Kadarsah

Meteorologi dan Sains Atmosfer

Archive for Agustus, 2007

Simulasi Asap Kebakaran Hutan Pada September 1996-1998

Posted by kadarsah pada Agustus 31, 2007

Berikut merupakan hasil simulasi asap kebakaran hutan yang di bagi masing-masing:

  • Simulasi asap kebakaran hutan selama September 1996
  • Simulasi asap kebakaran hutan selama September 1997
  • Simulasi asap kebakaran hutan selama September 1998

Alasan pemilihan ketiga tahun adalah untuk mewakili bulan September pada kondisi normal (1996), El Nino ( 1997) dan La Nina (1998) yang mengalamai penyebaran asap yang maksimum.

Tujuan simulasi ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pengaruh parameter meteorologi bagai penyebaran asap kebakaran hutan khususnya pada bulan September. Acuan standar adalah tahun 1997, ketiga simulasi dikondisikan sama dengan perbedaan terletak hanya pada kondisi meteorologis.

sep-96.png

Gambar 1.Penyebaran asap kebakaran hutan bulan September 1996.

 

Pada Gambar.1 terlihat konsentrasi asap dan sekaligus sumber asap berasal dari konsentrasi lahat gambut di Sumatera, Kalimantan dan Irian Jaya. Kecepatan dan arah angin sangat menentukan penyebaran asap kebakaran hutan. Hal yang sama terlihat pada Gambar 2 dan 3 yang berbeda hanya luas sebaran asap. Luas sebaran asap maksimum terjadi pada September 1997, diikuti 1996 dan 1998. Konsentrasi yang terukur pada tiap lokasi dalam satuan mikrogram per meter kubik.

 

sep-97.png

 

Gambar 2.Penyebaran asap kebakaran hutan bulan September 1997

 

 

sep-98.png

Gambar 3.Penyebaran asap kebakaran hutan bulan September 1998

 

 

versep-96.png

 

Gambar 4. Konsentrasi asap kebakaran hutan menurut ketinggian berdasarkan paramter PM10 (partikulat matter < 10 mkrometer) pada September 1996

 

versep-97.png

Gambar 5. Konsentrasi asap kebakaran hutan menurut ketinggian berdasarkan paramter PM10 (partikulat matter < 10 mkrometer) pada September 1997

Gambar 4 dan 5 menunjukan konsentrasi vertikal di suatu titik sumber asap kebakaran hutan ( Kalimantan) pada bulan September 1996 dan 1997. Dari gambar terlihat bahwa terjadi pengurangan konsentrasi menurut ketinggian .

Iklan

Posted in Meteorologi | 4 Comments »

Simulasi Asap Kebakaran Hutan 1996-1998

Posted by kadarsah pada Agustus 31, 2007

Berikut merupakan hasil simulasi asap kebakaran hutan yang di bagi masing-masing:

  • Simulasi asap kebakaran hutan selama Juli-Desember 1996
  • Simulasi asap kebakaran hutan selama Juli-Desember 1997
  • Simulasi asap kebakaran hutan selama Juli-Desember 1998

Alasan pemilihan ketiga tahun adalah untuk mewakili kondisi normal (1996), El Nino ( 1997) dan La Nina (1998).

Tujuan simulasi ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pengaruh parameter meteorologi bagai penyebaran asap kebakaran hutan. Acuan standar adalah tahun 1997, ketiga simulasi dikondisikan sama dengan perbedaan terletak hanya pada kondisi meteorologis.

1000m.png

Gambar.1 Rata-rata bulanan penyebaran asap kebakaran hutan pada level 1000 mb

850m.png

Gambar.2 Rata-rata bulanan penyebaran asap kebakaran hutan pada level 850 mb

750m.png

Gambar.3 Rata-rata bulanan penyebaran asap kebakaran hutan pada level 750 mb

500m.png

Gambar.4 Rata-rata bulanan penyebaran asap kebakaran hutan pada level 500 mb

Dari keempat gambar terlihat bahwa semakin tinggi tingkat penyebaran asap semakin lemah, selama ketiga simulasi, penyebaran yang paling kuat terjadi saat El Nino dan maksimum saat bulan September.

Posted in Meteorologi, Model Meteorologi, Sains atmosfer | 17 Comments »

Meniup Suhu Bumi

Posted by kadarsah pada Agustus 30, 2007


Emisi Gas Buang di Cina; Menyaingi Amerika Serikat (AP Photo/Eugene Hoshiko)Mengajak negara-negara berseteru duduk bersama seperti merukunkan macan dan gajah. Tapi itu bukan hal mustahil bagi Adiyatwidi Adiwoso A. Kuasa usaha sementara Perwakilan Tetap Republik Indonesia untuk PBB ini berhasil mengajak duduk bersama para wakil dari Amerika Serikat, Cina, dan India guna membahas soal lingkungan.

Bersama 50-an wakil negara dan organisasi dunia, ketiga negara yang saling ngotot soal panas bumi itu bersedia hadir untuk urun rembuk dalam seminar sehari di Doral Arrowwood Resort, New York, akhir bulan lalu. Selama hampir 10 jam mereka bersedia duduk membahas sejumlah masalah menyongsong konferensi PBB soal perubahan iklim dunia yang bakal digelar di Bali, Desember nanti.

Dari judulnya, “The Role of the United Nations in Climate Change: Exploring the Way Forward from Now to Bali and Beyond”, seminar di kawasan resor New York itu digelar untuk menyatukan visi ke-50 negara lewat pertemuan informal ini. “Brainstorming ini mengajak delegasi agar bicara secara lebih terbuka mengeluarkan unek-uneknya,” tutur Adiyatwidi di sela-sela seminar.

Sikap terbuka itulah yang tercermin dari para delegasi, walau dengan gaya diplomasi. Bukan lewat adu jotos atau menggebrak meja. Seperti diutarakan Kevin M. Conrad, Direktur Coalition for Rainforest Nations, “Negara-negara industri selalu menuntut negara-negara berkembang menghentikan penebangan pohon dan penggundulan hutan.” Namun, katanya, mereka tidak memberikan alternatif.

Bank Dunia, UNDP (Program Pembangunan PBB), lanjutnya, tidak memberi jalan keluar bagi negara berkembang untuk membayar utang mereka bila penebangan pohon –penghasil utama devisa– dihentikan. “IMF hanya bisa menaikkan suku bunga pinjamannya,” kata Conrad yang asal Selandia Baru. Sejumlah wakil organisasi keuangan dunia yang duduk di lapis belakang merah wajahnya.

Suara senada diutarakan Ajai Malhotra, Duta Besar India untuk PBB. “Bagaimana caranya mengubah tradisi rakyat jelata yang menggunakan kayu atau batu bara untuk bahan bakar di dapur,” ujarnya. Seperti diketahui, India merupakan salah satu negara yang banyak menyumbang gas buang terbesar di dunia. Selama 1990 hingga 2004, konsumsi energi India meningkat 37% dan emisi gas buangnya mencapai 1,12 ton per tahun per kapita.

Sementara itu, Cina yang berpenduduk 1,3 milyar jiwa menyumbang gas buang sebanyak 4,03 ton. Negara komunis yang kini menggeliat dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 10% setiap tahun itu diramalkan akan menyaingi Amerika Serikat sebelum tahun 2010 dengan total gas buang sebanyak 21,75 ton. Karena itulah, Cina berupaya menurunkannya lewat pengolahan teknologi energi batu bara agar lebih akrab lingkungan. “Bagaimana caranya? Beri kami bantuan teknis untuk mengatasi hal itu,” kata Bai Yongjie, konsul RRC di PBB.

Yang tak luput dari kritik adalah Amerika Serikat, yang diwakili Michael G. Snowden, salah satu staf dan penasihat perwakilan Amerika di PBB. Dan yang melontarkannya tak lain Dr. Alan Robock, profesor dari Universitas Rutger. “Saya sebagai warga Amerika sungguh malu melihat negara kami, yang punya dana, kecanggihan teknologi tinggi, dan sumber daya manusia yang cukup cerdas dan banyak, ternyata tak mampu mengurangi sumbangan gas buang dunia sebesar 21,75 ton,” ujar Robock, Kepala Departemen Ilmu Lingkungan Universitas Rutger, New Brunswick, New Jersey, Amerika Serikat.

Gara-gara ketiga negara besar –Amerika, India dan Cina– itulah suhu bumi meningkat. Tahun 2005 merupakan tahun paling panas selama 125 tahun. Suhu terpanas tercatat setinggi 58 derajat celcsus di Al-Asisiyah, Libya. Menurut prediksi para ilmuwan, suhu tersebut akan meningkat 0,2 derajat setiap dekade dalam jangka waktu 20 tahun mendatang. Seandainya jumlah gas buang diupayakan konstan pada tahun 2000, pemanasan bisa dipastikan masih meningkat 0,1 derajat setiap dekade.

Jangan heran bila gunung-gunung es di kedua kutub dunia meleleh. Stasiun televisi ABC, Kamis pekan lalu, melaporkan bahwa burung penguin banyak yang mati akibat kelaparan karena krisis bahan makanan, seperti ikan dan plankton. Cairan es pun menyebabkan permukaan air laut meningkat dan mengikis pantai-pantai sejumlah negara, seperti Bangladesh, Maldives, Barbados, atau Indonesia. Bahkan banyak pulau yang hilang tertelan air laut. Indonesia, misalnya, kehilangan 2.000 pulau dari total pulau yang jumlahnya sekitar 17.000.

Demikian juga Bangladesh. Sebagai negara yang tergolong “rendah” dan paling rentan akibat pemanasan dunia, air laut telah merambah Pantai Bengal dan mendorong air asin itu semakin menjorok ke daratan. Akibatnya, banyak petani yang mengubah lahan pertaniannya menjadi tambak udang atau ikan laut. “Dulu kami kebanjiran 20 tahun sekali, tapi kini sudah empati kali mengalami banjir bandang dalam 20 tahun,” tutur Salimul Huq, Direktur Program Perubahan Iklim Institut International untuk Lingkungan Bangladesh, kepada majalah Time.

Kekhawatiran semakin besar setelah menyadari bahwa dana yang disalurkan organisasi keuangan dunia untuk menekan panas bumi tak seimbang. Kebutuhan pembangunan pembangkit listrik atau fasilitas umum lainnya yang akrab lingkungan baru terpenuhi separuhnya. Pembangunan pembangkit listrik di negara-negara berkembang, yang setahun membutuhkan dana US$ 165 milyar, baru mendapatkan dana US$ 80 milyar. Para pemodal besar baru menanamkan investasinya ke industri akrab lingkungan belakangan ini. Demikian juga kewajiban penggantian perubahan iklim bagi negara-negara industri.

Kecemasan itulah yang mendorong negara-negara Uni Eropa dan Asia untuk mendesak PBB agar memasukkannya sebagai agenda politik dunia. Proses pun bergulir lewat lobi makan siang, Mei lalu, dimotori oleh Indonesia dan Inggris. Forum ini berkembang dengan melibatkan Singapura, Indonesia, dan negara-negara kepulauan lainnya. “Indonesia dipilih sebagai ketua karena posisinya yang cukup netral. Sebagai anggota OPEC, punya hutan luas, negara kepulauan, dan anggota G-77,” kata Adiyatwidi Adiwoso, yang akrab dipanggil Wike.

Sejumlah forum bergulir. Selain forum informal di New York, sebelumnya ada forum G-8 di Heiligendam, Jerman, dan forum lainnya, yang kelak bakal dimatangkan dalam Conference of Parties of the United Nations Framework on Climate Change and the 3rd Meeting of Parties of Kyoto Protocol di Bali, 3-14 Desember 2007. Intinya, menyusun langkah strategis masalah lingkungan pasca-Protokol Kyoto yang berakhir pada 2012. Harapannya, antara lain, Amerika Serikat dan negara berkembang yang belum bersedia meratifikasi Protokol Kyoto mau terlibat di masa mendatang.

Meski masih jauh, indikasi ke arah itu mulai tampak di New York, akhir Juni lalu. Buktinya, hampir seluruh delegasi bersedia menghadiri urun rembuk informal yang diselenggarakan di kawasan wisata Doral Arrowwood, Rye Brook, yang nyaman dan apik. Kamarnya luas, keluarga mereka bisa berenang, sementara delegasi mengerutkan dahi di ruang rapat. Malamnya, mereka menikmati makan malam lobster yang lezat dan minuman anggur, sambil menyaksikan tarian tango suguhan sebuah akademi tari New York. “Mereka terus mendukung agar Indonesia tetap menjadi pemimpin,” ujar Wike.

Didi Prambadi (New York)
[Lingkungan, Gatra Nomor 36 Beredar Kamis, 19 Juli 2007]

Posted in Global Climate Change | Leave a Comment »

RI Bisa Jual 25 Juta Ton Carbon Credit Mulai 2008

Posted by kadarsah pada Agustus 30, 2007

Rabu, 22/08/2007 14:39 WIB
Alih Istik Wahyuni – detikfinance

Jakarta – Indonesia diharapkan siap menjual setidaknya 25 juta ton carbon credit mulai tahun depan. Volume carbon credit itu setara dengan US$ 250-300 juta.

Carbon credit merupakan proyek pengurangan emisi dengan CDM (clean development mechanism) yang kemudian disertifikasi PBB. Setelah disertifikasi, kredit itu bisa dibeli oleh perusahaan terutama di negara maju yang menghasilkan banyak emisi.

Dengan membeli kredit tersebut, maka perusahaan pembeli dianggap sudah mengkompensasikan emisi yang dihasilkan dengan membeli proyek CDM di negara lain.

Jadi misalkan perusahaan penghasil emisi di Amerika bisa membeli carbon credit dari proyek pengembangan energi terbarukan seperti PLTP di Indonesia, maka itu sudah dianggap kompensasi.

Carbon Credit merupakan langkah untuk memenuhi target protokol Kyoto agar emisi dunia bisa berkurang 5% di tahun 2012 dari posisi 1990.

Country Director Indonesia Eco Securities Agus Sari menjelaskan, volume itu adalah target dari institusinya. Jika ada institusi lain yang mengembangkan, maka jumlahnya bisa bertambah. Beberapa proyek CDM yang ditangani Eco antara lain PLTP Kamojang milik PLN.

“Terakhir kita tandatangan dengan PLN untuk Kamojang. Kapasitasnya sekitar 50 MW, jadi carbon creditnya sekitar 200 ribu ton per tahun,” katanya disela-sela talkshow mengenai carbon credit di Hotel Four Season, Jakarta, Rabu (22/8/2007).

Selama ini belum ada satu pun proyek di Indonesia yang berhasil di jual. Bukan tidak laku, tapi karena belum ada proyek yang jalan.

“Proyeknya baru jalan diperkirakan pertengahan tahun depan,” lanjutnya.

Pengembangan CDM di Indonesia selama ini terbilang lambat dibanding negara yang lain. Padahal Indonesia memiliki potensi 10% dari perkiraan suplai carbon credit dunia. Ini menjadikan Indonesia berada di posisi terbesar kelima.

“Hambatan pengembangan CDM di Indonesia lebih dikarenakan peraturan pemerintah. Tapi saya tak bisa katakan bagaimana persisnya,” kata CEO Eco Securities Bruce Usher.

Hal ini juga diakui Director Invesment and Bank Credit Suisse Indonesia Ray Gunara.

“Indonesia sangat potensial sebagai suplier. Sedangkan yang beli nanti biasanya dari Eropa,” katanya.

Credit Suisse menyediakan dana US$ 1 miliar untuk investasi CDM di seluruh dunia. Pada 2006 nilai perdagangan carbon credit dipasaran mencapai 30-35 miliar euro.

Posted in Global Climate Change | 15 Comments »

Takut Global Warming, 1 Juta Ha Hutan Dihargai US$ 500 Juta

Posted by kadarsah pada Agustus 30, 2007

2007-07-13 13:55:00

Gede Suardana – detikcom

Denpasar – Pemanasan global kian mengkhawatirkan negara-negara maju. Untuk menjaga kelangsungann hidupnya, negara maju akan membayar sebesar US$ 100 – 500 juta per 1 juta hektar hutan setiap tahunnya bagi negara yang melestarikan hutannya.

Demikian disampaikan Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar usai membuka Semiloka Global Warming di hotel Sanur Paradise, Sanur, Denpasar, Jumat (13/07/2007).

Negara-negara maju di Eropa, Amerika, dan Australia akan melimpahkan uang sebesar US$ 20-30 miliar kepada 10 negara berkembang seperti Indonesia, Kostarika, Kongo, dan Brasil. “Hutan yang dibayar adalah hutan yang sudah ada dan terpeliharan dengan baik,” katanya.

Rencana pelestarian hutan di bumi dengan cara seperti itu akan ditetapkan dalam sebuah konferensi tentang pelestarian hutan yang akan diikuti oleh 189 negara di Bali pada akhir tahun 2007.

“Hutan kita dibayar untuk membantu negara-negara maju supaya mereka tidak mati akibat pemanasan global. Kita yang akan memberikan kehidupan kepada negara-negara maju,” kata Witolear yang pada pagi harinya melakukan penanaman pohon di Kedongan, Jimbaran, Bali.

Indonesia memiliki potensi hutan yang besar, yaitu 45 juta hektar, yang tersebar di Bengkulu, Kalimantan, dan Aceh. Saat ini, pemerintah tengah gencar melakukan penanaman pohon di lahan seluas 5 juta hektar.

Indonesia memiliki potensi akan menerima uang pelestarian hutan sebesar US$ 6 miliar per tahun. Jenis pohon yang dihargai lebih mahal adalah pohon yang hidup di hutan lindung atau hutan primer. Uang itu akan diberikan kepada kepala daerah untuk melestarikan hutan di Indonesia.

Untuk itu, Witoelar mengingatkan agar masyarakat Indonesia tidak melakukan illegal logging. “Jangan sembarangan memotong hutan atau menghalangi pelestarian lingkungan. Kalau kita tidak bisa menjaga hutan, maka kita akan didiskualifikasi,” ujarnya.
(gds/nrl)http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/07/tgl/13/time/135504/idnews/804556/idkanal/10

Posted in Global Climate Change | Leave a Comment »

surat pembuka

Posted by kadarsah pada Agustus 30, 2007

Dear Madam, Dear Sir,

I am kadarsah, from Indonesia. I am interested in meteorological modeling.

I will be very grateful if you could inform me the application deadline and eligibility. I wonder if you could also send me the application form. If it is not possible, I will be thankful if you could inform me where I can find it.

I am looking forward to hearing from you. Thank you very much.

Sincerely yours,

Kadarsah

Posted in Bahasa Inggris | 2 Comments »

Piagam MASSA-J

Posted by kadarsah pada Agustus 30, 2007

Berikut merupakan piagam MASSA-J yang diserahkan pada Mensesneg Hatta Rajasa, pada acara Temu Masyakat Indonesi dengan Mensesneg Hatta Rajasa di KBRI Tokyo, 28 Agustus 2007. Piagam ini berupa pernyataan sikap MASSA-J atas berbagai persoalan di tanah air.

piagam-massa-j.png

Info lebih lengkap dapat ditemukan di sini: http://massajepang.multiply.com/

Posted in Umum | 4 Comments »

Siklon Tropis dan Tsunami di Indonesia

Posted by kadarsah pada Agustus 30, 2007

Siklon tropis digolongan dalam

 

  • depresi tropis,
  • badai tropis,
  • siklon tropis ( bermacam-macam: Bagyo di Filipina, Chubasco di Meksiko, dan Taino di Haiti.)

Siklon berasal dari kata Yunani kyklos yang berarti lingkaran atau roda, secara meteorologi siklon tropis merupakan suatu sistem tekanan udara rendah yang terbentuk secara umum di daerah tropis yang kemunculannya diawali oleh tahapan-tahapan tertentu, sifat sistem bertekanan rendah yang merupakan bagian dari sirkulasi atmosfer. yang memindahkan panas dari daerah khatulistiwa menuju garis lintang yang lebih tinggi. Gambar dibawah merupakan contoh siklon yang disebut siklon Katrina yang muncul tanggal 26 Maret 2004 (sumber: wikipedia)

 

 

 

 

cyclone_catarina_from_the_iss_on_march_26_2004.jpg

 

 

Di Indonesia, siklon tropis selalau muncul dibagian selatan setiap tahun antara bulan Januari hingga Maret. Penyebabnya adalah tinggi suhu muka laut di selatan Indonesia tepatnya di timur laut Australia dan pergerakan ITCZ (Inter Tropical Convergence Zone) menuju utara. Pada bulan Desember, ITCZ berada di daerah itu sehingga tekanan menjadi rendah, kemudian pada bulan Januari, tekanan rendah itu tak disertai keberadaan ITCZ sehingga menjadi labil. Pemunculan siklon diawali pusat tekanan rendah di barat laut Australia dan bergerak menuju barat daya. Efek yang biasa diterima pantai selatan Indonesia biasanya pengaruh dari ekor siklon, bukan akibat pusat badai tropis yang berupa angin kencang, curah hujan tinggi dan tingginya gelombang muka laut. Indonesia bukan merupakan jalur siklon. Tetapi,Indonesia berada di ekuator yang nilai gaya putar buminya (koriolis) rendah dan tak memungkinkan terjadi perbedaan tekanan ekstrem. Ini mempersulit terjadinya udara berpusar. Daerah lain yang tak terpengaruh tapi kena dampak siklon adalah -10 lintang utara dan lintang selatan. Keuntungan dengan adanya siklon tropis di Indonesia terjadi di bidang pertanian , terutama di bagian selatan Jawa hingga Pulau Timor. sebab saat itu terjadi puncak curah hujan yang bisa mengairi pertanian.Siklon itu ada fasenya sekitar 10 hari sampai dua hingga tiga mingguan.

 

Anomali kemunculan siklon tropis di wilayah Indonesia terjadi tanggal 1-2 Desember 2004 yang bertepatan dengan kecelakaan pesaawat Lion Air di Solo. Badai tropis itu langsung bergerak ke barat daya. Penyebab munculnya siklon tersebut adalah adanya siklon utara di wilayah Filipina yang ekornya melintas ekuator. Anomali lintas ekuator ini baru pertama kali terjadi. Kemungkinan penyebabnya akibat pola perubahan iklim global. Dengan perubahan iklim global dimungkinkan adanya global warming yang berakibat tertahannya energi radiasi matahari di atmosfir bumi. Energi tersebut menjadi energi kinetik atau gerak yang memungkinkan adanya gejala cross equatorial (lintas ekuator) tersebut.

 

Badai tropis ini akan mempengaruhi curah hujan di kepulauan Indonesia pada umumnya. Sedangkan gelombang besar akibat angin yang bertiup kencang, dapat terjadi di pantai-pantai yang berdekatan dengan pusat badai. Fenomena alam ini terjadi sepanjang tahun, pada lokasi yang berbeda-beda, tergantung pada posisi matahari/musim. Tidak ada keterkaitan badai tropis dan tsunami, sebab gelombang badai dibangkitkan oleh kondisi cuaca ekstrim yang umumnya menyertai pergerakan oleh suatu siklon. Sedangkan tsunami sendiri dibangkitkan oleh gempa, tanah longsor ataupun letusan gunung api di bawah laut. Gelombang tsunami ini merupakan gelombang panjang yang energi dan kecepatannya sangat besar.

 

Badai tropis yang muncul pada kawasan perairan bertekanan rendah ini akan semakin melemah dan menghilang saat mendekati khatulistiwa. Karena faktor, inilah sebagian besar wilayah Indonesia relatif aman dari ancaman badai tropis.

 

Indonesia hanya terkena imbas dari ekor badai tropis berupa angin kencang, hujan deras, dan tingginya gelombang laut. Secara statistik, kenaikan gelombang pantai yang paling tinggi justru terjadi pada Juni, hal tersebut disebabkan di Australia terjadi musim dingin. Gelombang akibat badai tropis itu berbeda dengan yang disebabkan oleh tsunami. Gelombang akibat badai tropis dibangkitkan kondisi cuaca ekstrem yang diikuti pergerakan udara dalam siklon sedangkan gelombang akibat tsunami, dibangkitkan oleh gempa sehingga akibatnya gelombang pun sangat besar yang panjang dengan daya jangkau yang luas. Gelombang tsunami jauh lebih besar hantaman atau terjangannya dibanding gelombang akibat badai tropis.

 

 

 

 

Posted in Global Climate Change, Meteorologi, Natural Hazard | 11 Comments »

ITCZ

Posted by kadarsah pada Agustus 30, 2007

Intertropical Convergence Zone atau disingkat ITCZ memiliki beberapa nama lain:

  • Intertropical Front
  • Monsoon through
  • Doldrums
  • Equatorial Convergence Zone
  • Daerah pumpunan awan aktif
  • Zona Potensi Pertumbuhan Awan
  • Daerah Konvergensi Lintas Tropis

Terlepas dari berbagai istilah tersebut, ITCZ merupakan daerah yang bertekanan rendah dengan potensi pertumbuhan awan hujan aktif yang tinggi sehingga kemungkinan untuk terjadi hujan sangat tinggi pula. ITCZ terbentuk disebabkan oleh kenaikan uair air yang hangat yang berasal dari sekitar equator.
Udara ini bergerak melalu sel Hadley ( bagian sistem dari skala makros atmosfer dalam distribusi panas dan uap air. Proses ini dilakukan melalui konveksi, dan daerah yang berada dalam ITCZ menerima 200 hari presipitasi dalam satu tahun. Untuk daerah Indonesia dapat di lihat dari gambar berikut ( wikipedia):

itcz_january-july.png

Keterangan :

Garis biru: garis ITCZ yang terjadi selama bulan Januari

Garis merah: garis ITCZ yang terjadi selama bulan Juli

Dari gambar terlihat bahwa pada bulan Januari Indonesia berada dibawah garis biru/ITCZ, hal ini mengindikasikan bahwa pada bulan tersebut Indonesia mengalami curah hujan yang tinggi ( musim hujan).

Sedang saat bulan Juli, Indonesia tidak berada dibawah garis ITCZ sehingga pada bulan tersebut Indonesia mengalami curah hujan yang rendah ( musim kemarau).

Posted in Meteorologi | 14 Comments »

Kinerja Supercomputer TSUBAME Pada WRF

Posted by kadarsah pada Agustus 30, 2007

Tsubame merupakan salah satu superkomputer dengan kinerja sangat tinggi didunia dan masuk top500. Superkomputer ini berada di Tokyo Institute of Technology yang digunakan untuk berbagai riset, dari mulai pemodelan meteorologi, simulasi nuklir, mesin dlln.

tsubame-pig

Gambar 1.Ruangan TSUBAME di Tokyo Istitute of Technology

Data singkat tentang TSUBAME adalah seperti yang di tunjukan tabel dibawah:

OS

SUSE Linux Enterprise Server 9

System Model

Sun Fire x4600 Cluster

CPU

AMD Dual-Core Opteron

639 nodes

2.4GHz/CPU

16 nodes

2.6GHz/CPU

Memory

21.4TB

Stretch

1PB

Compiler

PGI Cluster Develogmen Kit

Kinerja maksimum

85 TFLOPS

Kinerja rata-rata

47.38 TFLOPS

Berikut uji kinerja TSUBAME yang dilakukan pada WRF ( The Weather Research and Forecasting). Dengan simulasi curah hujan Indonesia selama satu bulan ( Januari 2006).

Dengan domain:

domain2.png

Gambar 2.Domain model yang dibantu oleh software dari WRF

dan data dari NCEP Final Analysis:

ncep.png

Berikut tabel waktu yang diperlukan pada saat simulasi, dengan menggunakan berbagai jumlah CPU ( contoh 1 CPU=720 menit, 4 CPU= 340 menit, 128 CPU= 29 menit).Sedangkan idelisasi merupakan tingkat waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu simulasi secara ideal.

Nilai R di dapat hasil waktu yang diperlukan 1 CPU untuk menyelesaikan suatu simulasi dibagi dengan jumlah CPU yang digunakan. Contoh, waktu yang digunakan 1 CPU selama 720 menit, maka nilai R saat digunakan satu 2 CPU (720/490)=1.47 menit.

waktu-tsubame.png

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari grafik berikut:

cpu.png

Dari grafik tersebut terlihat bahwa penambahan jumlah CPU tidak secara signifikan meningkatkan kinerja dalam menyelesaikan suatu simulasi ( memerlukan waktu yang lebih sedikit). Penambahan yang signifikan terjadi sampai dengan jumlah CPU mencapai 32-64 buah. Jadi dengan mempertimbangkan hal ini maka simulasi sebaiknya menggunakan 32-64 buah CPU sehingga sisa CPU lain dapat digunakan untuk keperluan lainnya.

FLOPS

Pengertian FLOPS (http://id.wikipedia.org/wiki/TFLOPS):

FLOPS adalah singkatan dari istilah dalam bahasa Inggris Floating point Operations Per Second yang merujuk pada satuan untuk jumlah perhitungan yang dapat dilakukan oleh sebuah perangkat komputasi (dalam hal ini adalah komputer) terhadap bilangan pecahan (floating point) tiap satu satuan waktu. FLOPS merupakan satuan pengukuran kecepatan kinerja suatu mikroprosesor biasanya dalam aplikasi ilmiah (scientific application), seperti untuk menghitung/mensimulasikan data pergerakan Bumi secara waktu nyata. Sebagai contoh, superkomputer Cray 1 mempunyai kemampuan untuk melakukan kalkulasi sebanyak 80 juta kalkulasi terhadap bilangan pecahan dalam 1 detik, dan dapat dinyatakan dalam satuan 80 MFLOPS/MegaFLOPS.

10n Satuan Simbol Ekuivalen dengan angka Keterangan
24 1024 yottaflops YFLOPS 1 000 000 000 000 000 000 000 000
21 1021 zetaflops ZFLOPS 1 000 000 000 000 000 000 000 890 ZFLOPS itu adalah total hasil kalkulasi proyek komputasi terdistribusi seti@home sejak diluncurkan dari 17 Mei 1999 hingga Juli 2001.
18 1018 exaflops EFLOPS 1 000 000 000 000 000 000
15 1015 petaflops PFLOPS 1 000 000 000 000 000 Jepang berencana pada awal 2011 untuk membangun superkomputer yang berkemampuan 3 PFLOPS.
12 1012 teraflops TFLOPS 1 000 000 000 000 Superkomputer tercepat per Juni 2005 Bluegene/L mempunyai kemampuan kalkulasi 136.8 TeraFLOPS. Proyek komputasi terdistribusi seti@home berkemampuan 100 TFLOPS. Proyek komputasi terdistribusi folding@home berkemampuan 200 TFLOPS, sedangkan GIMPS yang melakukan pencarian terhadap bilangan prima Mersenne berkemampuan 17 TFLOPS. PlayStation 3 sendiri memiliki kemampuan 2 TFLOPS.
9 109 gigaflops GFLOPS 1 000 000 000 Kemampuan rata-rata sebuah komputer pribadi berbasis prosesor Intel Pentium 4 adalah 1.3 GFLOPS.
6 106 megaflops MFLOPS 1 000 000 Superkomputer Cray-1 mempunyai kemampuan kalkulasi 80 MFLOPS
3 103 kiloflops kFLOPS 1 000
2 102 hektoflops hFLOPS 100
1 101 dekaflops daFLOPS 10
0 100 tidak ada tidak ada 1 Kalkulator saku memiliki kemampuan 10 FLOPS jika waktu respons operatornya diasumsikan 0.1 detik.
-3 10-3 milliflops mFLOPS 0.001 Manusia adalah pemroses bilangan pecahan terburuk terburuk. Dicatat, membutuhkan 25 menit bagi manusia untuk menghitung pembagian bilangan pecahan dengan presisi 10 digit menggunakan pensil dan kertas. Manusia melakukan perhitungan dalam skala milliFLOPS.

Untuk saat ini 6 Juni 2008 , TSUBAME memilik kemampuan 56.43 TFLOPS (56430 GFLOPS) sedangkan kemampuan rata-rata sebuah komputer pribadi berbasis prosesor Intel Pentium 4 adalah 1.3 GFLOPS. Dengan membagi 56430 dengan 1.3 didapat 43407, sehingga kemampuan TSUBAME setara 43 407 buah komputer pribadi.

Posted in Meteorologi, Model Meteorologi, NWP | Leave a Comment »