Kadarsah

Meteorologi dan Sains Atmosfer

Archive for November, 2007

Masa Depan Pulau Kecil :Kiamat Kecil Negara Kepulauan

Posted by kadarsah pada November 30, 2007

Abrasi Pantai (Antara/Str-Gema Setara)Menjadi warga di sebuah pulau kecil tak lagi seindah dulu. Paling tidak, begitulah pengakuan seorang pemuda bernama Oscar, yang kerap muncul chatting di internet menggunakan Yahoo Messenger, dengan nama East_Oscar. Ia mengaku berasal dari Pulau Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.

Kepada teman chatting-nya di Jakarta, Oscar berkisah tentang kampung halamannya nun jauh di tengah laut lepas, di perbatasan Indonesia dengan Filipina. “Kami makin khawatir, pulau kami akan tenggelam akibat pemanasan global,” tulis Oscar. “Kami bingung harus berenang ke mana, di tengah laut terpencil sendirian,” katanya setengah bercanda.

Kini Oscar sedang menuntut ilmu di Manado, ibu kota Provinsi Sulawesi Utara. Tapi kedua orangtua, kakek-nenek, dan para keponakannya tinggal di Miangas, yang pada saat ini dihuni sekitar 800 penduduk. Miangas seakan terapung sendirian di tengah lautan luas, di perbatasan Laut Sulawesi dengan Samudra Pasifik.

Jarak pulau ini ke gugusan pulau-pulau lain di Kepulauan Nanusa, tetangganya di Kabupaten Talaud, sekitar 145 mil. Sedangkan dengan Manado berjarak 260 mil. Oscar perlu waktu sehari semalam untuk mencapai pulaunya dari Manado dengan kapal perintis.

Kekhawatiran Oscar bukan tanpa alasan. Kakeknya sering bercerita, pulau yang dihuninya semakin menciut. Miangas, yang pada zaman sang kakek kecil masih cukup melelahkan untuk dijelajahi, kini sudah mengerut terkepung ombak. Lidah laut seakan menari-nari makin mendekat, siap menelan pulau yang hanya seluas 3,15 kilometer persegi, dengan ketinggian sebagian besar wilayahnya cuma sekitar 1 meter itu.

Udara pun terasa kian menyengat membakar kulit penduduk yang banyak menghabiskan waktu di laut sebagai nelayan. Sebagian besar penghuni Miangas mungkin tak paham apa yang sedang terjadi. Tapi Oscar punya alasan mengapa ia harus khawatir.

Oscar tahu, pemanasan global yang telah mencairkan gunung-gunung es di kedua kutub bumi dan menaikkan permukaan laut itu tak mudah dihentikan atau dihambat. Ia khawatir, kampung halamannya tenggelam ke dasar laut pada akhir abad ini. Selain itu, karamnya Miangas juga akan menimbulkan persoalan batas negara yang pelik.

Pada saat ini, Miangas merupakan “patok” perbatasan Indonesia-Filipina. Jarak Miangas dengan daratan Filipina justru lebih dekat dibandingkan dengan daratan lain di Indonesia. Miangas hanya terpaut sekitar 50 mil dengan Tanjung San Agustin di Pulau Mindanao, Filipina Selatan.

Seandainya Miangas tenggelam, patok perbatasan dengan Filipina tentu akan bergeser jauh ke dalam wilayah Indonesia. Sebab, berdasarkan hukum laut internasional, perbatasan sebuah negara diukur berdasarkan ketentuan zona ekonomi eksklusif, 200 mil dari garis pantai.

Tentu persoalan serupa tak hanya dihadapi Indonesia. Sejumlah negara lain pun yang memiliki pulau-pulau kecil di perbatasan akan menghadapi masalah yang sama. Bahkan negara-negara kepulauan kecil di kawasan Pasifik, yang totalnya dihuni jutaan penduduk, diramalkan semuanya akan tenggelam. Bila peristiwa mengerikan yang diprediksi para ahli itu terbukti benar, maka “kiamat kecil” akan terjadi di kepulauan-kepulauan mungil.

Studi yang dilakukan United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) tahun 2005 memprediksi, hingga akhir abad ini permukaan laut akan naik sekitar 1 meter. Akibatnya, 42 negara pulau kecil yang tergabung dalam Small Islands Developing States (SIDS) terancam tenggelam. Negara-negara itu tersebar di perairan laut Afrika, Asia, Pasifik, Karibia, dan Mediterania.

Bahkan dengan kenaikan permukaan laut 50 sentimeter saja, seluruh Maladewa di Samudra Hindia, dan 60% bagian Pulau Grenada di Karibia, akan tenggelam. Papua Nugini di Pasifik pada saat ini sudah kehilangan 25% garis pantainya karena terendam air laut.

Persoalan terbesar dampak pemanasan global tentu menyangkut nasib para penghuni pulau-pulau kecil itu. Tenggelamnya pulau-pulau kecil dan sebagian daratan pulau besar akan mengakibatkan terjadinya gelombang pengungsian dan krisis kemanusiaan. Karena itu, seperti harapan Oscar, sudah saatnya seluruh warga dunia menyadari dampak pemanasan global, dan bersama-sama mengatasinya.

Pemanasan global (global warming) terjadi karena menumpuknya gas hasil pembakaran bahan bakar fosil, yang biasa disebut gas rumah kaca, terutama karbon dioksida (CO2), di atmosfer bumi. Gas-gas hasil kegiatan industri dan aktivitas lain manusia itu menyebabkan terperangkapnya radiasi gelombang panjang matahari yang dipancarkan kembali oleh permukaan bumi.

Kondisi ini diperparah oleh penipisan lapisan ozon (03) di atmosfer, yang selama ini menjadi payung bumi terhadap radiasi negatif sinar matahari, juga akibat aktivitas manusia. Semakin tipis lapisan ozon, semakin leluasa radiasi gelombang pendek matahari (termasuk sinar ultraviolet) memasuki bumi. Akibatnya, terjadi kondisi seperti di dalam rumah kaca. Suhu permukaan bumi makin tinggi, mencairkan gunung es di kedua kutub, sehingga menaikkan permukaan laut dan mengubah pola iklim dunia.

Baru-baru ini, Inter-Governmental Panel on Climate Change (IPCC) memublikasikan hasil penelitian para ilmuwan dari berbagai negara. Hasil penelitian itu mencatat, selama tahun 1990-2005 telah terjadi peningkatan suhu di seluruh bagian bumi sebesar 0,15 hingga 0,3 derajat celsius.

IPCC memperkirakan, suhu bumi akan meningkat 1,6-4,2 derajat celsius hingga tahun 2050 atau 2070. Di Indonesia sendiri, menurut perkiraan Global Fluid Dynamic dan Goddart International Space Study (dua lembaga dari Amerika Serikat), temperatur udara akan meningkat 2 hingga 4,2 derajat celsius sampai tahun 2050-2070.

Jika peningkatan suhu bumi terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2040 lapisan es di kutub-kutub bumi dan puncak pegunungan akan habis meleleh. Siklus musim akan berubah drastis, dan dunia akan mengalami krisis air tawar.

Deputi III Kementerian Lingkungan Hidup RI, Masnellyarti Hilman, mengatakan bahwa Indonesia sudah merasakan naiknya suhu udara akibat pemanasan global. Hal ini terlihat dari makin menipisnya salju yang dulu menyelimuti satu-satunya tempat bersalju di Indonesia, yaitu puncak Pegunungan Jayawijaya, Papua.

Temperatur udara di beberapa kota juga makin terasa menyengat. Di Jakarta, suhu udara tertinggi pernah mencapai angka 37 derajat celsius. Padahal, dalam kondisi normal, suhu udara tertinggi di Ibu Kota hanya berkisar 33 derajat celsius. Di Medan, Sumatera Utara, sepanjang tahun 1980-2002, temperatur udara tercatat meningkat 0,17 derajat celsius per tahun. Di Denpasar, Bali, peningkatan suhu udara dalam setahun bahkan dilaporkan pernah mencapai 0,87 derajat celsius.

Tak mengherankan jika air laut makin naik, karena bertambahnya volume air akibat melelehnya salju di seluruh permukaan bumi. Direktur Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K), Departemen Kelautan dan Perikanan RI, Profesor Syamsul Maarif, mengatakan bahwa kenaikan air laut di Indonesia mencapai sekitar 0,5 sentimeter per tahun atau 10 sentimeter dalam 20 tahun.

Karena itu, Direktur Pemberdayaan Pulau-Pulau Kecil, Departemen Kelautan dan Perikanan RI, Alex Retraubun, memperkirakan bahwa Indonesia bakal kehilangan banyak pulau kecil pada akhir abad ini, akibat naiknya air laut. “Sejumlah pulau di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, dengan semua infrastruktur industri wisatanya pun akan tenggelam,” ujar Alex.

Data yang dimiliki Profesor Syamsul menunjukkan, Indonesia semula memiliki 17.504 pulau. Kini tinggal 17.480 pulau. Yang lainnya tenggelam akibat naiknya air laut dan penambangan yang menyebabkan permukaan pulau makin rendah. “Karena itu, seluruh penghuni pulau kecil harus sadar bagaimana mengelola pulaunya,” kata Syamsul kepada Mukhlison S. Widodo dari Gatra.

Pakar lingkungan yang juga mantan Menteri Lingkungan Hidup RI, Profesor Emil Salim, mengutip hasil penelitian internasional yang menyimpulkan bahwa sebanyak 634 juta orang di dunia bakal kehilangan tempat tinggal karena tenggelam akibat pemanasan global. Pulau-pulau kecil milik Indonesia akan lenyap dari peta, sehingga garis batas negara akan menciut ke dalam.

“Kita sudah kehilangan lebih dari 20 pulau akibat naiknya muka laut,” kata Emil. “Diperkirakan dalam 30 tahun mendatang, sebanyak 2.000 pulau di Indonesia akan menyusul tenggelam jika laju pemanasan global tak dikendalikan,” Emil menambahkan. Bahkan sebagian wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan Banten akan ikut tenggelam pada akhir abad ini.

Hasil studi Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan Laut, Institut Teknologi Bandung (ITB), tahun 2007 mencatat, permukaan air laut di Teluk Jakarta naik setinggi 0,57 sentimeter per tahun. Kondisi itu diperburuk oleh anjloknya permukaan tanah sampai 0,8 sentimeter per tahun akibat pengambilan air tanah dan pembangunan gedung-gedung bertingkat.

Studi itu memperkirakan, jika suhu bumi terus meningkat, maka pada tahun 2050 sebagian wilayah Jakarta, seperti Kosambi, Penjaringan, dan Cilincing, akan lenyap ditelan laut. Begitu juga sebagian wilayah Bekasi, seperti Muaragembong, Babelan, dan Tarumajaya. Menurut peneliti dari ITB, Dr. Armi Susandi, MT, setiap peningkatan 10 sentimeter permukaan air laut akan merendam 10 meter kawasan pantai. Ia memperkirakan, pada 2030, Bandara Soekarno-Hatta pun mungkin akan terendam laut.

Dampak naiknya permukaan laut akibat pemanasan global sudah dialami warga Jakarta dalam bentuk banjir besar, beberapa tahun belakangan ini. Sebagian besar wilayah Jakarta semakin rentan banjir karena naiknya permukaan laut Teluk Jakarta.

Kondisi ini diperparah oleh terjadinya perubahan pola iklim dan rusaknya lingkungan. Dalam 30 tahun terakhir ini, tercatat telah terjadi perubahan siklus musim kemarau dan musim hujan yang tak teratur. Curah hujan kadang sangat tinggi, dan musim hujan berumur lebih panjang, atau sebaliknya.

Pemanasan global memang berdampak kompleks. Suhu udara yang tinggi juga akan meningkatkan temperatur laut, yang secara langsung akan berdampak pada biota laut. “Kenaikan permukaan laut dan suhu air satu derajat celsius saja bisa memusnahkan sejumlah spesies karang, karena terumbu karang memiliki toleransi yang sempit terhadap perubahan suhu dan kedalaman air,” kata Alex Retraubun.

Akibat pemanasan global, ujar Alex, wabah coral bleaching (pemutihan karang) kini melanda seantero perairan dunia. Di Palau, Samudra Pasifik, misalnya, coral bleaching terjadi sampai kedalaman 90 meter, memusnahkan 99% spesies karang.

Matinya terumbu karang akan membuka perlindungan daratan dari empasan gelombang laut, sehingga meningkatkan proses abrasi pantai. Akhirnya, tentu saja air laut makin merayap maju. Kombinasi berbagai dampak yang ditimbulkan pemanasan global jelas akan mempercepat tenggelamnya pulau atau sebagian pulau karena tertelan laut.

Karena itulah, tinggal di pulau kecil mulai merisaukan Oscar. Di balik deburan syahdu gelombang laut membelai punggung pantai, kini tersimpan bahaya besar. Lidah laut kian merangsek hendak menelan daratan. Wajar saja jika kekhawatiran Oscar mengalahkan keindahan perasaannya mendiami pulaunya nan damai, di antara deru ombak dan semilir angin.

Tiap kembali ke Miangas, Oscar mengaku selalu mengajak warga pulaunya peduli pada lingkungan dengan memelihara vegetasi pantai. Ia memulai upaya melawan pemanasan global dengan menanam pohon, untuk membantu menyerap karbondioksida yang makin menggelayuti atmosfer bumi. Sebuah langkah kecil yang layak diikuti seluruh warga bumi demi masa depan planet ini.

Endang Sukendar dan Bernadetta Febriana
[Perubahan Iklim Dunia, Gatra Edisi Khusus Beredar Kamis, 22 November 2007]

Iklan

Posted in Global Climate Change | 5 Comments »

Mengenal Iklim Indonesia

Posted by kadarsah pada November 30, 2007

Iklim adalah rata-rata cuaca dalam periode yang panjang. Sedangkan cuaca merupakan keadaan atmosfer pada suatu saat. Ilmu yang mempelajari iklim adalah klimatologi. Meteorologi mempelajari proses fisis dan gejala cuaca yang terjadi didalam atmosfer terutama pada lapisan bawah (troposfer).

Klimatologi berasala dari bahasa Yunani klima dan logos. Klima berarti kemiringan bumi yang terfokus pada pengertian lintang tempat. Logos berarti ilmu.

Meteorologi berasal dari bahasa Yunani, meteoros dan logos. Meteoros berarti benda yang ada didalam udara.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Klimatologi | 48 Comments »

Bumi Makin Panas

Posted by kadarsah pada November 23, 2007


Pembangunan Jalan Tol (GATRA/Wisnu Prabowo)Tanpa bermaksud apriori, Pertemuan Para Pihak/Conference of Parties/COP Ke-13 bagi peratifikasi Protokol Kyoto (tanpa Amerika) maupun peserta konvensi (dengan Amerika) tentang perubahan iklim untuk penurunan dan stabiliasi emisi gas rumah kaca akan sulit dicapai. Argumennya, sekalipun mengikat secara hukum (legally binding), karena sifatnya voluntary basis dan saling menguntungkan, maka sangat sulit menagih komitmen kewajibannya para pihak. Tanpa sanksi yang jelas dan tegas bagi peratifikasi Protokol Kyoto maupun konvensi memosisikan penurunan emisi melalui joint implementation scheme, clean development mechanim, emission trading, dan mekanisme lainnya hanya menjadi wacana.

Penolakan emiter terbesar Amerika Serikat dengan 36,1% total emisi dunia pada 1990 untuk meratifikasi Protokol Kyoto tanpa redistribusi ke negara ANNEX 1 menyebabkan target penurunan emisi yang menjadi tanggung jawab negeri adidaya itu tidak terjadi. Posisi emisi gas rumah kaca pada saat ini, yang mencapai 20% di atas emisi tahun 1990, menyebabkan stabilisasi gas rumah kaca ke masa dasar menjadi sangat berat.

Bahkan boleh dikata tidak mungkin dilakukan, karena membutuhkan investasi teknologi dan biaya sangat besar. Tidak tercapainya stabilisasi gas rumah kaca pada periode komitmen pertama (2008-2012) menyebabkan kenaikan suhu permukaan bumi 2 derajat celsius dipercepat. Akibatnya, bumi pun makin panas, dan bencana lingkungan tinggal menunggu eksplosinya.

Pembangunan yang tidak sensitif terhadap climate change dengan lebih mengutamakan pertumbuhan sesaat yang tidak berkesinambungan menyebabkan reduksi emisi dan stabilisasi gas rumah kaca tak dapat dilakukan. Pilihan membangun jalan tol sebagai moda transportasi utama yang memerlukan pembebasan tanah sangat mahal, merusak lingkungan, mengalihfungsikan lahan sawah, boros bahan bakar minyak dibandingkan dengan moda transportasi kereta api –yang murah, efisien, dan ramah lingkungan karena jalurnya sudah tersedia– merupakan teladan rendahnya sensitivitas dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Lambatnya implementasi program penanaman tanah kosong untuk hutan (afforestation), penghutanan kembali (reforestation), dan pengurangan emisi kegiatan deforestasi menyebabkan sumber emisi terus bertambah tanpa diikuti peningkatan wadah penyerap yang signifikan. Kebijakan subsidi terhadap energi yang tidak ramah lingkungan, seperti batu bara, tanpa memperhitungkan kebersihan dan keberlanjutan energi menyebabkan energi terbarukan tidak mendapat tempat yang proporsional untuk berkembang, sehingga peningkatan emisi dan pemanasan atmosfer semakin tidak terkendali.

Belum tersedianya mekanisme pendanaan yang jelas dan harga karbon yang rendah menyebabkan perdagangan karbon dan mekanisme pembangunan bersih belum dapat diimplementasikan secara optimal. Negara pemilik hutan tropis sebagai penambat karbon menginginkan harga yang proporsional dengan pengorbanan yang dilakukan. Pada saat ini, harga 1 ton CO2 berkisar US$ 5. Padahal, menurut kalkulasi, harga wajarnya US$ 10-US$ 20. Sehingga antara calon penambat karbon dan pembeli certified emission reduction (CER) saling menunggu untuk mendapatkan harga terbaik.

Posisi wait and see ini terjadi karena CER merupakan surat berharga yang dapat diperdagangkan, sehingga terbuka peluang untuk mendapatkan keuntungan sesuai dengan mekanisme pasar. Karena itu, diperlukan kebijakan tegas dan transparan dalam penurunan dan stabiliasi emisi lintas sektor, lintas provinsi, kabupaten/kota yang konsisten pada saat memulai pemilihan moda transportasi, penggunaan bahan bakar, dan penghapusan subsidi energi fosil agar adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dapat dipercepat.

Kegagalan penurunan emisi gas rumah kaca peratifikasi Kyoto Protokol dan strategi pembangunan yang tidak sensitive climate change memosisikan bumi terus memanas. Akibat lain, antisipasi perubahan iklim pun berada di simpang jalan. Negara-negara kepulauan (island countries) maupun negara-negara lintang rendah (khatulistiwa) merupakan korban/victim pertamanya. Indonesia adalah contoh kongkret dampak buruk itu.

Peningkatan suhu permukaan bumi dan laut yang ekstrem akibat pemanasan global akan menenggelamkan pulau-pulau kecil Indonesia yang jumlahnya ribuan, menaikkan intensitas dan besaran gelombang, mengacaukan musim, menurunkan produksi ikan, sehingga sangat mengganggu sistem dan kemampuan produksi pangan nasional.

Abrasi pantai, ancaman pada permukiman pesisir, tingginya banjir, dan kekeringan merupakan dampak pemanasan global dengan petani dan rakyat miskin sebagai korban. Ketidakadilan asasi ekonomi dan lingkungan ini, apa pun alasannya, harus dihentikan secepatnya, karena negara-negara korban pemanasan global terampas hak hidup dan kehidupannya. Negara GG 77 plus Cina dan negara negara non-ANNEX 1 harus melakukan tekanan politik serta menagih komitmen negara emiter ANNEX 1 agar secepatnya mengimplementasikan komitmen dan kewajibannya dalam menurunkan emisi.

COP Ke-13 di Bali, yang direncanakan berlangsung pada 3-14 Desember 2007, harus mampu menghasilkan: (1) peta dan skema baru penurunan emisi dengan mengintegrasikan kepentingan Amerika Serikat serta (2) jenis dan mekanisme pendanaan yang transparan. Pengenaan pajak emisi (emission tax) terhadap produsen mesin pengguna bahan bakar fosil dan penghasil bahan bakar fosil untuk pendanaan mekanisme pembangunan bersih dan subsidi langsung korban pemanasan global perlu diintroduksi. Komitmen Amerika untuk mendukung Indonesia sebagai pelaksana COP Ke-13 dapat dimanfaatkan untuk mendorong kesepakatan penurunan emisi agar hajat besar dengan dana APBN Rp 114 milyar itu dapat memberi manfaat langsung bagi pemilik kedaulatan negeri.

Gatot Irianto
Direktur Pengelolaan Air, Ditjen PLA Deptan/Anggota Kelompok Kerja Perubahan Iklim Departemen Pertanian
[Lingkungan, Gatra Nomor 52 Beredar, 8 November 2007]

Posted in Global Climate Change | Leave a Comment »