut mempengaruhi curah hujan di kota Mataram? mengingat letaknya yang lumayan jauh, dan berhubung saya jurusan fisika, sy belum dapat referensi yang dapat menjelaskan hal tersebut secara fisika

        Mohon bantuannya pak. Terimakasih

  11. sanya gautami said

    ijin pak..
    saya mau bertanya..
    saya saat ini sedang meneliti pengaruh DM terhadap Ch di kota pekanbaru (saya pegawai BMKG di Stamet pekanbaru pak:))
    yang ingin saya tanyakan, DM kan berkaitan dgn anomali angin passat di s.Hindia..nah apakah bapak tau link untuk browsing angin passat tahun2 sebelumnya…(saya sudah nyari2 kok ga ketemu😦 )
    terimakasih sebelumnya pak…

  12. alan_top said

    good…

  13. winda said

    saya mau tanya.seberapa besar dipole mode mempengaruhi curah hujan musiman di Indonesia?
    terimakasih sebelumnya pak..

  14. made said

    saya mau tanya pak,, apakah ada hubungan antara fisika dengan IOD ini??
    krn saya mw nulis skripsi tentang IOD ini tp klo mzi ragu krn blm tw dmn aspek fisikanya..
    trima kasih sebelumnya.

    • ibnu said

      kalau yang saya tahu…IOD ini kan fenomena interaksi kopling lautan-atmosfer…, dan itu sangat banyak fisika nya …(apa sih yang ga jauh dari fisika di dunia ini :p ) … tentu sangat luas jadinya…dipole mode ini terkait dengan thermocline feeback, atmospheric feedback (angin zonal nya)…dan kalau mau “lebih” lagi bisa membahas bagaimana gelombang2 ekuatorial kelvin dan rossby di lautan berperan dalam hidup-mati nya IOD ini…kajian lainnya yaitu bagaimana pengaruh monsoon dan ENSO thdp IOD

      bahasan menarik dari Bin Wang bisa dilihat disini

      A Theory for the Indian Ocean Dipole–Zonal Mode
      Tim Li, Bin Wang, C-P. Chang, Yongsheng Zhang
      Journal of the Atmospheric Sciences

      CMIIW
      kebetulan sy mempelajari IOD ini terutama pengaruh global warming pada fenomena ini

      • made said

        Proposal sy sdh dtrima pak, wlopun awlnya ragu tp hsilnya dtrima jg.. IOD ini emg sangat menarik.. Mnurut bpk IOD ini bz dprediksi ato tdk kdatanganya?

  15. anna said

    assalamualaikum ijin tanya pak,,
    untuk index dipole mode, range-nya gimana pak? apakah 0,4 atau -0,4 itu mendekati normal?

    terima kasih
    Anna

  16. eka said

    pak,, mau tanya ni,,
    berapa tekanan normal di smudera hindia,,
    maksih pak..

  17. assalamualaikum,

    Pak kadarsah, klasifikasi IOD ini sebenarnya dasarnya dari mana ya?
    kemudian untuk kondisi normal benarkah pada +/- 0.4 ??
    Mohon pencerahan pak..
    terima kasih.

  18. rafael marbun said

    Pak, khusus utk daerah kep.sangihe sulawesi utara dipole mode berpengarauh gak terhadap curah hujan???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: