Edvin Aldrian
Hampir sebagian besar wilayah Indonesia masih diguyur hujan pada saat musim yang seharusnya sudah berada di pertengahan musim kemarau. Beberapa pihak menengarai tahun ini sebagai kemarau basah yang disebabkan oleh fenomena La Nina di Samudra Pasifik barat (Kompas, 26 Mei 2007).
Selain itu, juga kombinasi dengan Indian Dipole Mode (DM) positif di Samudra Hindia. Benarkah demikian atau adakah penyebab lainnya?
Memang, El Nino/La Nina dan DM merupakan dua fenomena regional utama yang memengaruhi iklim Indonesia.
El Nino (atau La Nina) akan mengurangi (atau menambah) curah hujan pada musim kemarau di Indonesia, terutama di wilayah timur hingga selatan Indonesia. Adapun DM positif (atau negatif) akan memengaruhi curah hujan di wilayah Barat, seperti Sumatera bagian selatan dan Jawa dengan mengurangi (atau menambah) pada musim kemarau.
Berdasarkan hasil pemantauan karakteristik curah hujan tahunan Indonesia, ada kecenderungan bahwa setelah terjadi tahun El Nino (tahun kering) biasanya diikuti dengan peningkatan curah hujan pada kemarau tahun berikutnya. Hal ini terbukti terjadi pada tahun 1998/1999 setelah El Nino kuat 1997/1998, dan pada tahun 2003/2004 setelah El Nino lemah tahun 2002.
Padahal, tahun 2006 kita mengalami juga El Nino lemah yang berawal agak telat di sekitar bulan November. Selain itu, DM kuat positif tahun 2004 juga diikuti oleh tahun kemarau basah 2005.
Secara teoretis pendapat itu dapat dipahami karena berdasarkan konsep neraca energi (energy balance) klasik, termasuk uap air akan selalu mencapai keseimbangan setelah mengalami kondisi ekstrem tertentu, akan berbalik ke kondisi ekstrem lainnya. Dengan pola yang sama, kemungkinan besar tahun 2007 ini adalah tahun kemarau basah.
Salah satu penyebab lain yang belum dan kurang dibahas adalah pengaruh dari pemanasan global. Hasil kajian dari NASA menunjukkan bahwa lima tahun terpanas sejak pengukuran tahun 1890, berturut-turut adalah tahun 2005, 1998, 2002, 2003, dan 2004.
Dari data itu, hanya tahun 1998 yang merupakan tahun La Nina; tahun 2004 adalah tahun dengan DM kuat positif, sedangkan sisanya tidak ada indikasi jelas La Nina ataupun DM kuat.
Suatu tahun diindikasikan mengalami La Nina apabila suhu laut di wilayah Pasifik barat, semisal daerah NINO3, mengalami penurunan di bawah rata-ratanya melebihi nilai standar deviasinya (stdev), yaitu 1 ºC.
Sementara kondisi DM dinyatakan setelah ada perbedaan antara dua wilayah kutub (dipole) di Samudra Hindia dengan perbedaan melebihi 0,52 ºC (stdev). Kondisi terakhir yang terpantau saat ini deviasi nilai suhu laut di wilayah NINO3 (5 LS-5 LU, 150 BB-90 BB) adalah -0,46 ºC dan indeks DM 0,82 ºC.
Meskipun nilai indeks DM telah di atas standar deviasinya sehingga dinyatakan sebagai tahun DM positif, tetapi dari hasil kajian lebih mendalam terlihat bahwa nilai deviasi kutub (dipole) di wilayah barat adalah 0,6 ºC dengan stdev 0,36 dan di wilayah timur, yaitu wilayah barat daya Pulau Sumatera adalah -0,23 ºC dengan stdev 0,43 ºC (total indeks DM 0,82 ºC).
Adapun hasil kajian data DM sepuluh tahun terakhir menunjukkan bahwa kutub wilayah timurlah yang lebih berpengaruh terhadap iklim Indonesia yang kondisi terakhir masih jauh di bawah nilai stdev-nya.
Pemanasan global
Dapat disimpulkan, dalam sepuluh tahun terakhir, apabila El Nino/La Nina dan DM lemah, pemain ketiga yang menentukan iklim Indonesia adalah pemanasan global.
Akibat dari pemanasan global ini suhu laut di wilayah Indonesia masih relatif hangat (di atas 28 ºC) sehingga memberikan suplai uap air yang cukup bagi proses konveksi dari curah hujan tinggi di beberapa wilayah Indonesia.
Hal ini terbukti oleh beberapa peristiwa banjir yang dilaporkan di beberapa wilayah Indonesia, seperti Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Maluku pada akhir Juni lalu. Dengan berbagai indikator iklim di atas, diprediksi bahwa tahun 2007 ini sebagai salah satu tahun bumi terpanas.
Hasil kajian ini berbeda dari analisis yang dilansir BMG (Kompas, 5 Juni 2007) yang menyebutkan bahwa kombinasi La Nina dan DM positif dapat mengakibatkan situasi basah di wilayah timur serta utara Indonesia dan kering di wilayah selatan Indonesia.
Pelajaran yang dapat diambil dari tahun 2005 atau tahun terpanas lainnya menunjukkan bahwa kemarau basah akan berlangsung hingga awal musim hujan (2005) atau kemarau kering yang relatif pendek.
Pada Juni dan Juli 2005 tercatat bahwa Jakarta mengalami banjir akibat intensitas hujan tinggi. Selain itu, jumlah titik api akibat kebakaran hutan pada musim kemarau tahun-tahun tersebut relatif sedikit dibandingkan tahun lainnya.
Apabila hal ini terjadi pada tahun ini, akan menguntungkan delegasi Indonesia menghadapi konferensi COP 13 perubahan iklim pada awal Desember mendatang di Bali di mana “momok” emisi karbon Indonesia selalu membayangi.
Data terakhir menunjukkan, jumlah titik api di Sumatera dan Kalimantan pada Mei dan Juni 2007, yaitu 193 dan 400 titik, dibandingkan Mei dan Juni 2006 yang 7.956 dan 1.129 titik. Itu berarti menunjukkan penurunan luar biasa.
Sektor pangan serta energi dapat menikmati keuntungan pada tahun ini setelah kemarau panjang tahun 2006. Bagi sektor pertanian, peningkatan ketersediaan air merupakan peluang yang sangat ideal untuk meningkatkan luas tanam (area of planting), indeks pertanaman (cropping intensity), dan produktivitas (productivity).
Terlebih untuk mengejar program penambahan produksi beras 2 juta ton tahun 2007. Bagi sektor kehutanan, periode basah merupakan peluang yang sangat baik untuk menambal hutan yang gundul dan meningkatkan kualitas agroforest yang ada atau bahkan mengembangkan areal baru.
Program jangka pendek ini perlu dijadikan crash program lintas sektoral agar hasilnya lebih maksimal. Berbagai implikasi strategis akibat dampak positif iklim ini harus bisa lebih nyata kita peroleh sesuai pengalaman tahun 1998 dan 2003 yang juga relatif basah.
Edvin Aldrian, Peneliti Madya UPTHB-BPPT/ Dosen Pascameteorologi Laut Universitas Indonesia