Kadarsah

Meteorologi dan Sains Atmosfer

Archive for September, 2007

Soeharto Pencuri Kekayaan Negara Nomor Satu di Dunia.

Posted by kadarsah pada September 20, 2007

 

“Soeharto, pencuri harta negara nomor satu di dunia.” Begitulah kesimpulan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam peluncuran “Stolen Asset Recovery Initiative,” di Markas Besar PBB, New York, pada hari Senin (17 September 2007). Artinya, menurut PBB Soeharto Inc., adalah “keluarga pencuri nomor satu di dunia.” Buku panduan ini dikeluarkan PBB dan Bank Dunia, peluncurannya dihadiri Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon, Presiden Bank Dunia Robert B. Zoellick, dan Antonio Maria Costa Direktur Eksekutif U.N. Office on Drugs and Crime (UNODC), Badan PBB yang bertanggungjawab untuk inisiatif ini. Termasuk Adiyatwidi Adiwoso, Deputi Perwakilan Tetap RI untuk PBB, dan Arif Havas Oegroseno, Direktur Perjanjian Internasional Deplu RI, serta para pejabat tinggi sejumlah negara anggota PBB.

Berapa harta Negara yang dicuri Soeharto menurut PBB? Sejak berkuasa pada 1967-1998 harta curian tersebut bernilai 15-35 miliar dolar AS. Adapun daftar lengkapnya yang dipersiapkan oleh Transparency International (TI) dan Bank Dunia berbunyi, “Daftar Perkiraan Dana yang Kemungkinan Dicuri dari Sembilan Negara” adalah :

(1) Soeharto, Indonesia, (1967-1998) senilai 15-35 miliar dolar AS;

(2) Ferdinand E. Marcos, Filipina, (1972-1986) senilai 5-10 miliar dolar AS;

(3) Mobutu Sese Seko, Kongo, (1965-1997) senilai 2-5 miliar dolar AS;

(4) Sani Abacha, Nigeria, (1993-1998), senilai 2-5 miliar dolar AS;

(5) Slobodan Milosevic, Serbia/Yugoslavia, (1989-2000) senilai satu miliar dolar AS;

(6) Jean-Claude Duvalier, Haiti, (1971-1986) senilai 300-800 juta dolar AS;

(7) Alberto Fujimori, Peru (1990-2000), senilai 600 juta dolar AS;

(8) Pavlo Lazarenko, Ukraina (1996-1997), senilai 114-200 juta dolar AS;

(9) Arnoldo Aleman, Nikaragua (1997-2002), senilai 100 juta dolar AS;

(10) Joseph Estrada, Filipina (1998-2001) senilai 78-80 juta dolar AS (Lihat http://siteresources.worldbank.org/NEWS/Resources/Star-rep-full.pdf)

Bila Joseph Estrada mantan Presiden Filipina (1998-2001) hanya mencuri uang Negara senilai 78-80 juta dolar AS (sekitar 800 miliar rupiah) dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada hari Rabu (12 September 2007) oleh Sandiganbayan, pengadilan khusus korupsi Filipina, dalam persidangan hampir enam tahun lebih.

Soeharto yang mencuri uang Negara, ambil minimal saja 350 triliun rupiah sesuai pengumuman PBB bukan 600 triliun rupiah atau 730 triliun rupiah (Time), seharusnya dihukum 437,5 kali seumur hidup!

Mari berburu harta Soeharto Inc., “keluarga pencuri harta rakyat nomor satu di dunia,” bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa di seluruh dunia!

source:http://soehartoincbuster.org/2007/09/stop-press-perserikatan-bangsa-bangsa-senin-17-september-2007-soeharto-pencuri-kekayaan-negara-nomor-satu-di-dunia/

Iklan

Posted in Berita, Umum | 4 Comments »

Kemarau Basah akibat La Nina

Posted by kadarsah pada September 18, 2007

Edvin Aldrian

Hampir sebagian besar wilayah Indonesia masih diguyur hujan pada saat musim yang seharusnya sudah berada di pertengahan musim kemarau. Beberapa pihak menengarai tahun ini sebagai kemarau basah yang disebabkan oleh fenomena La Nina di Samudra Pasifik barat (Kompas, 26 Mei 2007).

Selain itu, juga kombinasi dengan Indian Dipole Mode (DM) positif di Samudra Hindia. Benarkah demikian atau adakah penyebab lainnya?

Memang, El Nino/La Nina dan DM merupakan dua fenomena regional utama yang memengaruhi iklim Indonesia.

El Nino (atau La Nina) akan mengurangi (atau menambah) curah hujan pada musim kemarau di Indonesia, terutama di wilayah timur hingga selatan Indonesia. Adapun DM positif (atau negatif) akan memengaruhi curah hujan di wilayah Barat, seperti Sumatera bagian selatan dan Jawa dengan mengurangi (atau menambah) pada musim kemarau.

Berdasarkan hasil pemantauan karakteristik curah hujan tahunan Indonesia, ada kecenderungan bahwa setelah terjadi tahun El Nino (tahun kering) biasanya diikuti dengan peningkatan curah hujan pada kemarau tahun berikutnya. Hal ini terbukti terjadi pada tahun 1998/1999 setelah El Nino kuat 1997/1998, dan pada tahun 2003/2004 setelah El Nino lemah tahun 2002.

Padahal, tahun 2006 kita mengalami juga El Nino lemah yang berawal agak telat di sekitar bulan November. Selain itu, DM kuat positif tahun 2004 juga diikuti oleh tahun kemarau basah 2005.

Secara teoretis pendapat itu dapat dipahami karena berdasarkan konsep neraca energi (energy balance) klasik, termasuk uap air akan selalu mencapai keseimbangan setelah mengalami kondisi ekstrem tertentu, akan berbalik ke kondisi ekstrem lainnya. Dengan pola yang sama, kemungkinan besar tahun 2007 ini adalah tahun kemarau basah.

Salah satu penyebab lain yang belum dan kurang dibahas adalah pengaruh dari pemanasan global. Hasil kajian dari NASA menunjukkan bahwa lima tahun terpanas sejak pengukuran tahun 1890, berturut-turut adalah tahun 2005, 1998, 2002, 2003, dan 2004.

Dari data itu, hanya tahun 1998 yang merupakan tahun La Nina; tahun 2004 adalah tahun dengan DM kuat positif, sedangkan sisanya tidak ada indikasi jelas La Nina ataupun DM kuat.

Suatu tahun diindikasikan mengalami La Nina apabila suhu laut di wilayah Pasifik barat, semisal daerah NINO3, mengalami penurunan di bawah rata-ratanya melebihi nilai standar deviasinya (stdev), yaitu 1 ºC.

Sementara kondisi DM dinyatakan setelah ada perbedaan antara dua wilayah kutub (dipole) di Samudra Hindia dengan perbedaan melebihi 0,52 ºC (stdev). Kondisi terakhir yang terpantau saat ini deviasi nilai suhu laut di wilayah NINO3 (5 LS-5 LU, 150 BB-90 BB) adalah -0,46 ºC dan indeks DM 0,82 ºC.

Meskipun nilai indeks DM telah di atas standar deviasinya sehingga dinyatakan sebagai tahun DM positif, tetapi dari hasil kajian lebih mendalam terlihat bahwa nilai deviasi kutub (dipole) di wilayah barat adalah 0,6 ºC dengan stdev 0,36 dan di wilayah timur, yaitu wilayah barat daya Pulau Sumatera adalah -0,23 ºC dengan stdev 0,43 ºC (total indeks DM 0,82 ºC).

Adapun hasil kajian data DM sepuluh tahun terakhir menunjukkan bahwa kutub wilayah timurlah yang lebih berpengaruh terhadap iklim Indonesia yang kondisi terakhir masih jauh di bawah nilai stdev-nya.

Pemanasan global

Dapat disimpulkan, dalam sepuluh tahun terakhir, apabila El Nino/La Nina dan DM lemah, pemain ketiga yang menentukan iklim Indonesia adalah pemanasan global.

Akibat dari pemanasan global ini suhu laut di wilayah Indonesia masih relatif hangat (di atas 28 ºC) sehingga memberikan suplai uap air yang cukup bagi proses konveksi dari curah hujan tinggi di beberapa wilayah Indonesia.

Hal ini terbukti oleh beberapa peristiwa banjir yang dilaporkan di beberapa wilayah Indonesia, seperti Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Maluku pada akhir Juni lalu. Dengan berbagai indikator iklim di atas, diprediksi bahwa tahun 2007 ini sebagai salah satu tahun bumi terpanas.

Hasil kajian ini berbeda dari analisis yang dilansir BMG (Kompas, 5 Juni 2007) yang menyebutkan bahwa kombinasi La Nina dan DM positif dapat mengakibatkan situasi basah di wilayah timur serta utara Indonesia dan kering di wilayah selatan Indonesia.

Pelajaran yang dapat diambil dari tahun 2005 atau tahun terpanas lainnya menunjukkan bahwa kemarau basah akan berlangsung hingga awal musim hujan (2005) atau kemarau kering yang relatif pendek.

Pada Juni dan Juli 2005 tercatat bahwa Jakarta mengalami banjir akibat intensitas hujan tinggi. Selain itu, jumlah titik api akibat kebakaran hutan pada musim kemarau tahun-tahun tersebut relatif sedikit dibandingkan tahun lainnya.

Apabila hal ini terjadi pada tahun ini, akan menguntungkan delegasi Indonesia menghadapi konferensi COP 13 perubahan iklim pada awal Desember mendatang di Bali di mana “momok” emisi karbon Indonesia selalu membayangi.

Data terakhir menunjukkan, jumlah titik api di Sumatera dan Kalimantan pada Mei dan Juni 2007, yaitu 193 dan 400 titik, dibandingkan Mei dan Juni 2006 yang 7.956 dan 1.129 titik. Itu berarti menunjukkan penurunan luar biasa.

Sektor pangan serta energi dapat menikmati keuntungan pada tahun ini setelah kemarau panjang tahun 2006. Bagi sektor pertanian, peningkatan ketersediaan air merupakan peluang yang sangat ideal untuk meningkatkan luas tanam (area of planting), indeks pertanaman (cropping intensity), dan produktivitas (productivity).

Terlebih untuk mengejar program penambahan produksi beras 2 juta ton tahun 2007. Bagi sektor kehutanan, periode basah merupakan peluang yang sangat baik untuk menambal hutan yang gundul dan meningkatkan kualitas agroforest yang ada atau bahkan mengembangkan areal baru.

Program jangka pendek ini perlu dijadikan crash program lintas sektoral agar hasilnya lebih maksimal. Berbagai implikasi strategis akibat dampak positif iklim ini harus bisa lebih nyata kita peroleh sesuai pengalaman tahun 1998 dan 2003 yang juga relatif basah.

Edvin Aldrian, Peneliti Madya UPTHB-BPPT/ Dosen Pascameteorologi Laut Universitas Indonesia

Posted in Global Climate Change, Meteorologi | 5 Comments »

Kondisi Ozon di Indonesia Masih Normal dan Aman

Posted by kadarsah pada September 16, 2007

Dr. Ninong, ”Lebih Baik Dibandingkan Tahun Lalu”BANDUNG, (PR).-
Kondisi ozon di Indonesia dinilai masih dalam batas normal dan aman. Meski begitu, masyarakat perlu mewaspadai penggunaan bahan perusak ozon (terutama CFC). Sebab penggunaan bahan perusak ozon yang tidak terkendali memungkinkan terjadinya lubang ozon di Indonesia.

Peneliti Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Bandung, Dr. Ninong Komala mengatakan, saat ini konsentrasi ozon di Indonesia berkisar antara 240-270 dobson unit (DU). Sementara di Bandung berkisar antara 255-258 DU. ”Kondisi ini masih relatif aman, karena batas minimal konsentrasi ozon yakni 150 DU,” kata Ninong, Minggu (16/9).

Kendati demikian, rata-rata konsentrasi ozon ini sangat fluktuatif. Kondisi terparah terjadi tahun 2006 karena banyaknya kasus kebakaran hutan. ”Sekarang sedikit lebih baik dibandingkan tahun lalu,” tambahnya.

Dikatakan Ninong, ozon terdapat di dua lapisan yakni statosfer dan troposfer yang fungsinya cenderung kontradiktif. Saat ini, kecenderungannya, lapisan yang ada di statosfer menurun sehingga sinar ultra violet pun semakin banyak mengenai kulit manusia. Sementara, lapisan ozon yang ada di troposfer cenderung meningkat seiring dengan peningkatan polusi udara.

Sejumlah kejadian alam, diakui Ninong dapat menyebabkan menipisnya lapisan ozon. Namun, gas yang dibawa peristiwa alam ini tidak akan sampai menembus lapisan statosfer (ozon) karena sifatnya yang mampu bereaksi dengan air. Sementara, CFC yang merupakan buatan manusia cenderung bersifat stabil dan tidak mampu bereraksi dengan air di udara, sehingga dapat menipiskan lapisan ozon.

Katarak meningkat

Menurut Ninong, 10 persen penipisan ozon akan memicu peningkatan radiasi ultraviolet sebesar 20 persen. ”Jadi kewaspadaan itu penting sebab bisa jadi bukan lapisan ozon di wilayah Indonesia yang tipis, tetapi efeknya mencapai ke negara kita,” katanya. Ia menjelaskan, sejumlah gejala yang menandakan lapisan ozon semakin menipis, antara lain semakin meningkatnya kasus katarak, serta kanker kulit.

Diakui Ninong, CFC serta beberapa bahan sejenis memang menguntungkan manusia. Namun, tidak aman bagi lapisan ozon. Secara internasional, saat ini tengah diuji bahan alternatif yang mempunyai daya rusak lebih rendah dibandingkan CFC.

Menipisnya lapisan ozon dan peristiwa pemanasan global, kata Ninong merupakan dua hal yang sangat berkaitan. Namun begitu, menipisnya lapisan ozon hanya salah satu penyebab kecil pemanasan global. Artinya, kondisi kota yang semakin panas belum tentu disebabkan oleh menipisnya lapisan ozon, melainkan banyaknya polusi udara oleh gas CO2. ”Penyebab utama pemanasan global itu gas CO2, uap air, gas metana, baru lapisan ozon yang tipis,” ujarnya. Oleh karena itu, kondisi kota yang semakin panas belum bisa diindikasikan sebagai salah satu gejala menipisnya lapisan ozon.

Dalam rangka peringatan hari ozon tahun 2007 ini, Lapan pun mengampanyekan kepedulian terhadap lapisan ozon melalui Lomba Poster untuk pelajar SMA. Tiga karya yang dinilai sebagai pemenang akan dikirimkan ke UNEP (organisasi lingkungan dunia) sebagai bentuk peran serta Indonesia mengampanyekan peduli lapisan ozon. (A-155)***

Sumber:http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/092007/17/0205.htm

Posted in Berita, Meteorologi, Natural Hazard, Sains atmosfer, Umum | 2 Comments »

Mari Kita Ciptakan Budaya Ramah Ozon

Posted by kadarsah pada September 15, 2007

 

TANGGAL 16 September 1987, Program Lingkungan PBB (United Nations Environment Programme) mendeklarasikannya sebagai Hari Ozon Dunia. Deklarasi itu bertepatan dengan penandatanganan Protokol Montreal oleh 24 negara, yang berisi penjabaran pelaksanaan konvensi perlindungan lapisan ozon yang memuat secara terperinci langkah-langkah yang perlu diambil dalam pengawasan produksi dan konsumsi bahan perusak ozon (BPO). Sekarang, tepat 20 tahun sejak penandatanganan Protokol Montreal, dunia memperingati tanggal tersebut sebagai ”Tahun Internasional Lapisan Ozon”.

Protokol Montreal merupakan tindak lanjut dari Konvensi Jenewa 1982 yang menjadi landasan hukum pelaksanaan perlindungan lapisan ozon di tingkat internasional. Protokol tersebut mensyaratkan seluruh negara bekerja sama melaksanakan pengamatan, penelitian, dan pertukaran informasi guna memperoleh pemahaman yang lebih baik dan mengkaji dampak kegiatan manusia terhadap lapisan ozon serta dampak penipisan lapisan ozon terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Pemerintah Indonesia menetapkan kebijakan untuk berpartisipasi aktif dalam upaya perlindungan lapisan ozon dan terdaftar sebagai anggota Konvensi Wina dan Protokol Montreal pada tahun 1992.

Mengapa lapisan ozon harus dilindungi? Alasannya, lapisan ozon menyelamatkan kehidupan di bumi. Bila lapisan ozon menipis, akan semakin banyak radiasi ultraviolet matahari yang sampai ke permukaan bumi. Radiasi ultraviolet matahari yang berlebihan dapat menyebabkan berbagai efek terhadap kesehatan, termasuk kerusakan kulit (kanker kulit dan penuaan dini), kerusakan mata (termasuk katarak), dan menurunnya sistem kekebalan tubuh. Radiasi ultraviolet yang berlebihan diyakini mengakibatkan peningkatan melanoma, yaitu sejenis kanker kulit yang paling fatal.

Amerika memperkirakan pada tahun 2165, aksi perlindungan dan pemulihan lapisan akan bisa mencegah 6,3 juta kasus kematian karena kanker kulit. Di Amerika saja bila dikonversi dengan nilai keuntungan kesehatan masyarakat, kira-kira setara dengan 4,2 triliun dolar AS. Kita bisa hitung berapa juta atau mungkin miliar kasus kematian karena kanker kulit yang bisa dicegah dan berapa triliun dolar kerugian yang bisa dihindari.

Pemulihan lapisan ozon

Saat ini lebih dari 191 negara pendukung Protokol Montreal telah membuat langkah-langkah untuk melindungi lapisan ozon, lingkungan, dan kesehatan manusia, di antaranya dengan mengurangi dan mengontrol produksi 100 jenis bahan perusak ozon (BPO). Pada tahun 1987, produksi BPO yang dikontrol oleh protokol ini lebih dari 1,8 juta ton per tahun dan pada akhir 2005 sudah berkurang produksinya menjadi 83.000 ton.

Langkah sukses yang dicapai dalam mengurangi produksi BPO ini sangat membantu melindungi kesehatan manusia dan lingkungan. Tercapainya 95% pengurangan produksi BPO tidak mungkin terwujud tanpa adanya dukungan yang kuat dari negara-negara pendukung Protokol Montreal, yaitu dengan mengubah secara fundamental perilaku komunitas dunia dalam melakukan bisnis, serta memacu pengembangkan alternatif dan teknologi baru yang ditujukan untuk melindungi lapisan ozon. Sebagian besar bentuk BPO adalah sejenis gas rumah kaca yang potensial dan dapat memengaruhi perubahan iklim global.

Akan tetapi, kerja Protokol Montreal masih belum selesai. Para ilmuwan saat ini memperkirakan pemulihan lapisan ozon akan terjadi pada akhir abad ini. Perkiraan tersebut berdasar pada asumsi Protokol Montreal akan dilaksanakan secara penuh, dalam arti penghapusan (phase out) secara menyeluruh ODS generasi pertama (sejenis CFC) di negara berkembang dan penghapusan secara menyeluruh ODS generasi kedua (HFCFC) yang dijadwalkan diperpanjang sampai tahun 2040.

Pemulihan berkelanjutan lapisan ozon mungkin akan bisa terjadi bila penghapusan BPO di seluruh dunia sudah dilakukan. Diperkirakan lapisan ozon akan kembali pada kondisi sebelum 1980 sekitar tahun 2050 sampai 2075. Apa yang bisa kita lakukan agar bisa membantu upaya pemulihan lapisan ozon?

Ramah ozon

Ozone friendly” atau kita sebut saja ”ramah ozon” bisa kita terjemahkan sebagai segala tindakan atau perilaku yang dilakukan masing-masing individu untuk mengurangi dan mengeliminasi pengaruh terhadap lapisan ozon stratosfer yang disebabkan oleh produk yang kita beli, seperti peralatan rumah tangga atau kantor yang kita gunakan, atau proses pembuatan bahan/barang yang dilakukan di perusahaan/pabrik kita. Produk yang dibuat dengan bahan perusak ozon (BPO) atau mengandung BPO seperti CFC, HCFC, halon, metil kloroform, dan metil bromida dapat berkontribusi pada penipisan lapisan ozon.

Perilaku di bawah ini adalah tindakan yang dapat kita lakukan secara individu untuk membantu melindungi lapisan ozon.

1. Menjadi konsumen yang ”ramah ozon”. Dapat dilakukan dengan selalu membeli produk (misalnya aerosol dalam kaleng, lemari es, pemadam kebakaran, dll.) yang berlabel ozone friendly atau Free CFC. Label tersebut menunjukkan bahwa produk-produk tersebut tidak mengandung BPO seperti CFC atau halon.

2. Menjadi pemilik rumah yang ”ramah ozon”. Membuang secara bertanggung jawab lemari es dan perabot rumah tangga yang sudah tidak terpakai. Lemari es yang menggunakan bahan pendingin CFC dan HCFC harus dibersihkan/dikeluarkan dari perabot rumah tangga sebelum kita buang. Pemadam kebakaran portable yang mengandung halon yang sudah tidak dibutuhkan lagi dikembalikan kepada perusahaan terkait untuk didaur ulang.

3. Menjadi petani yang ”ramah ozon”. Bila menggunakan metil bromida untuk fumigasi tanah, pertimbangkan untuk mengganti bahan pestisida yang merusak ozon ini dengan bahan yang efektif dan aman, seperti yang digunakan di negara lain yang sudah mengganti metil bromide.

4. Menjadi teknisi servis/perbaikan peralatan rumah tangga yang ”ramah ozon”. Pada waktu memperbaiki peralatan rumah tangga seperti kulkas atau AC, yakinkan bahwa bahan pendingin dari AC, lemari pendingin, atau freezer tersebut tidak ”bocor” atau terlepas ke atmosfer. Bantu untuk memulai mengganti bahan pendingin dengan yang non-CFC .

5. Menjadi pegawai kantor yang ”ramah ozon”. Membantu kantor kita mengidentifikasi peralatan (seperti pendingin air, AC, larutan pembersih, dan bahan pemadam kebakaran) dan produk yang dibeli (aerosol spray, busa (foam) untuk bantalan alas duduk, larutan untuk mengoreksi tulisan di kertas, dan lain-lain) yang menggunakan BPO, buat rencana untuk mengganti alat atau bahan tersebut dengan bahan alternatif yang efektif tidak merugikan.

6. Menjadi guru yang ”ramah ozon”. Informasikan kepada murid-murid tentang pentingnya melindungi lapisan ozon. Ajari murid tentang bahaya pengaruh BPO terhadap atmosfer, kesehatan, langkah-langkah yang dilakukan secara nasional, maupun dunia internasional untuk memecahkan masalah ini.

7. Menjadi organisator komunitas yang ”ramah ozon”. Menginformasikan kepada keluarga, tetangga, dan teman-teman tentang perlunya melindungi lapisan ozon dan bantu mereka untuk ikut terlibat.

8. Menjadi warga yang ”ramah ozon”. Perbanyak membaca dan mempelajari lebih jauh tentang dampak penipisan lapisan ozon terhadap manusia, binatang, dan lingkungan, juga strategi dan kebijaksanaan nasional untuk mengimplementasikan Protokol Montreal dan cara penghapusan BPO di negara kita. Menghubungi unit ozon nasional yang ada di negara kita dan belajar bagaimana kita bisa terlibat secara individu.

Perilaku di atas sudah sejak lama dikampanyekan dan dilakukan di negara lain. Bagaimana dengan di negara kita?. Mari kita selamatkan lapisan ozon kita dari kerusakan, dengan berperilaku ”ramah ozon”, mulai dari ”diri kita” dan ”lingkungan kita” sekarang juga.

(Dr. Ninong Komala, peneliti Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Bandung)***

Sumber :http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/092007/16/0104.htm

Posted in Berita, Global Climate Change | 3 Comments »

10 Kota Paling Polusi Sedunia

Posted by kadarsah pada September 15, 2007

2007-09-15 12:11:00

Arfi Bambani Amri – detikcom

Jakarta – Kelompok pemerhati lingkungan Amerika Serikat, Institut Blacksmith, mengeluarkan rilis 10 kota paling polusi di seluruh dunia. 10 Kota itu tersebar di Cina, Rusia, Ukraina, India, Peru, Azerbaijan dan Zambia. Jakarta?

Seperti diberitakan BBC News, Sabtu (15/9/2007), diperkirakan 12 juta orang menderita akibat polusi yang umumnya disebabkan industri kimia, logam dan pertambangan itu. Derita yang ditimbulkan adalah penyakit kronis dan kematian prematur.

Daftar 10 kota tersebut dimuat dalam buku tahunan Blacksmith yang kedua (2007) ini. Nama kota disusun menurut abjad tanpa ranking. Namun setiap nama kota dilengkapi dengan ukuran kota, populasi dan dinamika polusinya. Syukurlah Jakarta tidak termasuk dalam daftar tersebut.

Kota yang baru masuk dalam buku tahunan 2007 ini adalah Tianying di Cina. Terdapat 140 ribu orang berisiko terpapar timbal dari produksi massal timbal yang berpusat di kota itu.

Di Sukinda, India, terdapat 12 pertambangan yang beroperasi tanpa amdal, yang membocorkan kimia berbahaya ke saluran air. Di kota Sumgayit, Azerbaijan, terdapat basis industri kimia dan logam berat menjadi sumber polusi.

Akibatnya, di Sumgayit, angka penderita kanker lebih tinggi 51 persen dari rata-rata nasional. Mutasi genetik dan kegagalan melahirkan biasa terjadi.

“Fakta dari kasus-kasus ini adalah anak-anak sakit dan menderita di tempat-tempat polusi itu,” ujar Direktur Institut Blacksmith Richard Fuller.

“Tahun ini, media semakin banyak memfokuskan polusi, namun masih sedikit aksi untuk mengatasi,” imbuh Fuller.

Berikut daftar 10 kota paling polusi sedunia menurut Blacksmith Institute yang disusun berdasarkan abjad negara:

1. Sumgayit, Azerbaijan; 275.000 orang potensial terpengaruh
2. Linfen, Cina; 3 juta orang potensial terpengaruh
3. Tianying, Cina; 140.000 orang potensial terpengaruh
4. Sukinda, India; 2,6 juta orang potensial terpengaruh
5. Vapi, India; 71.000 orang potensial terpengaruh
6. La Oroya, Peru; 35.000 orang potensial terpengaruh
7. Dzerzhinsk, Rusia; 300.000 orang potensial terpengaruh
8. Norilsk, Rusia; 134.000 orang potensial terpengaruh
9. Chernobyl, Ukraina; 5,5 juta orang potensial terpengaruh
10. Kabwe, Zambia; 255.000 orang potensial terpengaruh.
(aba/sss)http://jkt1.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/09/tgl/15/time/121125/idnews/830406/idkanal/10

Posted in Berita, Global Climate Change | Leave a Comment »

Kenapa Gempa 7,9 SR Tidak Memunculkan Tsunami Dahsyat?

Posted by kadarsah pada September 15, 2007

2007-09-15 09:40:00
Gagah Wijoseno – detikcom
Jakarta – Alarm peringatan tsunami berbunyi saat gempa berkekuatan 7,9 SR mengguncang pesisir barat Pulau Sumatera. Ancaman itu begitu nyata karena pusat gempa berada di laut dengan kedalaman hanya 10 km.

Warga Bengkulu dan Padang panik. Mereka pun berlarian menjauhi pantai mencari tempat yang lebih tinggi.

Namun setelah beberapa lama, peringatan tsunami dicabut. Gelombang pasang yang tercatat di pesisir Padang hanya setinggi 90 cm.

Pertanyaan pun timbul, kenapa gempa berkekuatan lebih kecil 6,5 SR dapat menimbulkan tsunami di Pantai Pangandaran, Jawa Barat, pada 17 Juli 2006. Sedangkan kali ini tidak?

Rasa syukur pun terucap. Tapi fenomena ini butuh penjelasan agar di kemudian hari peringatan tsunami mempunyai presisi yang lebih tinggi.

Peneliti Irwan Meilano yang sehari-hari beraktivitas di Pusat Penelitian Seimologi, Vulkanologi, dan Mitigasi Bencana Universitas Nagoya, Jepang, mencoba untuk menjelaskan fenomena ini. Irwan mengungkapkan ada 2 syarat yang luput, sehingga tsunami di pantai Padang dan Bengkulu tidak sedahsyat di Aceh atau Pangandaran.

Irwan menjelaskan gelombang tsunami terbentuk sebagai akibat pengkatan vertikal dari kerak bumi sebagai akibat dari penyesaran naik (thrust faulting) dari gempa. Pada gempa Bengkulu 2007, tsunami yang dihasilkan tidaklah setinggi gempa Pangandaran 2006, yang memiliki magnitud lebih kecil. Hal ini disebabkan karena bidang sumber dari gempa Bengkulu berjarak relatif jauh dari lokasi transisi lempeng (trench).

“Sehingga gerak penyesaran naik pada transisil lempeng tidaklah besar,” ujarnya dalam rilis yang diterima detikcom, Sabtu (15/9/2007).

Lebih lanjut, Irwan mengatakan sumber gempa (jarak 100 km dari transisi lempeng) kedalaman laut sangatlah dangkal, yaitu kurang dari 1500 m. Hal ini diperlihatkan dengan adanya barisan kepulauan di utara sumber gempa (Kepulauan Mentawai) dan Pulau Enggano di selatan.

“Pada laut yang dangkal, walaupun terdapat pengangkatan vertikal, tetapi karena volume air yang terangkat sedikit, maka tidak efektif dalam menghasilkan tsunami yang tinggi,” bebernya.

Dalam kaidah ilmu gempa bumi (seismologi), menurut Irwan, gempa tsunami (tsunami earthquake) sering disebut juga dengan gempa perlahan (slow earthquake). Hal ini disebabkan karena ciri khas dari gempa tsunami, yaitu proses robeknya bidang gempa sangatlah perlahan apabila dibandingkan dengan gempa pada umumnya.

Kecepatan robeknya bidang gempa untuk gempa Bengkulu 2007 yaitu 2.5-3 km/detik, dengan lamanya proses gempa yaitu 90 detik. Sedangkan gempa Pangandaran yaitu 0.5-1.5 km/detik. Gempa Nias tahun 2005 lebih cepat lagi yaitu 2.7-3.3 km/detik, sedangkan gempa Aceh yaitu 1.8-3.2 km/detik.

“Sehingga gempa di perairan Bengkulu tidak dapat dikategorikan sebagai slow earthquake,” terang Irwan.

Persayaratan gempa yang dapat menghasilkan tsunami adalah: 1. Mekanisme penyasaran naik (vertikal); 2. Memiliki magnitud lebih dari 7 SR; 3. Kecepatan robeknya gempa yang perlahan; dan 4. Berada dalam kedalaman yang dangkal (berlokasi dengan transisi lempeng.

“Pada gempa Bengkulu tanggal 12 september 2007 lalu, syarat ke 3 dan ke 4 tidak terpenuhi. Sehingag walaupun menghasilkan gelombang tsunami, ketinggian gelombang tersebut jauh lebih rendah dari gempa pangandaran 2006,” pungkas Irwan. (gah/gah)

(news from cache) – Reload from Original

http://jkt1.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/09/tgl/15/time/094007/idnews/830377/idkanal/10

Posted in Natural Hazard | Leave a Comment »

USGS Juga Catat Gempa Bengkulu 7,9 SR

Posted by kadarsah pada September 12, 2007

12/09/2007 19:04 WIB
Salomo Sihombing – detikcom
Jakarta – Gempa di sebesar 7,9 Skala Richter (SR) yang terjadi di Bengkulu, Rabu (12/9/2007) sore, juga tercatat oleh Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS). Kekuatan gempa terdeteksi sama.

USGS sempat mencatat kekuatan gempa yang terjadi pukul 18.10 WIB itu sebesar 8,0 SR. Namun setelah beberapa menit, bersarannya direvisi menjadi 7,9 SR sama dengan catatan Badan Meteorologi dan Geofisika.

Seperti dilansir situs resmi USGS, intensitas getaran gempa termasuk golongan V atau sedang. Kemungkinan krusakan yang bisa ditimbulkan pun dimasukkan pada kategori ringan. (lom/asy)
http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/09/tgl/12/time/190409/idnews/829215/idkanal/10

Posted in Natural Hazard | Leave a Comment »

Rekor Dunia Overclock 500GHz Terpecahkan

Posted by kadarsah pada September 9, 2007

 

Jumat, 07 September 2007 18.58 WIB

Rekor Dunia Overclock 500GHz Terpecahkan

Tim riset dari IBM dan Georgia Institute of Technology telah mendesain dan membangun sebuah prosesor komputer yang memecahkan rekor kecepatan dunia, yakni 500GHz atau lebih dari 100 kali laju chip komputer yang ada saat ini.

Apa rahasianya? Prosesor ini tidak terbuat dari silikon, melainkan dari bahan germanium yang memungkinkan chip mencapai kecepatan clock yang lebih tinggi namun dengan pemanfaatan daya yang lebih sedikit. Supaya frekuensi 500GHz bisa dicapai, tim riset IBM mesti mendinginkan prototipe prosesor ini hingga -268,5 derajat Celcius, menggunakan helium cair.

Suhu super rendah inilah – sedikit di atas suhu minimum teoritis yang biasa disebut absolute zero – yang membuat prosesor tersebut mampu menampilkan performa kalkulasi satu per triliun setiap detiknya, atau diterjemahkan menjadi 500GHz.

Kecepatan yang ekstrim tersebut jauh lebih digdaya jika dibandingkan dengan prosesor yang didesain secara konvensional di suhu ruang yang kalkulasinya hanya bisa dikebut sampai 350 miliar per detik.

http://kompas.com/portal/infotekno/view.cfm?p=2007.09.07185839

Posted in Umum | 1 Comment »

Bulanan, Tigabulanan dan Tahunan

Posted by kadarsah pada September 9, 2007

 Gambar dibawah merupakan perbandingan rata-rata curah hujan bulanan hasil simulasi WRF model (non-nested,multi-nested) dengan data observasi yang dikeluarkan oleh GPCP selama tahun 2006.

Berikut merupakan desain parameter fisik simulasi:

  •  microphysics : WSM3-class simple ice scheme
  • SW radiation :Dudhia scheme
  • LW radiation :RRTM scheme
  • Surface layer: Monin-Obukhov scheme
  • Land-Surface: Thermal diffusion scheme
  • Boundary layer :YSU scheme
  • Cumulus : KAin-Fritsch (new Eta) scheme

Data yang digunakan:

  • Terrestrial data :30s data topography USGS
  • Initial and boundary condition: NCEP Final Analysis (FNL from GFS) ds083.2:1 degree resolution, every 6 hours

 Perbandingan ini meliputi rata-rata bulanan yang ditunjukan gambar 1, rata-rata tiga bulanan ( seasonal) Gambar 2, dan tahunan Gambar 3.

non-multi-nested-gpcp.png

 Gambar 1. Perbandingan rata-rata curah hujan bulanan antara non-nested, multi-nested dan GPCP.

 

 

seasonal.png

Gambar 2. Perbandingan rata-rata curah hujan tiga bulanan antara non-nested, multi-nested dan GPCP.

 

annually.png

Gambar 3. Perbandingan rata-rata curah hujan tahun 2006 antara non-nested, multi-nested dan GPCP.

Posted in Meteorologi | Leave a Comment »

Diskusi Climate Change di Perut Airbus AA 330

Posted by kadarsah pada September 7, 2007

2007-09-07 20:31:00

Laporan dari Sydney

Sydney – Sebuah ruang di perut pesawat Airbus AA 330 yang membawa Presiden SBY dan rombongan ke Australia mendadak menjadi arena diskusi yang menarik. Topik yang dilemparkan dalam diskusi yang dipimpin Presiden SBY ini mengenal perubahan iklim (climate change).

Presiden SBY-lah yang melempar topik ini saat dirinya menemui rombongan. Dalam diskusi ini, hadir juga dua tokoh yang sangat berkompeten berbicara mengenai perubahan iklim ini, yaitu Menteri Negara Lingkungan Hidup (Menneg LH) Rachmat Witoelar dan mantan Menneg LH yang kini menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Emil Salim.

Diskusi yang berlangsung ‘sersan’, serius tapi santai ini, diikuti juga oleh Ny Ani Yudhoyono dan sejumlah menteri, antara lain Mensesneg Hatta Rajasa, Menko Perekonomian Boediono, Menneg Pora Adhyaksa Dault, dan sejumlah pejabat lainnya, termasuk beberapa pengusaha yang masuk dalam rombongan.

Diskusi dadakan ini digelar tak beberapa lama setelah pesawat tinggal landas dari Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Jumat (7/9/2007). Diskusi yang juga membahas masalah lainnya ini berlangsung sekitar 1 jam, dari pukul 11.00 hingga 12.00 WIB.

Presiden yang mengenakan sweater warna cokelat dengan baju dalam warna putih dan berdasi merah itu menyampaikan bahwa Indonesia serius untuk membahas perubahan iklim dan menangani dampak dari pemanasan global (global warming). Saat ini, SBY mengaku senang karena sejumlah negara lain yang tadinya ‘bermalas-malasan’ membahas masalah ini, saat ini sudah mulai ikut nimbrung.

Seperti Cina, yang dulu menomorsatukan pembangunan dan menomorduakan lingkungan, sekarang tidak lagi. Amerika juga demikian halnya. “Karena itu, saya akan datang akhir bulan ini ke Amerika sebagai tuan rumah konferensi internasional Desember nanti. Indonesia jangan terus dijadikan objek,” kata SBY.

Rachmat Witoelar dan Emil Salim juga ikut nimbrung mengenai hal ini. Emil mengkhawatirkan dampak pemanasan global yang akan terjadi di dunia, bila tidak ditangani. Apalagi saat ini, suhu air laut sudah naik 0,75 derajat Celcius. Bila sampai suhu air laut naik 2 derajat Celcius, maka akan terjadi kerusakan dahsyat.

Sementara Rachmat Witoelar menyinggung Protokol Kyoto mengenai upaya pengurangan emisi yang akan berakhir tahun 2012.

Perubahan iklim ini memang dibahas di dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Pasific Economic Cooperation (APEC) 2007 yang digelar di Sydney hingga 9 September mendatang. Kehadiran Presiden SBY dan rombongan ke Sydney, kota tertua dan terbesar di Australia, yang berada di negara bagian New South Wales ini, juga untuk menghadiri acara tersebut. Indonesia dari awal ikut mengusung tema perubahan iklim ini. (asy/asy)

http://jkt1.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/09/tgl/07/time/203159/idnews/827197/idkanal/10

Posted in Global Climate Change | 2 Comments »