Kadarsah

Meteorologi dan Sains Atmosfer

Presipitasi Indonesia 2006

Posted by kadarsah pada Agustus 1, 2007

Berikut merupakan hasil simulasi presipitasi Indonesia 2006 menggunakan WRF di supercomputer TSUBAME, Tokyo Institute of Technology.

Dari gambar tersebut terlihat bulan-bulan mana saja yang mengalami presipitasi maksimum serta daerah-daerah mana saja yang mengalami kekeringan.

indonesia-12.jpg

9 Tanggapan to “Presipitasi Indonesia 2006”

  1. Satria said

    Dear Kadarsah,
    Sebenarnya apa sih fungsinya atau manfaatnya kita mengetahu simulasi curah hujan tersebut bagi kenyataan hidup sehari-hari kita?

    Trims

  2. kadarsah said

    Dear Satria,

    Fungsi atau manfaat:
    1.Dengan menggunakan simulasi kita bisa mengetahui parameter meteorologi apa saja yang berpengaruh terhadap suatu kondisi iklim/meteorologi

    2.Kita bisa menentukan/mendekati kemungkinan-kemungkinan yang terjadi jika parameter-parameter tersebut berubah secara ekstrim.

    3.Simulasi merupakan langkah yang relatif sederhana dibanding melakukan eksperimen secara nyata di alam.

    Salam,
    Kadarsah

  3. Abdullah said

    Mas itu boundary condition-nya koq error, nestingnya kurang pas kali, dibilang open boundary, tapi error di boundary barat dan timurnya…, garis stripe itu apa?:-o, jangan2 setting modelnya error jarot ya?

  4. Lala said

    Kalau pengalaman aku sih,itu terjadi karena waktu simulasi yang sangat panjang yang mungkin lebih dari beberapa hari. Kalau persoalan tentang nesting yang kurang pas hasil simulasi tidak akan muncul

  5. kadarsah said

    Simulasi tersebut selama satu bulan,sehingga muncul kondisi diatas garis stripe seperti diatas.
    Tidak ada kesalahan nesting.

  6. Abdullah said

    Saya komen lagi ya.., ndak pa2 khan kadarsah?.
    Sebenarnya WRF juga nesting ke global data, baik NCEP atau ECMWF. Memang di dalam model, tidak ada yg dinamakan “completely open boundary”, dan akan menggunakan pendekatan melalui metode “free slip” atau “no slip” untuk open boundary pada Domain 1. Di domain 2 dan 3, akan menggunakan hasil penghitungan dari Domain 1, untuk LBC (lateral boundary condition)-nya. Permasalahannya, model yg dijalankan “hanya” untuk waktu beberapa bulan model running, sudah terlihat adanya “error”, di boundary, dan munculnya “stripe line”. Kalau statement lala dan kadarsah benar, tidak ada yg salah dalam nesting, dan interpolasi data dari global database (NCEP atau ECMWF), dan pemilihan parameter dalam menjalankan model, berarti WRF “not reliable”. Apa iya, model sesolid WRF atau MM5 deh, punya bug seperti itu?, yg lebih umum, semakin lama model running, modelnya menjadi lebih stabil, justru diawal-awal running, ada error di boundary-nya.

    Maaf saya bukan modeler, hanya bisa menjalankan beberapa model di PC biasa.

  7. kadarsah said

    Terimakasih atas tanggapan Sdr.Abdullah
    Sebagai pelengkap info, data yang digunakan adalah NCEP Final Analysis ( data global dengan resolusi 1 derajat).

    Diskusi selanjutnya:
    1.Apakah betul MM5 dan WRF sudah solid?
    2.Apakah betul/umumnya semakin lama model running , model akan menjadi stabil dan muncul error di boundary layer?

    Trims

  8. Abdullah said

    Diskusi kita lanjutkan ya…

    langsung saja “to the point” menjawab pertanyaan Kadarsah.

    1. Secara umum, bukan hanya MM5 atau WRF, semua atmospheric general circulation model, sudah solid, mungkin ada beberapa error di library MPI-nya (di WRF 2.2 sudah ada updatenya khan?), tapi tidak terlalu signifikan sehingga menimbulkan terbentuknya stripe line errors spt hasil diatas. Hasil simulasi yg ditunjukkan sama kadarsah diatas, menunjukkan bahwa WRF model, tidak relevan untuk simulasi seasonal dan interannual variation. Biasanya error-nya hanya terbatas pada GLE (geographical location errors) saja, bukan di distribusi data spasialnya. Ada contoh dari orang NCAR sendiri, hasil perhitungan dia selama 6 tahun, bisa dilihat di http://www.mmm.ucar.edu/wrf/users/workshops/WS2006/abstracts/Session07/7_1_Done.pdf
    Jadi kesimpulannya, parameternya yg dirubah2 sedikit untuk longterm weather simulation.

    2. Terbalik tuh, semakin lama model running, akan semakin stabil, boundary layer error tidak akan muncul melebar, hanya akan muncul di grid paling ujung (1 atau 2 grid), karena adanya forcing lateral boundary layer.

    Segini dulu ya…, kan “mottainai”, ada grid computer tsubame, kalau cuma untuk simulasi short term forecast, tau hind cast sebulan…

    Ganbattene…

  9. kadarsah said

    Terimakasih atas kiriman artikelnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: