Iklim / musim di Indonesia ditentukan oleh kondisi dinamika atmosfer seperti sirkulasi angin ( monsun ) dan perkembangan suhu muka laut di sekitar wilayah Indonesia, selain itu dipengaruhi juga oleh phenomena alam skala regional dan global .
A. Sirkulasi Angin (Monsun)
Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan oleh pola tekanan di Australia dan Asia, pola tekanan ini mengikuti pola gerak tahunan matahari. Sebagai akibatnya pola angin di Indonesia umumnya adalah pola monsun, yaitu sirkulasi angin yang berubah arah hampir 180° dalam setiap tahunnya. Pola angin monsun barat yang datang dari Asia menyebabkan terjadinya musim hujan, sedangkan monsun timur yang datang dari Australia menyebabkan terjadinya musim kemarau di Indonesia.
B. Suhu muka laut
Suhu muka laut di perairan Indonesia sebagai indeks banyaknya uap air pembentuk awan di atmosfer. Jika suhu muka laut dingin uap air di atmosfer menjadi berkurang, sebaliknya jika suhu muka laut panas uap air di atmosfer banyak. Pola suhu muka laut di Indonesia secara umum mengikuti gerak tahunan matahari. Suhu muka laut di Samudera Hindia ( kecuali sebalah barat Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Nangro Aceh Darussalam ) mempunyai rentang perubahan yang cukup lebar yaitu minimum berkisar 26.0° C pada bulan Agustus hingga maksimum berkisar 31.5° C pada bulan Febrauari – Maret. Wilayah perairan lainnya umumnya mempunyai rentang perubahan lebih sempit yaitu berkisar 29.0° C hingga 31.5° C dan waktu terjadinya minimum dan maksimumnya tidak sama disetiap perairan.
C. Phenomena Global yang mempengaruhi iklim di Indonesia
1. El Nino dan La Nina
El Nino merupakan fenomena global dari sistem interaksi laut dan atmosfer yang ditandai dengan memanasnya suhu muka laut di Pasifik Equator atau anomali suhu muka laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya). Sedangkan La Nina merupakan kebalikan dari El Nino ditandai dengan anomali suhu muka laut di daerah tersebut negatif (lebih dingin dari rata-ratanya).
Berdasar intensitasnya El Nino dapat dikategorikan sebagai berikut :
a) El Nino Lemah (Weak El Nino) yaitu jika anomali suhu muka laut di Pasifik equator positif antara +0.5º C s/d +1,0º C yang berlangsung selama 3 bulan berturut-turut atau lebih.
b) El Nino sedang (Moderate El Nino) yaitu jika anomali suhu muka laut di Pasifik equator positif antara +1,1º C s/d 1,5º C yang berlangsung selama 3 bulan berturut-turut atau lebih.
c) El Nino kuat (Strong El Nino) yaitu jika anomali suhu muka laut di Pasifik ekuator positif > 1,5º C yang berlangsung selama 3 bulan berturut-turut atau lebih.
Fenomena El Nino secara umum akan menyebabkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berkurang, besar pengurangannya tergantung dari lokasi dan intensitas El Nino tersebut. Namun demikian, karena luasnya wilayah Indonesia serta posisi geografisnya yang dikenal sebagai benua maritim, maka tidak seluruh wilayah Indonesia dipengaruhi oleh fenomena El Nino.
Sedangkan La Nina secara umum akan menyebabkan curah hujan di Indonesia bertambah. Kategori La Nina sama dengan El Nino, demikian juga dampak La Nina tergantung pada lokasi dan intensitas La Nina tersebut.
2. Dipole Mode
Dipole Mode merupakan penomena intreraksi laut – atmosfer di Samudera Hindia yang dihitung dari nilai perbedaan (selisih) anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika dengan perairan di sebelah barat Sumatera. Nilai perbedaaan anomali suhu muka laut ini disebut Dipole Mode Indek ( DMI )
Jika nilai DMI positif (Dipole Mode Positif), secara umum curah hujan di wilayah Indonesia bagian barat akan berkurang. Sedangkan jika nilai DMI negatif (Dipole Mode Negatif), maka curah hujan di wilayah Indonesia bagian barat secara umum akan bertambah.
SIFAT HUJAN
Sifat hujan ditetapkan berdasar pada perbandingan antara jumlah curah hujan dalam sebulan dengan nilai rata-rata atau normalnya pada bulan yang bersangkutan di suatu tempat.
Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:
- Di Atas Normal (A) : jika nilai perbandingannya >115%
- Normal (N) : jika nilai perbandingan antara 85%-115%
- Di Bawah Normal (B) : jika nilai perbandingannya <85%
TINGKAT KETERSEDIAAN AIR
Tingkat ketersediaan air ditentukan berdasar atas kadar air antara 0% pada titik layu permanen tanaman dan 100% pada kapasitas lapang, untuk lahan yang tidak beririgasi.
Tingkat ketersediaan air dibedakan atas 3 kriteria yaitu:
- Cukup : Jika kadar air sedalam jelajah akar tanaman >60%
- Sedang : Jika kadar air sedalam jelajah akar tanaman antara 40% — 60%
- Kurang : Jika kadar air sedalam jelajah akar tanaman <40%
Conntoh peta keserdiaan air yang dikeluarkan BMG:
