Kadarsah

Meteorologi dan Sains Atmosfer

Meniup Suhu Bumi

Posted by kadarsah pada Juli 27, 2007

Meniup Suhu Bumi

Emisi Gas Buang di Cina; Menyaingi Amerika Serikat (AP Photo/Eugene Hoshiko)Mengajak negara-negara berseteru duduk bersama seperti merukunkan macan dan gajah. Tapi itu bukan hal mustahil bagi Adiyatwidi Adiwoso A. Kuasa usaha sementara Perwakilan Tetap Republik Indonesia untuk PBB ini berhasil mengajak duduk bersama para wakil dari Amerika Serikat, Cina, dan India guna membahas soal lingkungan.

Bersama 50-an wakil negara dan organisasi dunia, ketiga negara yang saling ngotot soal panas bumi itu bersedia hadir untuk urun rembuk dalam seminar sehari di Doral Arrowwood Resort, New York, akhir bulan lalu. Selama hampir 10 jam mereka bersedia duduk membahas sejumlah masalah menyongsong konferensi PBB soal perubahan iklim dunia yang bakal digelar di Bali, Desember nanti.

Dari judulnya, “The Role of the United Nations in Climate Change: Exploring the Way Forward from Now to Bali and Beyond”, seminar di kawasan resor New York itu digelar untuk menyatukan visi ke-50 negara lewat pertemuan informal ini. “Brainstorming ini mengajak delegasi agar bicara secara lebih terbuka mengeluarkan unek-uneknya,” tutur Adiyatwidi di sela-sela seminar.

Sikap terbuka itulah yang tercermin dari para delegasi, walau dengan gaya diplomasi. Bukan lewat adu jotos atau menggebrak meja. Seperti diutarakan Kevin M. Conrad, Direktur Coalition for Rainforest Nations, “Negara-negara industri selalu menuntut negara-negara berkembang menghentikan penebangan pohon dan penggundulan hutan.” Namun, katanya, mereka tidak memberikan alternatif.

Bank Dunia, UNDP (Program Pembangunan PBB), lanjutnya, tidak memberi jalan keluar bagi negara berkembang untuk membayar utang mereka bila penebangan pohon –penghasil utama devisa– dihentikan. “IMF hanya bisa menaikkan suku bunga pinjamannya,” kata Conrad yang asal Selandia Baru. Sejumlah wakil organisasi keuangan dunia yang duduk di lapis belakang merah wajahnya.

Suara senada diutarakan Ajai Malhotra, Duta Besar India untuk PBB. “Bagaimana caranya mengubah tradisi rakyat jelata yang menggunakan kayu atau batu bara untuk bahan bakar di dapur,” ujarnya. Seperti diketahui, India merupakan salah satu negara yang banyak menyumbang gas buang terbesar di dunia. Selama 1990 hingga 2004, konsumsi energi India meningkat 37% dan emisi gas buangnya mencapai 1,12 ton per tahun per kapita.

Sementara itu, Cina yang berpenduduk 1,3 milyar jiwa menyumbang gas buang sebanyak 4,03 ton. Negara komunis yang kini menggeliat dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 10% setiap tahun itu diramalkan akan menyaingi Amerika Serikat sebelum tahun 2010 dengan total gas buang sebanyak 21,75 ton. Karena itulah, Cina berupaya menurunkannya lewat pengolahan teknologi energi batu bara agar lebih akrab lingkungan. “Bagaimana caranya? Beri kami bantuan teknis untuk mengatasi hal itu,” kata Bai Yongjie, konsul RRC di PBB.

Yang tak luput dari kritik adalah Amerika Serikat, yang diwakili Michael G. Snowden, salah satu staf dan penasihat perwakilan Amerika di PBB. Dan yang melontarkannya tak lain Dr. Alan Robock, profesor dari Universitas Rutger. “Saya sebagai warga Amerika sungguh malu melihat negara kami, yang punya dana, kecanggihan teknologi tinggi, dan sumber daya manusia yang cukup cerdas dan banyak, ternyata tak mampu mengurangi sumbangan gas buang dunia sebesar 21,75 ton,” ujar Robock, Kepala Departemen Ilmu Lingkungan Universitas Rutger, New Brunswick, New Jersey, Amerika Serikat.

Gara-gara ketiga negara besar –Amerika, India dan Cina– itulah suhu bumi meningkat. Tahun 2005 merupakan tahun paling panas selama 125 tahun. Suhu terpanas tercatat setinggi 58 derajat celcsus di Al-Asisiyah, Libya. Menurut prediksi para ilmuwan, suhu tersebut akan meningkat 0,2 derajat setiap dekade dalam jangka waktu 20 tahun mendatang. Seandainya jumlah gas buang diupayakan konstan pada tahun 2000, pemanasan bisa dipastikan masih meningkat 0,1 derajat setiap dekade.

Jangan heran bila gunung-gunung es di kedua kutub dunia meleleh. Stasiun televisi ABC, Kamis pekan lalu, melaporkan bahwa burung penguin banyak yang mati akibat kelaparan karena krisis bahan makanan, seperti ikan dan plankton. Cairan es pun menyebabkan permukaan air laut meningkat dan mengikis pantai-pantai sejumlah negara, seperti Bangladesh, Maldives, Barbados, atau Indonesia. Bahkan banyak pulau yang hilang tertelan air laut. Indonesia, misalnya, kehilangan 2.000 pulau dari total pulau yang jumlahnya sekitar 17.000.

Demikian juga Bangladesh. Sebagai negara yang tergolong “rendah” dan paling rentan akibat pemanasan dunia, air laut telah merambah Pantai Bengal dan mendorong air asin itu semakin menjorok ke daratan. Akibatnya, banyak petani yang mengubah lahan pertaniannya menjadi tambak udang atau ikan laut. “Dulu kami kebanjiran 20 tahun sekali, tapi kini sudah empati kali mengalami banjir bandang dalam 20 tahun,” tutur Salimul Huq, Direktur Program Perubahan Iklim Institut International untuk Lingkungan Bangladesh, kepada majalah Time.

Kekhawatiran semakin besar setelah menyadari bahwa dana yang disalurkan organisasi keuangan dunia untuk menekan panas bumi tak seimbang. Kebutuhan pembangunan pembangkit listrik atau fasilitas umum lainnya yang akrab lingkungan baru terpenuhi separuhnya. Pembangunan pembangkit listrik di negara-negara berkembang, yang setahun membutuhkan dana US$ 165 milyar, baru mendapatkan dana US$ 80 milyar. Para pemodal besar baru menanamkan investasinya ke industri akrab lingkungan belakangan ini. Demikian juga kewajiban penggantian perubahan iklim bagi negara-negara industri.

Kecemasan itulah yang mendorong negara-negara Uni Eropa dan Asia untuk mendesak PBB agar memasukkannya sebagai agenda politik dunia. Proses pun bergulir lewat lobi makan siang, Mei lalu, dimotori oleh Indonesia dan Inggris. Forum ini berkembang dengan melibatkan Singapura, Indonesia, dan negara-negara kepulauan lainnya. “Indonesia dipilih sebagai ketua karena posisinya yang cukup netral. Sebagai anggota OPEC, punya hutan luas, negara kepulauan, dan anggota G-77,” kata Adiyatwidi Adiwoso, yang akrab dipanggil Wike.

Sejumlah forum bergulir. Selain forum informal di New York, sebelumnya ada forum G-8 di Heiligendam, Jerman, dan forum lainnya, yang kelak bakal dimatangkan dalam Conference of Parties of the United Nations Framework on Climate Change and the 3rd Meeting of Parties of Kyoto Protocol di Bali, 3-14 Desember 2007. Intinya, menyusun langkah strategis masalah lingkungan pasca-Protokol Kyoto yang berakhir pada 2012. Harapannya, antara lain, Amerika Serikat dan negara berkembang yang belum bersedia meratifikasi Protokol Kyoto mau terlibat di masa mendatang.

Meski masih jauh, indikasi ke arah itu mulai tampak di New York, akhir Juni lalu. Buktinya, hampir seluruh delegasi bersedia menghadiri urun rembuk informal yang diselenggarakan di kawasan wisata Doral Arrowwood, Rye Brook, yang nyaman dan apik. Kamarnya luas, keluarga mereka bisa berenang, sementara delegasi mengerutkan dahi di ruang rapat. Malamnya, mereka menikmati makan malam lobster yang lezat dan minuman anggur, sambil menyaksikan tarian tango suguhan sebuah akademi tari New York. “Mereka terus mendukung agar Indonesia tetap menjadi pemimpin,” ujar Wike.

Didi Prambadi (New York)
[Lingkungan, Gatra Nomor 36 Beredar Kamis, 19 Juli 2007]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: