Kadarsah

Meteorologi dan Sains Atmosfer

Archive for Juni, 2007

Jenis-jenis hujan

Posted by kadarsah pada Juni 30, 2007

Berdasarkan terjadinya, hujan dibedakan menjadi

  • Hujan siklonal, yaitu hujan yang terjadi karena udara panas yang naik disertai dengan angin berputar.
  • Hujan zenithal, yaitu hujan yang sering terjadi di daerah sekitar ekuator, akibat pertemuan Angin Pasat Timur Laut dengan Angin Pasat Tenggara. Kemudian angin tersebut naik dan membentuk gumpalan-gumpalan awan di sekitar ekuator yang berakibat awan menjadi jenuh dan turunlah hujan.
  • Hujan orografis, yaitu hujan yang terjadi karena angin yang mengandung uap air yang bergerak horisontal. Angin tersebut naik menuju pegunungan, suhu udara menjadi dingin sehingga terjadi kondensasi. Terjadilah hujan di sekitar pegunungan.
  • Hujan frontal, yaitu hujan yang terjadi apabila massa udara yang dingin bertemu dengan massa udara yang panas. Tempat pertemuan antara kedua massa itu disebut bidang front. Karena lebih berat massa udara dingin lebih berada di bawah. Di sekitar bidang front inilah sering terjadi hujan lebat yang disebut hujan frontal.
  • Hujan muson, yaitu hujan yang terjadi karena Angin Musim (Angin Muson). Penyebab terjadinya Angin Muson adalah karena adanya pergerakan semu tahunan Matahari antara Garis Balik Utara dan Garis Balik Selatan. Di Indonesia, secara teoritis hujan muson terjadi bulan Oktober sampai April. Sementara di kawasan Asia Timur terjadi bulan Mei sampai Agustus.

Posted in Meteorologi | 18 Comments »

Temperatur Global 2006 : Ketiga Terhangat Sejak 1891

Posted by kadarsah pada Juni 30, 2007

Anomali temperatur permukaan global 2006 menunjukan +0.31°C diatas normal ketiga tertinggi sejak 891. Desember 2006 tercatat sebagai tahun terhangat.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Global Climate Change | 3 Comments »

Musim Dingin Terhangat (2006-2007) di Jepang Sejak 1899

Posted by kadarsah pada Juni 30, 2007

Musim dingin di Jepang ( Desember-Januari-Februari) 2006-2007 memiliki rata-rata temperatur 1,52 C di atas normal, tertinggi sejak tahun 1899. Rata-rata musim dingin di Jepang memiliki tingkat kenaikan 1,14 C per 100 tahun, seperti yang ditunjukan gambar dibawah.

Rata-rata anomali temperatur di Jepang (1899 - 2007 )

Gambar di atas menunjukan anomali rata- rata temperatur dari kondisi normal ( 1971-2000). Garis biru menunjukan rata-rata anomali temperatur lima tahunan dan garis merah merupakan trend kenaiak temperatur jangka panjang.

Rata-rata anomali temperatur bulanan di Jepang selama musim dingin adalah 0.78°C di bulan December , +1.44°C January dan +2.35°C February . Tingkat kehangatan musim dingin 2006-2007 sebagian dipengaruhi oleh pemanasan global dengan bertambahnya: gas rumah kaca,CO2. Akan tetapi, faktor utama di akibatkan kombinasi dua faktor :

1) Aliran skala planetary, yang mencegah arus selatan yang bersifat dingin dan berasal dari daerah arctic yang dingin, terutama pada awal musim dingin.

2) Perubahan lokasi Aleutian Low, yang tidak cukup kuat untuk menimbulkan perbedaan tekanan permukaan Timur- Barat sehingga mendorong munculnya udara dingin di sekitar Jepang.

Catatan:

Kondisi normal: Kondisi rata-rata temperatur yang dijadikan acuan sebagai kondisi normal dengan menggunakan data 1971-2000. Rata-rata temperatur Jepang di hitung berdasarkan obsevasi permukaan :17 observasi dengan pengamatan yang kontinyu.

Lima musim dingin terhangat

1). 2007 (+1.52°C), 2)1949 (+1.52°C), 3) 1979 (+1.18°C), 4). 1993 (+1.17°C), 5). 1989 (+1.16°C)

Tulisan ini di jermahkan secar bebas dari :http://okdk.kishou.go.jp/news/topics_20070301.html

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Global Climate Change | Leave a Comment »

Application of REMOTE to study of the spreading of forest fire smoke in the atmosphere over Indonesia 1996-1998

Posted by kadarsah pada Juni 30, 2007

Tulisan ini merupakan aplikasi REMO ( Regional Model) yang di modifikasi untuk mensimulasikan penyebaran asap, khususnya asap kebakaran hutan dan di sebut REMOTE. Model meteorologi ini merupakan keluaran Max Planck Institut for Meteorologi,Jerman.

Berikut contoh posternya:

jma-poster.jpg

Dan berikut merupakan ringkasan singkat:msj-2007-kadarsah.pdf

poster-kadarsah-msj-20071

Posted in Meteorologi | Leave a Comment »

Istilah Meteorologi

Posted by kadarsah pada Juni 30, 2007

Iklim / musim di Indonesia ditentukan oleh kondisi dinamika atmosfer seperti sirkulasi angin ( monsun ) dan perkembangan suhu muka laut di sekitar wilayah Indonesia, selain itu dipengaruhi juga oleh phenomena alam skala regional dan global .

A. Sirkulasi Angin (Monsun)

Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan oleh pola tekanan di Australia dan Asia, pola tekanan ini mengikuti pola gerak tahunan matahari. Sebagai akibatnya pola angin di Indonesia umumnya adalah pola monsun, yaitu sirkulasi angin yang berubah arah hampir 180° dalam setiap tahunnya. Pola angin monsun barat yang datang dari Asia menyebabkan terjadinya musim hujan, sedangkan monsun timur yang datang dari Australia menyebabkan terjadinya musim kemarau di Indonesia.

B. Suhu muka laut

Suhu muka laut di perairan Indonesia sebagai indeks banyaknya uap air pembentuk awan di atmosfer. Jika suhu muka laut dingin uap air di atmosfer menjadi berkurang, sebaliknya jika suhu muka laut panas uap air di atmosfer banyak. Pola suhu muka laut di Indonesia secara umum mengikuti gerak tahunan matahari. Suhu muka laut di Samudera Hindia ( kecuali sebalah barat Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Nangro Aceh Darussalam ) mempunyai rentang perubahan yang cukup lebar yaitu minimum berkisar 26.0° C pada bulan Agustus hingga maksimum berkisar 31.5° C pada bulan Febrauari – Maret. Wilayah perairan lainnya umumnya mempunyai rentang perubahan lebih sempit yaitu berkisar 29.0° C hingga 31.5° C dan waktu terjadinya minimum dan maksimumnya tidak sama disetiap perairan.

C. Phenomena Global yang mempengaruhi iklim di Indonesia

1. El Nino dan La Nina

El Nino merupakan fenomena global dari sistem interaksi laut dan atmosfer yang ditandai dengan memanasnya suhu muka laut di Pasifik Equator atau anomali suhu muka laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya). Sedangkan La Nina merupakan kebalikan dari El Nino ditandai dengan anomali suhu muka laut di daerah tersebut negatif (lebih dingin dari rata-ratanya).

Berdasar intensitasnya El Nino dapat dikategorikan sebagai berikut :

a) El Nino Lemah (Weak El Nino) yaitu jika anomali suhu muka laut di Pasifik equator positif antara +0.5º C s/d +1,0º C yang berlangsung selama 3 bulan berturut-turut atau lebih.

b) El Nino sedang (Moderate El Nino) yaitu jika anomali suhu muka laut di Pasifik equator positif antara +1,1º C s/d 1,5º C yang berlangsung selama 3 bulan berturut-turut atau lebih.

c) El Nino kuat (Strong El Nino) yaitu jika anomali suhu muka laut di Pasifik ekuator positif > 1,5º C yang berlangsung selama 3 bulan berturut-turut atau lebih.

Fenomena El Nino secara umum akan menyebabkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berkurang, besar pengurangannya tergantung dari lokasi dan intensitas El Nino tersebut. Namun demikian, karena luasnya wilayah Indonesia serta posisi geografisnya yang dikenal sebagai benua maritim, maka tidak seluruh wilayah Indonesia dipengaruhi oleh fenomena El Nino.

Sedangkan La Nina secara umum akan menyebabkan curah hujan di Indonesia bertambah. Kategori La Nina sama dengan El Nino, demikian juga dampak La Nina tergantung pada lokasi dan intensitas La Nina tersebut.

2. Dipole Mode

Dipole Mode merupakan penomena intreraksi laut – atmosfer di Samudera Hindia yang dihitung dari nilai perbedaan (selisih) anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika dengan perairan di sebelah barat Sumatera. Nilai perbedaaan anomali suhu muka laut ini disebut Dipole Mode Indek ( DMI )

Jika nilai DMI positif (Dipole Mode Positif), secara umum curah hujan di wilayah Indonesia bagian barat akan berkurang. Sedangkan jika nilai DMI negatif (Dipole Mode Negatif), maka curah hujan di wilayah Indonesia bagian barat secara umum akan bertambah.

SIFAT HUJAN

Sifat hujan ditetapkan berdasar pada perbandingan antara jumlah curah hujan dalam sebulan dengan nilai rata-rata atau normalnya pada bulan yang bersangkutan di suatu tempat.

Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:

– Di Atas Normal (A) : jika nilai perbandingannya >115%

– Normal (N) : jika nilai perbandingan antara 85%-115%

– Di Bawah Normal (B) : jika nilai perbandingannya <85%

TINGKAT KETERSEDIAAN AIR

Tingkat ketersediaan air ditentukan berdasar atas kadar air antara 0% pada titik layu permanen tanaman dan 100% pada kapasitas lapang, untuk lahan yang tidak beririgasi.

Tingkat ketersediaan air dibedakan atas 3 kriteria yaitu:

– Cukup : Jika kadar air sedalam jelajah akar tanaman >60%

– Sedang : Jika kadar air sedalam jelajah akar tanaman antara 40% — 60%

– Kurang : Jika kadar air sedalam jelajah akar tanaman <40%

Conntoh peta keserdiaan air yang dikeluarkan BMG:

januari-20072.jpg

Posted in Meteorologi | 25 Comments »

Data Meteorologi Wyoming

Posted by kadarsah pada Juni 29, 2007

Berikut alamat situs yang berisi data-data meteorologi:

http://www.weather.uwyo.edu/

Contoh data:

angin-umyo1.jpg

Posted in Data Meteorologi | Leave a Comment »

Keajaiban Statistik Presiden Amerika Serikat

Posted by kadarsah pada Juni 29, 2007

Dari daftar seluruh Presiden Amerika Serikat ada keajaiban statistik khususnya mereka yang mengalami nasib buruk ketika memegang jabatan.Perhatikan bila seorang Presiden terpilih dengan tahun yang berakhir dengan 0. Juga perhatikan perbedaan tahun pengangkatan diantara mereka adalah 20 tahun.

Persamaan yang janggal antara Presiden Lincoln dan Kennedy

John F. Kennedy terpilih ke Kongres di tahun 1946.
  • Abraham Lincoln terpilih sebagai Presiden di tahun 1860.
John F. Kennedy terpilih sebagai Presiden di tahun 1960.
  • Kedua-duanya adalah pejuang hak-hak sipil.
  • Kedua-duanya tertembak pada hari Jum’at.
  • Kedua-duanya tertembak di kepala.
Sekertaris presiden Kennedy bernama Lincoln
  • Kedua Presiden terbunuh oleh orang yang berasal dari Selatan.
Kedua Presiden digantikan oleh orang dari Selatan yang sama-sama bernama Johnson.
Lyndon Johnson, yang menggantikan Kennedy, lahir di tahun 1908.
Lee Harvey Oswald, yang membunuh Kennedy, lahir di tahun 1938.
  • Kedua pembunuh mempunyai nama berisi 15 huruf.
  • Lincoln tertembak di teater bernama Ford.
Kennedy tertembak di dalam mobil bermerk ‘Lincoln’ dibuat oleh pabrik Ford.
  • Booth dan Oswald terbunuh sebelum masuk pengadilan.
  • Satu minggu sebelum Lincoln tertembak, ia berada di Monroe, Maryland.

Posted in Umum | Leave a Comment »

Sistem Operasi Komputer

Posted by kadarsah pada Juni 29, 2007

Berikut merupakan tulisan yang diambil dari wikipedia:

Kategorisasi Sistem Operasi

Sistem Operasi dapat dikategorikan menurut tehnologinya (seperti keluarga unix atau lainnya, windows misalnya), kepemilikan dan lisensinya (berlisensi atau open-source), perkembangannya (dilihat dari kacamata sejarah seperti DOS dan OS/2 atau yang terbaru Linux dan Windows), maupun aplikasinya (penggunaannya umum seperti Linux, Windows), khusus desktop (DOS, Apple Mac OS), khusus mainframe (AIX), khusus real-time atau embedded (QNX), PDA, atau tujuan lain seperti keperluan produksi barang, penelitian dan hobi. Secara natural penggolongan-penggolongan itu saling beririsan.

Generasi awal dan penting menurut sejarah

  • CTSS (The Compatible TimeShare System, dibuat di MIT oleh Corbato cs)
  • Incompatible Timesharing System (The Incompatible TimeShare System, dibangun di MIT untuk mainframe DEC 10/20)
  • Sistem operasi THE (oleh Dijkstra cs)
  • Multics (proyek gabungan Bell Labs, GE dan MIT)
  • Master programme, dibangun oleh Leo Computers, Leo III pada tahun 1962
  • Lihat juga Timeline Sistem operasi

Sistem Operasi berhak milik generasi awal

  • Apple Computer
  • Business Operating System (BOS)
  • Commodore PET, Commodore 64, dan Commodore VIC-20
  • IBM PC awal (UCSD p-System, CPM-86, PC-DOS)
  • Sinclair Micro dan QS dll
  • TRS-DOS, ROM OS
  • TI99-4
  • Flex
  • FLEX9
  • mini-FLEX
  • dan lainnya

Berlisensi

  • OS berhak milik lainnya, Unix-like dan POSIX-compliant
    • Aegis/OS
    • Cromix
    • Coherent
    • DNIX
    • Digital UNIX
    • freeBSD
    • GNU/Linux
    • HP-UX
    • Idris
    • IRIX
    • Mac OS X
    • Menuet
    • NetBSD
    • NeXTSTEP
    • OS-9
      • OS-9/68k
      • OS-9000
    • OSF/1
    • OpenBSD
    • OPENSTEP
    • Plan 9
    • Plan 9, Inferno
    • Rhapshody
    • RiscOS
    • SCO UNIX
    • System V
    • UNIflex
    • Ultrix
    • UniCOS

Aplikasi

PDA (Personal Digital Assistant)

Smartphones

 Router

  • IOS
  • MikroTik RouterOS

Microcontroller, Real-Time OS, Embedded

  • Contiki
  • eCos
  • OSEK
  • Nuclues
  • QNX
  • VxWorks
  • ITRON
  • uCLinux
  • TRON OS
  • ThreadX
  • INTEGRITY
  • Montavista Linux
  • OS-9
  • LynxOS
  • RTOS

Posted in Umum | 22 Comments »

Rata-rata Curah Hujan Bulanan Indonesia (1961-1993)

Posted by kadarsah pada Juni 29, 2007

Berikut merupakan rata-rata curah hujan Indonesia selama 32 tahun ( 1961-1993), pola curah hujan ini sangat lengkap mengingat data yang digunakan sangat memadai 32 tahun (gambar curah hujan ini merupakan hasil riset Dr.Edvin Aldrian).

indonesia.png

Dari gambar tersebut dapat kita analisis bahwa:

Desember-Januari-Februari merupakan musim hujan yang ditandai dengan meningkatnya rata-rata curah hujan. Sedangkan bulan Juni-Juli-Agustus merupakan musim kering yang ditandai dengan berkurangnya rata-rata curah hujan.Bulan-bulan lainnya disebut sebagai musim peralihan. Maju atau mundurnya musim hujan dan musim kemarau sangat di pengaruh oleh berbagai fenomena meteorologi diantaranya: El Nino, dan La Nina .

Posted in Meteorologi | 135 Comments »

Tiga Pola Curah Hujan Indonesia

Posted by kadarsah pada Juni 29, 2007

Pembagian pola iklim menjadi tiga daerah di Indonesia berikut ini berdasarkan metode korelasi ganda. Pembagian pola iklim ini saya ambil dari disertasi Dr.Edvin Aldrian.

polach.png

Region atau daerah A, pola curah hujannya berbentuk huruf U ( paling kiri), sedang pola Region B, pola curah hujannya berbentuk huruf M ( tengah) dengan dua puncak curah hujan.Sedangkan pola Region C berbentuk huruf U terbalik ( kanan) atau berkebalikan dengan Region A. Garis merah merupakan curah hujan dalam milimeter sedangkan garis hitam merupakan deviasinya.

Region A: region monsoon tengara/Australian monsoon
Region B: region semi-monsoon/NE Passat monsoon

Region C :region anti-monsoon/Indonesian throughflow

Dalam literatur lain:

pola-curah-hujan-indonesia.jpg

(Bayong,1999)

Region A:Type monsoon

Region B:Type ekuatorial

Region C : Type lokal

BMG Berdasarkan distribusi data rata-rata curah hujan bulanan, umumnya wilayah Indonesia dibagi menjadi 3 (tiga) pola hujan, yaitu :

1. Pola hujan monsun, yang wilayahnya memiliki perbedaan yang jelas antara periode musim hujan dan periode musim kemarau kemudian dikelompokan dalam Zona Musim (ZOM), tipe curah hujan yang bersifat unimodial (satu puncak musim hujan,DJF musim hujan,JJA musim kemarau).

2. Pola hujan equatorial, yang wilayahnya memiliki distribusi hujan bulanan bimodial dengan dua puncak musim hujan maksimum dan hampir sepanjang tahun masuk dalam kreteria musim hujan. Pola ekuatorial dicirikan oleh tipe curah hujan dengan bentuk bimodial (dua puncak hujan) yang biasanya terjadi sekitar bulan Maret dan Oktober atau pada saat terjadi ekinoks.

3. Pola hujan lokal, yang wilayahnya memiliki distribusi hujan bulanan kebalikan dengan pola monsun. Pola lokal dicirikan oleh bentuk pola hujan unimodial (satu puncak hujan), tetapi bentuknya berlawanan dengan tipe hujan monsun.

Pa Pada kondisi normal, daerah yang bertipe hujan monsun akan mendapatkan jumlah curah hujan yang berlebih pada saat monsun barat (DJF) dibanding saat monsun timur (JJA).P Pengaruh monsun di daerah yang memiliki pola curah hujan ekuator kurang tegas akibat pengaruh insolasi pada saat terjadi ekinoks, demikian juga pada daerah yang memiliki pola curah hujan lokal yang lebih dipengaruhi oleh efek orografi .

Ga Gambar dibawah ini merupakan pola curah hujan dari BMG:

——–Pola Curah Hujan Indonesia


B

Tulisan berikut di ambil dari:http://klastik.wordpress.com/2006/12/03/pola-umum-curah-hujan-di-indonesia/

Pola umum curah hujan di Indonesia antara lain dipengaruhi oleh letak geografis. Secara rinci pola umum hujan di Indonesia dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Pantai sebelah barat setiap pulau memperoleh jumlah hujan selalu lebih banyak daripada pantai sebelah timur.
  2. Curah hujan di Indonesia bagian barat lebih besar daripada Indonesia bagian timur. Sebagai contoh, deretan pulau-pulau Jawa, Bali, NTB, dan NTT yang dihubungkan oleh selat-selat sempit, jumlah curah hujan yang terbanyak adalah Jawa Barat.
  3. Curah hujan juga bertambah sesuai dengan ketinggian tempat. Curah hujan terbanyak umumnya berada pada ketinggian antara 600 – 900 m di atas permukaan laut.
  4. Di daerah pedalaman, di semua pulau musim hujan jatuh pada musim pancaroba. Demikian juga halnya di daerah-daerah rawa yang besar.
  5. Bulan maksimum hujan sesuai dengan letak DKAT.
  6. Saat mulai turunnya hujan bergeser dari barat ke timur seperti:
    1) Pantai barat pulau Sumatera sampai ke Bengkulu mendapat hujan terbanyak pada bulan November.
    2) Lampung-Bangka yang letaknya ke timur mendapat hujan terbanyak pada bulan Desember.
    3) Jawa bagian utara, Bali, NTB, dan NTT pada bulan Januari – Februari.
  7. Di Sulawesi Selatan bagian timur, Sulawesi Tenggara, Maluku Tengah, musim hujannya berbeda, yaitu bulan Mei-Juni. Pada saat itu, daerah lain sedang mengalami musim kering. Batas daerah hujan Indonesia barat dan timur terletak pada kira-kira 120( Bujur Timur. Grafik perbandingan empat pola curah hujan di Indonesia dapat Anda lihat pada gambar dibawah ini.

Rata-rata curah hujan di Indonesia untuk setiap tahunnya tidak sama. Namun masih tergolong cukup banyak, yaitu rata-rata 2000 – 3000 mm/tahun. Begitu pula antara tempat yang satu dengan tempat yang lain rata-rata curah hujannya tidak sama.

Ada beberapa daerah yang mendapat curah hujan sangat rendah dan ada pula daerah yang mendapat curah hujan tinggi:

  1. Daerah yang mendapat curah hujan rata-rata per tahun kurang dari 1000 mm, meliputi 0,6% dari luas wilayah Indonesia, di antaranya Nusa Tenggara, dan 2 daerah di Sulawesi (lembah Palu dan Luwuk).
  2. Daerah yang mendapat curah hujan antara 1000 – 2000 mm per tahun di antaranya sebagian Nusa Tenggara, daerah sempit di Merauke, Kepulauan Aru, dan Tanibar.
  3. Daerah yang mendapat curah hujan antara 2000 – 3000 mm per tahun, meliputi Sumatera Timur, Kalimantan Selatan, dan Timur sebagian besar Jawa Barat dan Jawa Tengah, sebagian Irian Jaya, Kepulauan Maluku dan sebagaian besar Sulawesi.
  4. Daerah yang mendapat curah hujan tertinggi lebih dari 3000 mm per tahun meliputi dataran tinggi di Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, dataran tinggi Irian bagian tengah, dan beberapa daerah di Jawa, Bali, Lombok, dan Sumba.

Perlu Anda ketahui pula bahwa hujan terbanyak di Indonesia terdapat di Baturaden Jawa Tengah, yaitu curah hujan mencapai 7,069 mm/tahun. Hujan paling sedikit di Palu Sulawesi Tengah, merupakan daerah yang paling kering dengan curah hujan sekitar 547 mm/tahun.

Sebagai bahan perbandingan curah hujan di daerah lain :540 mm/tahun di Eropa sedangkan dipedalaman 1250 mm/tahun, di Pegunungan Rocky 3400 mm/tahun, di pedalaman Amerika 400 mm/tahun. Daerah yang memiliki curah hujan tertinggi di Cherrapunji 10820 mm/tahun ( selama 1860-Juli 1861 memiliki curah hujan 2646,12 mm/tahun dan selama 5 hari berturut-turut dibulan Agustus 1841 sebesar 38000 mm/tahun atau setara dengan curah hujan selama 4 tahun di New York), sedangkan di Puncak Gunung Waialeale di Kanai Tengah, Kepulauan Hawaii sebesar 1175,84 mm/tahun.

Hamada (Hamada JI, Yamanaka MD, Matsumoto J, Fukao S, Winarso PA,Sribimawati T (2002) Spatial and temporal variations of the rainy season over Indonesia and their link to ENSO. J MeteorolSoc Japan 80: 285–310) membagi Indonesia menjadi empat daerah iklim, tiga di antaranya sesuai dengan tipe diatas sedang tipe ke empat merupakan daerah peralihan yang tidak menunjukan secara jelas musim kering dan musim kemarau.

Posted in Meteorologi | 130 Comments »