Kadarsah

Meteorologi dan Sains Atmosfer

  • Kalender

    Juni 2007
    S S R K J S M
    « Mei   Jul »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    252627282930  
  • a

Tiga Pola Curah Hujan Indonesia

Ditulis oleh kadarsah di/pada Juni 29, 2007

Pembagian pola iklim menjadi tiga daerah di Indonesia berikut ini berdasarkan metode korelasi ganda. Pembagian pola iklim ini saya ambil dari disertasi Dr.Edvin Aldrian.

polach.png

Region atau daerah A, pola curah hujannya berbentuk huruf U ( paling kiri), sedang pola Region B, pola curah hujannya berbentuk huruf M ( tengah) dengan dua puncak curah hujan.Sedangkan pola Region C berbentuk huruf U terbalik ( kanan) atau berkebalikan dengan Region A. Garis merah merupakan curah hujan dalam milimeter sedangkan garis hitam merupakan deviasinya.

Region A: region monsoon tengara/Australian monsoon
Region B: region semi-monsoon/NE Passat monsoon

Region C :region anti-monsoon/Indonesian throughflow

Dalam literatur lain:

pola-curah-hujan-indonesia.jpg

(Bayong,1999)

Region A:Type monsoon

Region B:Type ekuatorial

Region C : Type lokal

BMG Berdasarkan distribusi data rata-rata curah hujan bulanan, umumnya wilayah Indonesia dibagi menjadi 3 (tiga) pola hujan, yaitu :

1. Pola hujan monsun, yang wilayahnya memiliki perbedaan yang jelas antara periode musim hujan dan periode musim kemarau kemudian dikelompokan dalam Zona Musim (ZOM), tipe curah hujan yang bersifat unimodial (satu puncak musim hujan,DJF musim hujan,JJA musim kemarau).

2. Pola hujan equatorial, yang wilayahnya memiliki distribusi hujan bulanan bimodial dengan dua puncak musim hujan maksimum dan hampir sepanjang tahun masuk dalam kreteria musim hujan. Pola ekuatorial dicirikan oleh tipe curah hujan dengan bentuk bimodial (dua puncak hujan) yang biasanya terjadi sekitar bulan Maret dan Oktober atau pada saat terjadi ekinoks.

3. Pola hujan lokal, yang wilayahnya memiliki distribusi hujan bulanan kebalikan dengan pola monsun. Pola lokal dicirikan oleh bentuk pola hujan unimodial (satu puncak hujan), tetapi bentuknya berlawanan dengan tipe hujan monsun.

Pa Pada kondisi normal, daerah yang bertipe hujan monsun akan mendapatkan jumlah curah hujan yang berlebih pada saat monsun barat (DJF) dibanding saat monsun timur (JJA).P Pengaruh monsun di daerah yang memiliki pola curah hujan ekuator kurang tegas akibat pengaruh insolasi pada saat terjadi ekinoks, demikian juga pada daerah yang memiliki pola curah hujan lokal yang lebih dipengaruhi oleh efek orografi .

Ga Gambar dibawah ini merupakan pola curah hujan dari BMG:

——–Pola Curah Hujan Indonesia


B

Tulisan berikut di ambil dari:http://klastik.wordpress.com/2006/12/03/pola-umum-curah-hujan-di-indonesia/

Pola umum curah hujan di Indonesia antara lain dipengaruhi oleh letak geografis. Secara rinci pola umum hujan di Indonesia dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Pantai sebelah barat setiap pulau memperoleh jumlah hujan selalu lebih banyak daripada pantai sebelah timur.
  2. Curah hujan di Indonesia bagian barat lebih besar daripada Indonesia bagian timur. Sebagai contoh, deretan pulau-pulau Jawa, Bali, NTB, dan NTT yang dihubungkan oleh selat-selat sempit, jumlah curah hujan yang terbanyak adalah Jawa Barat.
  3. Curah hujan juga bertambah sesuai dengan ketinggian tempat. Curah hujan terbanyak umumnya berada pada ketinggian antara 600 – 900 m di atas permukaan laut.
  4. Di daerah pedalaman, di semua pulau musim hujan jatuh pada musim pancaroba. Demikian juga halnya di daerah-daerah rawa yang besar.
  5. Bulan maksimum hujan sesuai dengan letak DKAT.
  6. Saat mulai turunnya hujan bergeser dari barat ke timur seperti:
    1) Pantai barat pulau Sumatera sampai ke Bengkulu mendapat hujan terbanyak pada bulan November.
    2) Lampung-Bangka yang letaknya ke timur mendapat hujan terbanyak pada bulan Desember.
    3) Jawa bagian utara, Bali, NTB, dan NTT pada bulan Januari – Februari.
  7. Di Sulawesi Selatan bagian timur, Sulawesi Tenggara, Maluku Tengah, musim hujannya berbeda, yaitu bulan Mei-Juni. Pada saat itu, daerah lain sedang mengalami musim kering. Batas daerah hujan Indonesia barat dan timur terletak pada kira-kira 120( Bujur Timur. Grafik perbandingan empat pola curah hujan di Indonesia dapat Anda lihat pada gambar dibawah ini.

Rata-rata curah hujan di Indonesia untuk setiap tahunnya tidak sama. Namun masih tergolong cukup banyak, yaitu rata-rata 2000 – 3000 mm/tahun. Begitu pula antara tempat yang satu dengan tempat yang lain rata-rata curah hujannya tidak sama.

Ada beberapa daerah yang mendapat curah hujan sangat rendah dan ada pula daerah yang mendapat curah hujan tinggi:

  1. Daerah yang mendapat curah hujan rata-rata per tahun kurang dari 1000 mm, meliputi 0,6% dari luas wilayah Indonesia, di antaranya Nusa Tenggara, dan 2 daerah di Sulawesi (lembah Palu dan Luwuk).
  2. Daerah yang mendapat curah hujan antara 1000 – 2000 mm per tahun di antaranya sebagian Nusa Tenggara, daerah sempit di Merauke, Kepulauan Aru, dan Tanibar.
  3. Daerah yang mendapat curah hujan antara 2000 – 3000 mm per tahun, meliputi Sumatera Timur, Kalimantan Selatan, dan Timur sebagian besar Jawa Barat dan Jawa Tengah, sebagian Irian Jaya, Kepulauan Maluku dan sebagaian besar Sulawesi.
  4. Daerah yang mendapat curah hujan tertinggi lebih dari 3000 mm per tahun meliputi dataran tinggi di Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, dataran tinggi Irian bagian tengah, dan beberapa daerah di Jawa, Bali, Lombok, dan Sumba.

Perlu Anda ketahui pula bahwa hujan terbanyak di Indonesia terdapat di Baturaden Jawa Tengah, yaitu curah hujan mencapai 7,069 mm/tahun. Hujan paling sedikit di Palu Sulawesi Tengah, merupakan daerah yang paling kering dengan curah hujan sekitar 547 mm/tahun.

Sebagai bahan perbandingan curah hujan di daerah lain :540 mm/tahun di Eropa sedangkan dipedalaman 1250 mm/tahun, di Pegunungan Rocky 3400 mm/tahun, di pedalaman Amerika 400 mm/tahun. Daerah yang memiliki curah hujan tertinggi di Cherrapunji 10820 mm/tahun ( selama 1860-Juli 1861 memiliki curah hujan 2646,12 mm/tahun dan selama 5 hari berturut-turut dibulan Agustus 1841 sebesar 38000 mm/tahun atau setara dengan curah hujan selama 4 tahun di New York), sedangkan di Puncak Gunung Waialeale di Kanai Tengah, Kepulauan Hawaii sebesar 1175,84 mm/tahun.

Hamada (Hamada JI, Yamanaka MD, Matsumoto J, Fukao S, Winarso PA,Sribimawati T (2002) Spatial and temporal variations of the rainy season over Indonesia and their link to ENSO. J MeteorolSoc Japan 80: 285–310) membagi Indonesia menjadi empat daerah iklim, tiga di antaranya sesuai dengan tipe diatas sedang tipe ke empat merupakan daerah peralihan yang tidak menunjukan secara jelas musim kering dan musim kemarau.

42 Tanggapan ke “Tiga Pola Curah Hujan Indonesia”

  1. Suradi berkata

    Menanggapi disertasi dr Bpk. Edvin Aldrian. Sekedar untuk bahan pertimbangn. Saya suradi di gorontalo. Berdasar data curah hujan tahun 1976 – hingga sekarang, justru daerah gorontalo, yg dlm disertasi Bpk masuk dalam tipe C, malah memiliki 2 puncak hujan dalam setahun yg berarti tipe ekuatorial (B).
    Terimakasih.

    Suradi.

  2. kadarsah berkata

    Terimakasih untuk Pak Suradi atas komentar dan konfirmasinya.
    Pertanyaan saya adalah:
    1.Apakah pola curah hujan yang memiliki 2 puncak curah hujan dalam setahun itu merupakan pola rata-rata selama 1976 s.d sekarang?

    Terimakasih
    Kadarsah

  3. Rangga berkata

    Maaf pak, saya hanya ingin bertanya. Sesungguhnya di Indonesia, khususnya daerah Banten dan DKI Jakarta pola hujan itu arahnya dari barat ke timur atau timur ke barat? Mohon penjelasannya..
    terima kasih..

  4. kadarsah berkata

    Terimakasih atas pertanyaannya.
    Pola curah hujan tidak mengarah dari barat ke timur atau timur barat, tapi kalau saatnya mulai turun hujan itu umumnya bergeser dari barat ke timur. Artinya bahwa musim hujan biasanya mulai disebelah barat kemudian di ikuti disebelah timur.

    Pola curah hujan yang terjadi di suatu daerah akan berbeda-beda bahkan untuk tiap kabupaten akan berbeda-beda masing-masing daerah yang berada didalamnya ( bisa merupakan kecamatan). Persamaan biasanya terletak pada pola yang sama misal ekuatorial,monsunal atau lokal.

  5. Riena berkata

    Kalau gitu apa fungsinya mengetahui pola hujan ?

  6. kadarsah berkata

    Secara sederhana mengetahui pola hujan di suatu daerah satu region membantu kita untuk memahami kapan musim hujan atau musim kering biasanya terjadi.
    Misalnya jika di daerah Indramayu yang termasuk daerah yang dipengaruhi oleh monsun maka secara garis besar musim hujan atau puncaknya di sekitar Desember, Januari dan Februari sedangkan musim kemarau disekitar Juni-Juli-Agustus.
    Tapi hal itu bukan patokan yang pasti sebab diperlukan pemahaman tentang bagaimana unsur lokal turut mempengaruhi serta pemanasan global yang ikut berperan.

  7. Rendra berkata

    Assalamu’alaikum…
    Numpang tanya, Hadley itu termasuk sirkulasi global apa regional ya??
    Tanya lagi, contoh2 sirkulasi lokal, regional, sama global apa aja ya??
    Tima kasih…
    Wassalamu’alaikum

  8. dodyirawan berkata

    Assalamualaikum…

    mas bisa gak di jelaskan bagaimana membuat prakiraan cuaca, khususnya hujan berdasarkan data curah hujan beberapa tahun terakhir.

    Terimakasih

  9. kadarsah berkata

    Membuat prakiraan cuaca khususnya hujan ada beberapa cara. Umumnya menggunakan model meteorologi yang dinamis(misal WRF,MM5,Eta Model,CCAM,DARLAM dlln) dan model statistik ( Arima,ANFIS,Wavelet,Tiisean).

    Untuk yang sederhana bisa menggunakan ARIMA (Autoregressive-Integreated-Moving Average) dengan memasukan data curah hujan sebelumnya dan hasilnya berupa prediksi curah hujan hanya ada beberapa persyaratan salah satunya data yang digunakan merupakan data timeseries yang stasioner.Untuk membangun model ARIMA bisa menggunakan MATLAB.

  10. [...] Terakhir kadarsah di Tiga Pola Curah Hujan Ind… dodyirawan di Tiga Pola Curah Hujan Ind… kadarsah di Pengolahan Data Curah Hujan [...]

  11. Dody berkata

    Terimakasih atas respon nya.

    Saya masih sangat awam dengan MATLAB, apalagi dengan ARIMA.
    Karena saya lulusan teknik komputer.

    aTapi pekerjaan saya saat ini menuntut saya untuk bisa menguasai itu.
    Apakan Anda memiliki e-book atau semacamnya untuk membantu saya mempelajari MATLAB dan ARIMA?

    Terimakasih.

  12. kadarsah berkata

    Di MATLAB sudah ada fitur tentang ARIMA dan kemampuan komputer sangat bermanfaat dalam pemograman MATLAB.
    Untuk e-book Matlab saya punya ada versi Indonesia dan english.
    Nanti saya kirim ke alamat email yang mana?

  13. Dody berkata

    Terimakasih sebelumnya atas segala bantuannya.

    Bisa kirim ke mumtazka@gmail.com yang versi Indonesia saja.

    Sekali lagi terimakasih

  14. Dody berkata

    Maaf sampai hari ini belum terkirim ke email saya.

    Terimakasih.

  15. kadarsah berkata

    Sudah dikirim

  16. Otniel berkata

    Maaf saya ambil datanya untuk tugas Geografi

  17. iis berkata

    ass.. Wr.Wb
    Pak saya mau bertanya ,
    1 Apa nama alat yang digunakan untuk mengukur curah hujan pada setiap DPM saat ini?
    2 Apakah pemodelan yang dilakukan oleh BMKG masih menggunakan ARIMA?

  18. kadarsah berkata

    1.Alat penakar hujan (rain gauge) ada yang secara otomatis dan manual, sebagian ada yang menggunakan AWS (Automatic Weather System).

    2.Pemodelan ada yang menggunakan:ARIMA,ANFIS,Regresi linier,Wavelet, ARPEGE,CCAM.

  19. boedi berkata

    Ass… wr wb.

    Saya sedang menyelesaikan jurnal saya yg kbtln mengambil lokasi di Kab.Temanggung-Kendal-Magelang,akan tetapi data ttg curah hujan yg saya punyai blm up-to-date. Kalau Bapak berkenan mohon bantuannya data curah hujan 10th terakhir (jml BK dan BB tiap tahunnya,untuk menentukan nilai Q). Alamat mail saya : “real_pambudi@yahoo.co.id”
    Saya tunggu kabarnya…,terima kasih.

    Wassalam….

  20. ari berkata

    hm..blog ini memang banyak membantu.
    saya sekarang masih mempelajari hasil keluaran model MM5(domain : hujan dan arah angin) untuk wilayah Nusa Tenggara.Mohon bantuannya untuk menjelaskan karakteristik daerah tersebut dalam domain saya tersebut. khususnya untuk bulan juli tahun 2003.
    thnx

  21. RetnoSari berkata

    Saya sedang mengeksplorasi berbagai kajian dan tulisan tentang pemodelan prediksi curah hujan.
    Ada masalah yang menarik tentang data extrem yang disebabkan oleh pemanasan global dan saya belum mendapatkan kajian tentang hal itu…
    Bagaimanakah caranya untuk menangani data iklim/curah hujan extrem, mengingat hal ini akan sangat berpengaruh terhadap pemodelan prediksinya?
    Oh ya, Barangkali bpk punya info tentang buku “Indonesian Rainfall with in Hirarchy of Climate Model(Edvin Aldrian)”, dapat diperoleh/dibeli di mana (utk di Indonesia)buku tersebut?
    Terimakasih…

    Salam

    • kadarsah berkata

      Buku “Indonesian Rainfall with in Hirarchy of Climate Model(Edvin Aldrian)” ini bisa diperoleh di amazon.com. Buku tersebut tidak bebas di jual di Indonesia, disamping buku itu ada buku pemodelan lainnya hasil karya beliau.

      Dan buku tersebut sebagian membahas tentang hasil disertasi dan penelitian beliau, jika berminat saya akan bantu menghubungi beliau.

      Terimakasih

  22. nina berkata

    salam kenal

    1. pak kadarsah, boleh minta dijelaskan lagi 3 tipe pola hujan di indonesia?
    kalau boleh tolong disederhanakan kata2nya pak karena saya kurang mangerti maklum , orang awam

    2. kemudian, saya mau tanya lagi, ada pola hujan menurut seseorang, (maap lupa namanya) mengatakan bahwa pola hujan di indonesia ada 3, kemarau, hujan dan peralihan yang saya ingin tanyakan, ada pengaruh apakah antara pola hujan dan musim ya pak?

    3. adakah pengaruh perubahan iklim dengan perubahan pola hujan sehingga dapat mengakibatkan banjir di beberapa tempat. Karena terus terang saya akan menulis ttg hal tersebut untuk tesis saya

    makasih pak

    • kadarsah berkata

      a.pola hujan monsun: pola curah hujan , jika data curah hujan diplot dan dijadikan time series akan membentuk seperti huruf U, dimana titik minimum sekitar juni,juli,agustus ( saat kemarau) sedangkan maksimum disekitar DJF (desember,januari,februari).

      b. pola hujan ekuatorial: pola curah hujan , jika data curah hujan diplot dan dijadikan time series akan membentuk seperti huruf M, yang memiliki dua puncak musim hujan maksimum terjadi saat Maret dan Oktober ( ekinoks.)

      c.Pola curah hujan lokal: kebalikan dari pola curah hujan monsun.

      2.Itu yang sering kita dengar ada musim hujan (DJF=desember,januari,februari), kemarau (JJA=juni,juli,agustus) peralihan ( bulan diantaranya). Kalau menurut saya itu merupakan pembagian musim berdasarkan sifat hujan dengan sebelumnya mendefinisikan apa yang dimaksud dengan kemarau dan hujan.

      3.Jelas ada bisa dilihat di laporan IPCC dan
      http://kadarsah.wordpress.com/2008/05/29/skenario-dan-proyeksi-iklim-ipcc/
      http://kadarsah.wordpress.com/2008/04/23/sekelumit-tentang-pemanasan-global/

      perubahan itu bisa berupa:
      -intensitas menaik/menurun
      -panjangnya musim hujan mememdek/memanjang
      -curah hujan maksimum meningkat/menurun

  23. veza berkata

    1. saya mau tanya 8untuk daerah kototabang(sumatera barat) curah hujan bulanannya berapa??
    2. kalo ada info mengenai monsoon dengan angin meridional saya boleh dibagi ya.

  24. veza berkata

    mas kata dosen saya pola curah hujan ekuatorial itu seharusnya April dan oktober..

    • kadarsah berkata

      Memang di beberapa tempat terjadi pada April sehingga curah hujan ekuatorial tidak tepat pada waktu tertentu melainkan bervariasi saat mulai misal ( Maret-April-Mei=MAM) dan September-Oktober-November (SON).

  25. Yudha berkata

    Halo Pak Kadarsah, salut nih saya liat anda meladeni semua pertanyaan.

    Mau bantu sharing sedikit. Metode analisa Geo-science selalu terkekang oleh permasalahan skala, artinya analisa skala global tidak akan sama hasilnya dengan skala regional apalagi lokal, juga berlaku untuk skala waktu (analisa data 30 thn akan beda dengan hanya 5 thn). Ini terjadi karena banyak asumsi dan generalisasi yang digunakan mulai dari metode observasi, asimilasi data, teknik analisa, dll.

    Contoh mudah, dari ketiga hasil analisa pola hujan diatas, tidak ada yg sama persis. Paling jelas terlihat dari hasil Dr.Edvin dimana tidak ada pola equatorial di Indonesia Timur seperti pada hasil dari Prof.Bayong dan BMG. Banyak faktor yg bisa menyebabkan perbedaan ini, mungkin beda jumlah data, beda metode, dan yg pasti beda kepentingan. Persisnya harus tahu detil pengolahan tiga peta diatas baru bisa tahu penyebab2 utama terjadinya perbedaan ini.

    Jadi bagi saya peta2 diatas berbicara iklim(~30thn) skala regional yg tidak bisa langsung dikaitkan dengan pola2 lokal dan/atau jangka pendek. Jadi apa kegunaan praktis dari mengetahui pola2 hujan diatas ?, pertanyaan ini musti dikembalikan pada kepentingan pembuatan peta tersebut.

    Tapi bagi saya pertanyaan yg menarik ialah, bagaimana bisa ada tiga pola ?, bagaimana trend sebaran pola2 ini selama 10 tahun terakhir, apakah ada pergeseran ?, kalau ada kenapa ?, dst….

  26. kadarsah berkata

    Terimakasih atas komentar dan masukannya.

    Betul, hasil regional,global tidak bisa langsung dikaitkan dengan skala lokal karena ada beberapa alasan.

    Sebenarnya memang banyak pola , bukan hanya tiga tetapi ketiga pola itu merupakan hanya generalisasi dari pola-pola yang banyak.’
    penelitian tentang pergeseran trend pola-pola ini sudah ada yang dilakukan. Pergeseran terjadi secara horisontal maupun vertikal.

    • Yudha berkata

      Koreksi sedikit Pak Kadarsah. Generalisasi yg saya pahami ialah penggunaan rataan harian atau bulanan sebagai dasar, istilahnya pola klimatologi. Kalau BMG dan Prof. Bayong menggunakan pola klimatologi maka anda betul. Tapi tidak dengan Dr.Edvin, karena beliau menggunakan Principal Component (PC).

      Dari hasil PC, ketiga pola ini bukan generalisasi dari banyak pola, melainkan tiga pola yg paling dominan diantara banyak pola.

      • kadarsah berkata

        Apa bedanya antara generalisasi dari banyak pola dan tiga pola yang paling dominan diantara banyak pola?

      • Yudha berkata

        Kalau menghitung pola klimatologi (rataan bulanan atau harian) maka pola2 lain akan tertutupi, karena hanya akan muncul satu nilai, nah nilai ini yang sifatnya general.

        Kalau dengan PC maka pola2 lain tetap akan muncul sebagai bagian dari output, tapi biasanya yg akan dianalisa ialah pola2 yang nilai variansinya > ~10%, ini juga tidak baku. Jadi pola2 lain tidak tertutupi, hanya saja tingkat variansinya sangat rendah (<<~5%), bahkan bisa dikategorikan sebagai noise. Se-pemahaman saya kondisi seperti ini bukan generalisasi, tapi lebih tepat disebut dominasi.

      • kadarsah berkata

        Trims atas koreksinya.

  27. Andhi berkata

    mengenai ARIMA, Anda memiliki ebook panduan untuk saya lebih memahami model ini, dan juga transformasi wavelet dan model dinamis, tolong kalau punya dikirimkan ke email saya, trims

    • kadarsah berkata

      Untuk ARIMA dan Wavelet nanti saya kirimkan.
      Untuk model dinamis terdapat beberapa pilihan: MM5,WRF,Eta Model,REMO,HRM,RegCM3 dlln…silakan mau pilih yang mana dan tutorialnya ada beberapa yang tersedia lengkap di Internet.

  28. rendra, berkata

    apakah benar gambar pola hujan yang di atas dari BMG!!!
    situsnya apa ya pA’
    trims

  29. haqeem berkata

    Menarik juga masalah tipe hujan ini. Sedikit info bung …untuk SULUT sebenarnya ada 3 tipe hujan yaitu monsunal, equatorial dan lokal. Penasaran????? coba anda analisa sendiri dgn data seluruh pos hujan di SULUT dan bandingkan…

    • kadarsah berkata

      SULUT bisa jadi memiliki 3 tipe hujan(monsunal,ekuatorial dan lokal) tapi analisa ini dilakukan dengan menggunakan data seberapa lama dan metode apa yang digunakan ketika melakukan generalisasi pola-pola hujan yang ada. Di Indramayu saja dalam satu kabupaten memiliki 6 tipe pola hujan. Mungkin pendapat Sdr.Yudha diatas bisa dijadikan pijakan. Jadi tidak masalah SULUT memiliki 3 tipe hujan yang jelas dengan memaparkan metode yang digunakan serta langkah-langkah teknisnya hal tersebut bisa dipahami.

    • Yudha berkata

      Senada dengan Pak Kadarsah, ada baiknya Bung Haqeem meplubikasikan temuan tersebut di Jurnal BMKG atau Jurnal Geo-science lainnya, jika dirasa hasil2 tersebut signifikan dampaknya bagi kemajuan keilmuan meteorologi dan klimatologi di tanah air.

  30. mulkan berkata

    Mohon bantuannya pak, Bagaimana cara membuat prediksi curah hujan dengan model transformasi wavelet?Tolong kirimin ebooknya/jurnal yang berkenaan dengan itu pak. sebelumnya terimakasih pak.
    Email saya : mulkan_2004@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>