Kadarsah

Meteorologi dan Sains Atmosfer

Skema Konveksi di Indonesia Dan Pemodelan Skala Meso

Posted by kadarsah pada April 1, 2008

Indonesia sebagai bagian wilayah teerbasah didunia, dengan total CH tahunan > 2000 mm, bahkan ada yang mencapai lebih dari 3000 mm. skema konveksi adalah perumusan proses konveksi atmosfer melalui parameter-parameter terkait, sebagai bentuk penyederhanaan proses konveksi sesungguhnya yang terjadi di alam. Perbedaan skema satu dengan yang lainnya lebih banyak ditentukan oleh perbedaan asumsi dalam menggambarkan proses konveksi.

Pertukaran kelembaban,panas, dan momentum antara permukaan atmosfer dengan lapisan diatasnya dan antara laut dengan atmosfer yang memiliki arti penting dalam pembentukan awan berlangsung di Lapisan Batas Atmosfer. Sehingga kajian tentang lapisan ini sangat penting terutama kaitannya dengan proses konveksi. Konveksi di Indonesia aktif pads siang hari,di tandai dengan nilai maksimum OLR pada tengah hari sesaat setelah terjadi radiasi maksimum radiasi matahari ( radiasi gelombang pendek). Laut pAsifik dan India terletak di ekuato, tetapi proses konveksi tidak seaktif di Indonesia. Aktivitas konveksi lautan lebih aktif dibanding dengan daratan dan dengan variasi yang besar. Hal tersesbut terjadi juga dengan CH yang dominan terjadi pada siang hari dan variasi tinggi. CH di ekuatorial lebih tinggi dibanding lintang lainnya hal ini disebabkan karena ekuatorial menerima lebih banyak sinar matahari sepanjang tahun, sehingga udara lebih hangat. Dengan udara yang lebih hangat ( massa jenis kecil,kapasitas kelembaban yang tinggi dibanding udara dingin), sehingga menghasilkan awan dengan CH yang tinggi. Hal ini diperkuat dengan kelembaban yang juga sangat tinggi.

1. Skema Kuo paling sederhana digunakan di GCM ( Global Climate Model/General Circulation Model), CSIRO (Commenwealth Scientific and Industrial Research Organization), DARLAM (Division of Atmospheric Research Limited Area Model).

2. Skema Arakawa-Schubert digunakan di AVN (Aviation Model Forecast),NCEP, RUC (The Rapid Update Cycle).

3. Skema BMJ (Betts-Miller-Junjic) digunakan oleh Eta/NCEP

4. Skema Grell digunakan oleh MM5 (Mesoscale 5)

5. Skema Anthes~Kuo sangat baik dalam menentukan CH total dan maksimum.

6. skema Grell dan Kain-Fritsch sangat baik menirukan pola hujan.

7. Parameterisasi konvektif dangkal berfungsi untuk mempertahankan sirkulasi Hadley dalam GCM dan sirkulasi global.

8. Skema konveksi yang tidak menggunakan downdraught dan entrainment massa memiliki dampak pada distribusi hujan rata-rata dan memindahkan ITCZ di Pasifik Barat.

9. Skema BMJ dalam Eta Model tidak dapat memperkirakan konveksi di wilayah barat, karena terjadi perbedaan sifat konveksi di pegunungan dengan lautan.

10. SCm I Single Coulom Model) dan Skema Arakawa-Schubert menghasilkan distribusi jumlah awan vertikal yang lebih realistik dibandingkan CCM3 ( Community Climate Model versi 3).

11. Simulasi dengan MM5 pada domain besar dengan resolusi 15 km sangat berguna untuk kajian konveksi tropik dan interaksinya dengan sirkulasi skala besar.

12. Uji skema konveksi menunjukan bahwa peningkaan resolusi model menyebabkan CH prediksi menjadi lebih kecil

13. Skema kuo dalam DARLAM menunjukan CH > Skema arakawa dan Liquid Water

14. Skema Zhang & Mc Farlane dalam NCAR CCM3.6 menghasilkan varibilitas intra musiman < pengamatan ( angin dan hujan). Sedangkan Skema Hack lebih tinggi, skema McRAS lebih realistik dalam variabilitas angin dan variabilitas CH yang lebih rendah di banding pengamatan.

15. Skema Kuo, curah hujan diperkirakan dengan massa konvektif sepanjang kolom konvektif dari dasar awan s.d puncak awan. Dasar awan ditentukan diidentifikasi dengan nilai kelembaban relatif tertentu, sedangkan puncak awan diperkirakan melalui stabilitas atmosfer.

16. Skema Betts-Miller mensyaratkan sounding sebagai kondisi awal, proses konveksi selanjutnya mengacu pada profil klimatologi.

17. Skema AS,menyertakan efek detrainment kelembaban dari awan-awan konvektif,pemanasan dari subsidensi lingkungan, dan stabilitas konvektif dalam keseimbangannya dengan laju destabilisasi skala besar.

18. Skema Grell merupakan Skema AS dalam versi awan tunggal.

19. skema Kain-Fritsch mencakup model awan dengan faktor entrainment,updraft dan downdraft

20. Faktor tumbukan,koalisi dan koalisesnsi serta ukuran tetes dicakup dalam pendekatan mikrofisika awan.


Berikut beberapa contoh Model Meso yang dirangkum dalam sebuah tabel serta skema konveksi jenis apa yang digunakan.

OMEGA

Nama

The operational Multiscale Environment Model with Grid Adaptivity (OMEGA)

Pencipta

Dr.David Bacon

Institusi

Science Applications International Corporation

Group

Science Applications International Corporation

Persamaan

Kompresibel,nonhidrostatik,persamaan primitif

Dimensi

3-D prognostic

Grid

Variabel resolusi tidak terstruktur dan grid yang adaptif

Resolusi minimum horisontal

1km

Resolusi vertikal

1km- 10 meter

Model domain

Fleksibel

Inisialisasi

Input data mentah dari NOGAPS,MRF,NGM dan ETA dengan analisis dari rawinsonde dan obervasi permukaan dalam banyak format berbeda

Teknik solusi

skema numerik menggunakan teknik volume terbatas dengan skema adveksi Smolarkiewicz yang dimodifikasi untuk penggunaan grid triangular yang tak terstruktur

Sistem koordinat

Sistem Rotating Cartesian yang berasal dari pusat bumi

Boundary lateral

Open boundary dengan skema radiasi

Top Boundary

Lapisan batas yang jelas

Permukaan Boundary

Panas,momentum,dan fluks ditentukan melalui interaksi udara yang terus-menerus

Parameterisasi subgrid campuran

2.5 tingkat k-ɛ model

Parameterisasi cumulus

Modifikasi skema Kuo

Parameterisasi Radiasi

skema Sasamori

Parameterisasi Kestabilan Presipitasi

Parameterisasi bulk water Lin (1983)

Contoh fenomena

simulasi Hurricane,cuaca badai gurun pasir,dispersi dari topografi yang komplek


MC2

Nama

MC2

Pencipta

Robert Benoit

Institusi

Recherce en Prevision Numerique Environment Canada

Group

Limited Area Model

Persamaan

Persamaan Euler Nonhydrostatik

Dimensi

3-D

Grid

Arakawa-C

Resolusi minimum horisontal

~ 500 m

Resolusi vertikal

Beberapa ratus meter

Model domain

Area terbatas

Inisialisasi

Dinamik

Teknik solusi

Semi implisit,semi-langrangian,

Sistem koordinat

Proyeksi conformal (polar stereographic,mercator),Gal-Chen vertical koordinat

Boundary lateral

Open boundary dengan skema Staniforth

Top Boundary

Batas yang kuat dan memancar

Permukaan Boundary

Force-restore/ISBA/CLASS land-surface skema

Parameterisasi subgrid campuran

TKE dengan orde 1.5

Del4 difusi dalam fluida interior

Parameterisasi cumulus

Hanya untuk resolusi rendah:Kuo,Fritsch-Chappell,Kain-Fritsch dan Arakawa-Schubert

Parameterisasi Radiasi

Solar dan Infrared radiasi (Fouquart dan Bonnel,1980)

Parameterisasi Kestabilan Presipitasi

Kong-Yau 2-ice mikrophysics dan skema Tremblay mixed-phase

Contoh fenomena

Chinook,Foehn,hujan orografik,banjir bandang


BLFMESO

Nama

Boundary-Layer Mesoscale Forecast Model (BLFMESO), edisi 3

Pencipta

S.M.Daggupaty

Institusi

Meteorology Service of Canada Air Quality Research Branch ( formerly Atmospheric Environment Service )

Group

Meteorology Service of Canada Air Quality Research Branch

Persamaan

Hidrostatik,persamaan primitif

Dimensi

3-D

Grid

Fleksibel.Indentik dalam x dan y, kecuali grid vertikal. 81 x 81 grid horisontal dan 10 grid vertikal

Resolusi minimum horisontal

5 km

Resolusi vertikal

Tidak sama .Resolusi tinggi identik dengan permukaan, rentang 1.5 m -3000 meter.

Model domain

400 km x 400 km horisontal, 3 km vertikal

Inisialisasi

Analisis data regional Canada dengan weather forecast yang di interpolasi model grid dan dinamik 1-D

Teknik solusi

Metode beda implisit terbatas,semi implisit untuk adveksi vertikal dan difusi.

Sistem koordinat

Proyeksi Koordinat UTM

Boundary lateral

Time-dependent boundary lateral

Top Boundary

Bergantung pada variabel tertentu saat t= 0

Permukaan Boundary

No slip untuk angin permukaan, force-store metode untuk neraca energi dan prediksi temperature permukaan, teori similarity untuk parameter permukaan, panas, dan momentum. Kekasaran topografi permukaan diperhitungkan.

Parameterisasi subgrid campuran

Teori kesamaan permukaan di lapisan permukaan,koefisien berdasarkan metode O`Brien pada PBL

Parameterisasi cumulus

Tidak ada

Parameterisasi Radiasi

Tidak ada

Parameterisasi Kestabilan Presipitasi

Tidak ada

Contoh fenomena

Skala meso-ɞ, land/sea breeze,kualitas udara,pengendapan gas dan partikel udara,arus lembah dan gunung


FITNAH

Nama

FITNAH

Pencipta

Dr.Gunter Gross

Institusi

Departemen of Meteorology,University Hannover,German

Group

Guter Gross

Persamaan

Navier-Stokes,Non-hidrostatik,Boussinesq-approximation

Dimensi

3-D

Grid

Arakawa-C

Resolusi minimum horisontal

1-100 m

Resolusi vertikal

Permukaan:1-10 m, lapisan atas :̴1000 m

Model domain

1km x 1km, 50 km x 50 km

Inisialisasi

Variasi teknik dan diastrofi

Teknik solusi

Waktu dengan metode:forward,leapfrog. Ruang dengan metode :tengah,adveksi dan upstream

Sistem koordinat

Metode Gross

Boundary lateral

Tetap, turunan tertentu dan kondisi radiasi

Top Boundary

Damping layer

Permukaan Boundary

Neraca energi permukaan untuk temperature menurut Gross(1986)

Parameterisasi subgrid campuran

Orde kesatu dengan K berasal dari energi kinetik turbulensi

Parameterisasi cumulus

Gross (1986)

Parameterisasi Radiasi

Aproksimasi dua arah ,Gross (1986)

Parameterisasi Kestabilan Presipitasi

Gross (1986), Skema Kessle untuk presipitasi

Contoh fenomena

Aliran udara di topografi yang komplek


COAMPS

Nama

COAMPS

Pencipta

Dr.Richard M.Hodur

Institusi

Naval Research Laboratory

Group

Naval Research Laboratory, Marine Meteorology Division; R.Hodur,S.Chen,J.Doyle,T.Holt,J.Schmidt

Persamaan

Persamaan kompresibel nonhidrostatik

Dimensi

3-D

Grid

Arakawa-C mendukung nesting

Resolusi minimum horisontal

Fleksibel. Menggunakan data real,tipe resolusi 1-81 km, dalam LES mode, resolusi minimum 1 m

Resolusi vertikal

Fleksibel.Koordinat sigma, 20 m-beberapa ratus meter (̴10 mb) dengan elevasi 30 -120 lapisan

Model domain

Fleksibel.Pengguna bisa menentukan luasan yang dinginkan sendiri.

Inisialisasi

3-D multivariasi dengan analisis interpolasi optimum angin dan ketinggian, analisis Cressman untuk temperature dan kelembapan,2-D dengan analisis interpolasi optimum SST.

Teknik solusi

Time-Splitting, formula ekplisit untuk adveksi, semi implicit untuk penyebaran gelombang bunyi secara vertical dan frekuensi Brunt-Vaisala. Orde 4 untuk difusi dan orde 2 untuk semua proses

Sistem koordinat

Sistem koordinat x,y, dan grid horisontal global yang dapat digunakan untuk proyeksi:polar stereographic,Lambert conformal,mercartor,spherical dan kartesian.

Boundary lateral

Skema Davies atau Perkey-Krietzberg untuk data real. Untuk data yang ideal:periodic,radiasi,tetap dan no-slip

Top Boundary

W=0

Permukaan Boundary

Force-restore slab soil model,fluks permukaan,parameter khusus permukaan (albedo,kekasaran permukaan,ketinggian dan garis pantai)

Parameterisasi subgrid campuran

Level 2.5 Mellor-Yamada

Parameterisasi cumulus

Kain-Fritsch atau Kuo

Parameterisasi Radiasi

Harshvardhan

Parameterisasi Kestabilan Presipitasi

Rutledge-Hobbs

Contoh fenomena

Coastal jet, rainbands,barrier jet,interaksi coupling udara-laut, aerosol, siklon tropis,fron temperature permukaan, siklon ekstratropika, gelombang gravitasi, topografi jet,

MM5

Nama

MM5

Homepage

http://www.mmm.ucar.edu/mm5/mm5-home.html

Pencipta

Ying-Hwa Kuo dan Jimy Dudhia

Institusi

NCAR/MMM Division

Group

NCAR/MMM Division

Persamaan

Persamaan primitive nonhidrostatik, persamaan hidrostatik

Dimensi

3-D

Grid

Arakawa-B grid

Resolusi minimum horisontal

500m-1 km

Resolusi vertical

Fleksibel

Model domain

Global, dapat digunakan menjadi multiple nesting

Inisialisasi

Integrasi divergensi

Teknik solusi

Waktu:time-splitting leapfrog, Ruang: orde-2

Sistem koordinat

Sigma

Boundary lateral

Relaksasi

Top Boundary

Rigid/Radiatif

Permukaan Boundary

Friksi dan fluks menggunakan teori similarity dan memiliki parameter land use

Parameterisasi subgrid campuran

Bulk, skema Mellor-Yamada dan MRF

Parameterisasi cumulus

Anthes-Kuo,Grell, Kain-Fritsch, Fritsch and Chappell ,Arakawa Schubert, dan Betts-Miller.

Parameterisasi Radiasi

Broadband atau CCM2

Parameterisasi Kestabilan Presipitasi

Supersaturasi, fisika es,konsentrasi jumlah es ,land surface modul dan 4-D data asimilasi

Contoh fenomena

Siklon,fronts,MCS,gelombang gunung

Eta Model

Nama

Eta Model

Pencipta

Fedor Mesinger

Institusi

NCEP Environmental Modeling Center

Group

NOAA/ NCEP Environmental Modeling Center

Persamaan

Persamaan primitive nonhidrostatik, persamaan hidrostatik

Dimensi

3-D

Grid

Arakawa-E grid secara horisontal, Lorenz grid secara vertikal

Resolusi minimum horisontal

4-10 km

Resolusi vertikal

50 layer,

Model domain

106 x 80 derajat

Inisialisasi

3-D data asimilasi EDAS

Teknik solusi

Waktu: beda waktu ekplisit,forward-backward, gaya coriolis implicit-trapezodial, beda waktu 60 detik,adveksi temperature dan momentum skema Matsuno, ruang tipe Arakawa, adveksi horizontal temperature dan momentum skema Janjic, kekekalan momentum yang berasal dari efek pegunungan skema Smolarkiewicz, adveksi kelembaban horizontal skema Janjic,adveksi vertical momentum dan temperature skema arakawa, skema kopel gravity-wave,

Sistem koordinat

Koordinat eta vertical,koordinat rotasi bola

Boundary lateral

Ekstrapolasi

Top Boundary

Kecepatan vertical eta 0-25 mb

Permukaan Boundary

Topografi, parameter kekasaran orografik tipe Mason, fluks permukaan tipe Monin-Obukhov, fungsi similaritas Paulson, Parameter Zilitinkevich untuk sublayer , skema land-surface, multiplayer land-surface/vegetasi model, input data dengan 12 tipe vegetasi, 9 tipe jenis tanah,albedo musiman,approksimasi linear menurut Mangarella-Brutsaert, fungsi similaritas level-2 Mellor-Yamada, surface fluks air Monin-Obukhov

Parameterisasi subgrid campuran

Vertikal: skema Mellor-Yamada level 2.5.

Horisontal : order dua skema Smagorinsky

Parameterisasi cumulus

Skema Betts-Miller.-Janjic untuk konveksi dangkal dan dalam

Parameterisasi Radiasi

Skema radiasi GFDL

Parameterisasi Kestabilan Presipitasi

Prediksi ekplisit campuran rasio awan cair/es dalam skala grid

Contoh fenomena

Fenomena permukaan, pengaruh transport kelembapan,efek topograpi, siklon tropis, efek vegetasi /transfor air/udara


RAMS

Nama

The Regional Atmospheric Modeling System (RAMS)

Homepage

http://blue.atmos.colostate.edu

Pencipta

Roger A.Pielke,Sr.,W.R.Cotton,C.Tremback,R.L.Walko

Institusi

Colorado State University dan ASTeR Division of Mission Research Corporation

Group

Department of Atmospheric Science/ ASTeR Division of Mission Research Corporation

Persamaan

Persamaan nonhidrostatik, Navier-Stokes,kompresibel

Dimensi

2-D atau 3-D

Grid

Arakawa-C grid.Mendukung nesting, vertikal grid dapat diperbesar

Resolusi minimum horisontal

Tak ada ( memungkinkan hanya 2 cm)

Resolusi vertikal

Tak terbatas pada resolusi vertical

Model domain

Dapat seminimum mungkin pada domain limited-area

Inisialisasi

Interpolasi homogen horizontal dari sounding tunggal dan analisis objektif Barnes dari data tekanan per lapisan, data rawinsonde dan observasi lapangan

Teknik solusi

Teknik penyelesain nilai awal, komponen kecepatan dengan metode beda waktu leapfrog, parameter lain menggunakan beda waktu maju sedang parameter akustik menngunakan teknik time-splitting

Sistem koordinat

Stereograpik polar atau koordinat Cartesian horisontal, dan koordinat vertikal sigma-z

Boundary lateral

Skema Klemp-Wilhelmson ,Skema Klemp-Lilly, Orlanski. Gradien nol,gradient divergensi nol,

Top Boundary

Relaksasi Newtonian

Permukaan Boundary

Teori similaritas menurut Louis ( fluks permukaan momentum,panas, dan uap air),Permukaan grid dibagi menjadi beberapa layer

Parameterisasi subgrid campuran

Skema Smagorinsky-Lily,Mellor-Yamada,Deardorff

Parameterisasi cumulus

Skema Kuo yang dimodifikasi

Parameterisasi Radiasi

Skema Harrington yang menghitung secara khusus sifat-sifat dari:permukaan air, hujan dan higrometeor lainnya. Skema Chen dan Cotton yang memasukan atenuasi awan. Skema Mahrer dan Pielke yang tidak menghitung kondensasi.

Parameterisasi Kestabilan Presipitasi

Proses fisik yang melibatkan:sublimasi,Brownian motion,kondensasi,sedimentasi,tumbukan,pembekuan,evaporasi,thermoporesis,difusi ,rain ,kabut nukleasi homogen droplet awan dan fenomena lainnya.

Contoh fenomena

Badai,tornado,sistem konvektif,sea breeze, konveksi cumulus,aliran turbulensi di sekitar gedung, aliran udara dalam wind tunnel,siklon tropis,simulasi large-eddy, efek perubahan land-use bagi iklim dan cuaca,supersel badai, simulasi aliran udara laboratorium,presipitasi, transport dan dispersi polusi, pergerakan gelombang akustik,

The Topographic Vorticity Model (TVM)

Nama

TVM

Homepage

http://rtmod.ei.jrc.it/thunis/TVM/tvm.html

Pencipta

P.Thunis,G.Schayes,R.Bornstein

Institusi

Joint Research Centre (JRC),Universite Catholique Louvain, San Jose State University

Group

Joint Research Centre

Persamaan

Sistem dasar dinamik menggunakan Navier-Stokes, anelastik, persamaan non hidrostatik.

Dimensi

1-D,2-D atau 3-D

Grid

Arakawa-C grid

Resolusi minimum horisontal

Resolusi minimum dapat mencapai 500 m, tidak ada batasan yang jelas ketika di gunakan dalam simulasi large-eddy

Resolusi vertikal

Tak terbatas pada resolusi vertikal

Model domain

Dapat seminimum mungkin pada domain limited-area

Inisialisasi

Interpolasi homogen horizontal dari sounding tunggal

Teknik solusi

Aproksimasi adveksi menggunakan orde 3 Parabolic Piecewise Method (PPM). Difusi,vortisitas , dan bouyanci didekati oleh FTCS.

Sistem koordinat

Koordinat sigma-z

Boundary lateral

Untuk adveksi, hanya kondisi boundary inflow yang diperhitungkan.Gradien nol untuk kondisi boundary lateral pada semua proses.

Top Boundary

Vortisitas nol, angin horizontal digunakan sebagai angin geostrofik. Damping layer digunakan dilapisan atas untuk menyerap gelombang gravitasi.

Permukaan Boundary

Komponen angin menjadi nol. Momentum fluks permukaan dan uap air dihitung menurut Skema Deardorff dan teori similaritas. Model land-surface IAGL,parameter vegetasi dan variasi hambatan transfer.

Parameterisasi subgrid campuran

Energi turbulen kinetik berdasarkan metode:order 1.5 Skema Therry dan Lacarrere,Skema Duynkerke dan dalam LES memasukan energi turbulensi dan parameter 3-D

Parameterisasi cumulus

Tidak ada

Parameterisasi Radiasi

Shortwave berdasarkan skema Lacis dan Hansen/Stephens.

Longwae berdasarkan Skema Sasamori/Stephens.

Parameterisasi Kestabilan Presipitasi

Parameter mikrofisik Skema Kessler, dengan 5 parameter: air ,hujan,es kristal,salju dan graupel yang digunakan dalam presipitasi konvektif dan menggunakan ukuran grid horisontal kurang dari 2 km.

Contoh fenomena

Sea breeze, angin lembah,sirkulasi pemukiman, mountain-wave,transfort dan difusi polutan, simulasi large-eddy dari lapisan konvektif boundary.

ARPS

Nama

ARPS

Homepage

http://www.caps.ou.edu/ARPS

Pencipta

Ming Hue dan Kelvin Droegemeier

Institusi

University of Oklahoma (School of Meteorology and Center for Analysis and Prediction of Storms)

Group

Nonhydrostatic storm and mesoscale model

Persamaan

Kompresibel, persamaan non hidrostatik.

Dimensi

1-D,2-D atau 3-D

Grid

Arakawa-C grid

Resolusi minimum horisontal

Tak ada batasan jelas tetapi biasanya 1 -2 km

Resolusi vertikal

Fleksibel. Umumnya 5-500 m

Model domain

Fleksibel

Inisialisasi

3-D data real analisis

Teknik solusi

Skema Klemp dan Wilhelmson yang merupakan integrasi waktu ekplisit dengan FCT

Sistem koordinat

Koordinat sigma-z

Boundary lateral

Terdapat beberapa pilihan: zero-gradient,periodik dan dipengaruhi kondisi luar

Top Boundary

Rigid,menyerap atau radiasi gelombang

Permukaan Boundary

Semi-slip lower boundary

Parameterisasi subgrid campuran

Skema Smagorinsky-Lilly, orde 1.5 TKE,

Parameterisasi cumulus

Kain-Fritsch dan Kuo

Parameterisasi Radiasi

Radiasi NASA/GSFC

Parameterisasi Kestabilan Presipitasi

Saturasi grid menggunakan parameter mikrofisik, hujan menggunakan Skema Kessler, enam kategori es menggunakan Skema Lin-Tao dan es menggunakan skemaSchultz.

Contoh fenomena

Semua fenomena musim skala sinotik s.d skala badai, aliran orografik,simulasi ideal badai guruh, squall line dan front.

HOTMAC

Nama

HOTMAC

omepage

http://www.ysasoft.com/ysa

Pencipta

Dr.Ted Yamada

Institusi

Yamada Science dan Art Corporation

Group

Yamada Science dan Art Corporation

Persamaan

inkompresibel, persamaan non hidrostatik. Dan hidrostatik

Dimensi

1-D,2-D atau 3-D

Grid

1-D,80;2-D ,29 x 40;3-D,93 x 64 x 26

Resolusi minimum horisontal

2-D,200 m;3-D,380 m;4 km dan 4 m

Resolusi vertikal

1-D,1 m;2-D,2 m; 3-D, 4m dan 1 m

Model domain

1-D,z=1-10 km;2-D,x=6 km,z=1 km;3-D,x=200 m,y=200 m, z=500 m pilihan lain x=10km 368 m,y=7km 252 m, z=1.3 km 8.4 km

Inisialisasi

4-DDA (empat dimensi data asimilasi)

Teknik solusi

2-d/3-D,ADI (alternating direction implicit),1-D dan Laasonen

Sistem koordinat

Mengikuti ketinggian

Boundary lateral

Persamaan 1-D

Top Boundary

Rigid

Permukaan Boundary

Neraca energi permukaan,lapisan tanah,tutupan lahan vegetasi

Parameterisasi subgrid campuran

Persamaan turbulensi second-moment

Parameterisasi cumulus

Persamaan turbulensi second-moment dengan Gaussian Model

Parameterisasi Radiasi

Skema Sasomori

Parameterisasi Kestabilan Presipitasi

Persamaan untuk rasio campuran uap air dan hujan dan jumlah konsentrasi butiran hujan

Contoh feno

Variasi diurnal PBL, aliran drainase pada pemukiman/topografi yang komplek, turbulensi didalam awan disekitar marine boundary layer, transport tepung sari, perubahan tutupan vegetasi,perubahan tutupan pemukiman

vegetasi.jpg

Sumber (Pielke,1997)

Gambar 1. Menunjukan aplikasi skema kumulus yang digunakan pada skenario vegetasi yang berbeda (atas) vegetasi saat ini (b) vegetasi natural.Dari perbandingan gambar diatas terlihat jelas bagaimana skema konveksi yang sama dan menggunakan parameter yang berbeda akan menghasilkan hasil yang berbeda.


Beberapa sumber tulisan yang sangat layak untuk di pelajari:

Planetary Boundary: a definition

http://www.met.tamu.edu/class/metr452/models/2001/PBLproject.html

LITE Planetary Boundary Layer Measurements:

http://www-lite.larc.nasa.gov/level1doc/phase_c_pbl.html

NWP http://www.meted.ucar.edu

Global Historical Climatology Network, Arizona State University,USA.http://www.cdiac.esd.ornl.gov/ghcn/

5 Tanggapan to “Skema Konveksi di Indonesia Dan Pemodelan Skala Meso”

  1. malik said

    Pengasuh yang terhormat, saya Malik dari LAPAN bidang konversi energi dirgantara. Saat ini saya sedang mempelajari tentang pembuatan peta angin skala meso. Dari literatur2 (terutama saya banyak ambil dari RISOE Denmark dan NREL Amerika), salah satu inputan untuk pembuatan peta angin skala meso tersebut menggunakan data NCEP/ NCAR (MM5), apakah ada institusi yang telah menggunakan dan membuat model iklim (terutama yang saya cari adalah kecepatan dan arah angin, temperatur dan kelembaban) yang menggunakan data NCEP/NCAR tersebut. Saya siap belajar (latar belakang pendidikan saya elektro) dan bekerja sama jika memang ada yang bisa membantu baik perorangan maupun institusi. Saya dapat dihubungi melalui email di rajaibrahim2003@yahoo.com
    Informasinya sangat saya harapkan dan terimakasih sebelumnya.

  2. kadarsah said

    Untuk lembaga yang telah menggunakan MM5 adalah ITB (Program Studi Meteorologi) dan UPT Hujan Buatan .
    Jika berminat saya kirim kontak yang bisa dihubungi.

  3. malik said

    Boleh mbak/ibu, saya berminat sekali karena hal ini sangat berhubungan dengan pekerjaan sehari2 saya. informasi kontaknya bisa dikirim by email atau melalui blog ini dan saya tunggu info kontaknya, terimakasih atas bantuannya.

  4. ari said

    Saya kurang jelas dengan penjelasan point 9 yaitu
    “Skema BMJ dalam Eta Model tidak dapat memperkirakan konveksi di wilayah barat, karena terjadi perbedaan sifat konveksi di pegunungan dengan lautan”

    yang dimaksud bagian barat ini daerah mana saja? bisa tolong lebih diperjelas batas daerahnya dan gambarnya bila ada.

  5. kadarsah said

    Di Wilayah barat itu adalah Pulau Sumatera bagian barat. Perbedaan sifat konveksi terjadi karena faktor pegunungan (Bukit Barisan) dan Laut sebelah barat Sumatera. Konveksi didaerah ini lebih dipengaruhi faktor-faktor lain misal pengaruh dipole mode.

    Untuk gambar:
    https://kadarsah.wordpress.com/2008/10/20/eta-model/

    silakan di komentari

    Trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: